Baju Tambalan Ibu

Baju Tambalan Ibu

*) Oleh: Sigit Subiantoro,
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Hargai selalu pengorbanan orang tuamu selagi masih ada, karena tidak semua anak mendapatkan kesempatan yang sama.

Suatu hari…
Zaki mengalami kecelakaan mobil. Untungnya kecelakaan itu tidak parah, dia hanya mengalami luka terkilir.

Ketika membawa mobilnya yang rusak ke bengkel, tiba-tiba dia sadar, bahwa rumah orang tuanya tidak jauh dari bengkel tersebut. Dan karena sudah cukup lama tidak menjenguk mereka, dia pun mampir ke rumah orang tuanya.

Zaki mampir ke rumah orang tuanya dan menginap semalam.

Keesokan harinya, dia melihat pakaian robeknya kemarin telah dijahit oleh ibunya. Zaki sedikit tersentuh dan kemudian bergumam, “Uangku banyak, nanti dibuang saja baju itu sesampainya di rumah.”

Namun, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Zaki pun lupa sesampainya di rumah. Dia mengenakan pakaian yang ditambal ibunya itu dan pergi ke berbagai jamuan. Bahkan berhasil mencapai kesepakatan bisnis besar yang sudah lama dinantikan.

Setelah sibuk sampai malam, tiba-tiba dia baru menyadari masih mengenakan pakaian yang ditambal ibunya, kemudian dia melepas pakaian itu dan dibuang ke tong sampah.

Keesokan paginya, bisnis yang dibicarakan kemarin secara resmi ditandatangani. Klien bertanya kepadanya, “Mengapa pakaian tambalan yang Anda kenakan kemarin tidak dipakai lagi hari ini?”

“O…pakaian itu mau dicuci,” sahutnya tersenyum malu.

Klien besarnya itu menepuk pundaknya dan berkata, “Anda mungkin tidak tahu, kami menandatangani kontrak dengan Anda, karena melihat tambalan kecil pada pakaian yang Anda kenakan. Dari pakaian itu, kami dapat melihat bahwa Anda adalah orang yang sederhana dan pekerja keras.

“Bagi kami, sosok yang sederhana dan pekerja keras itu jelas merupakan mitra terbaik.”

Saat pulang ke rumah, Zaki mencari pakaian tambalan itu dari tong sampah. Dia mencucinya dan menggantungnya di sudut lemari yang tidak mencolok, siapa tahu nanti berguna, gumamnya.

Satu pekan berlalu, suatu pagi saat akan berangkat kerja, Zaki didatangi 2 petugas polisi. Ternyata pada malam Ahad lalu, salah satu kliennya diculik dan dihabisi. Kawanan penculik ditangkap malam itu juga. Selama diinterogasi, mereka mengaku bahwa awalnya mereka ingin menculik Zaki, jadi pagi ini, polisi menemui Zaki untuk mengingatinya.

Sontak saja, Zaki tercengang mendengarnya, dan bertanya kepada polisi, “Lalu mengapa mereka akhirnya tidak menculikku?”

“Karena mereka melihat Anda mengenakan baju yang ditambal, lalu menduga Anda tidak sekaya yang dibayangkan, mereka berpikir tidak mungkin seorang pengusaha kaya memakai pakaian yang ditambal,” kata polisi.

Perasaan Zaki bergejolak tak menentu setelah mendengar keterangan polisi, tak disangkanya, tambalan yang tak terduga itu telah menyelamatkan nyawanya.

Setelah polisi pergi, Zaki segera mengambil pakaian itu. Dia mengelus jahitan di pakaiannya sambil membayangkan wajah ibunya, dan tanpa bisa ditahan dia pun menangis seperti anak kecil.

Kasih ibu itu bagaikan tetesan air mata, meski tak bersuara, tetapi bisa meresap sampai ke relung hati yang kering; dia biasa-biasa saja, tetapi mengandung sebuah keagungan yang luar biasa.

Kadang-kadang, ibu adalah setetes obat yang mujarab. Dapat menyelamatkan jiwa orang yang kritis.

Kadang-kadang, kasih ibu bagaikan seberkas cahaya penuntun di lautan kehidupan. Menuntun kita keluar dari kegelapan, mengikuti cahaya terang.

Siapa yang bisa mengukur dan benar-benar bisa membalas jasa dari kasih ibu yang mulia ini?

Jadilah anak yang berbakti, sering-seringlah pulang menjenguk kedua orang tuamu!

Semoga bermanfaat. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *