Hari Penyesalan
Akal manusia baru berfungsi dengan sempurna ketika azab yang dulu diragukan telah datang di hadapannya. Mereka yang dahulu menertawakan ancaman neraka kini meratap dalam penyesalan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ ءَامَنتُم بِهِۦٓ ۚ ءَآلۡـَٰٔنَ وَقَدۡ كُنتُم بِهِۦ تَسۡتَعۡجِلُونَ
“Kemudian, apakah setelah terjadinya (azab itu) baru kamu mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayainya), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?” (QS. Yunus: 51)
Saat masih hidup, mereka lebih percaya pada hal yang kasat mata. Mereka menolak perkara gaib dan menjadikan akal sebagai satu-satunya standar kebenaran. Mereka mengolok-olok peringatan para nabi dan mempertuhankan logika mereka sendiri, yang sesungguhnya terbatas dan lemah.
Kini, neraka yang mereka dustakan nyata di hadapan mereka. Panasnya menusuk hingga ke tulang, jeritan penderitaan menggema di mana-mana. Dengan penuh ketakutan, mereka memohon:
“Ya Tuhan! Kami telah salah! Kembalikan kami ke dunia, agar kami dapat beriman dan beramal saleh!”
Namun semuanya sia-sia. Kesempatan telah diberikan, peringatan telah disampaikan, tetapi mereka memilih untuk mengingkarinya.
Kini, mereka harus menerima balasan atas kesombongan dan keangkuhan mereka. Betapa bodohnya mereka dahulu, mengabaikan akal yang seharusnya menjadi petunjuk menuju kebenaran. Ketika mereka berkuasa, kekayaan melimpah, mereka justru semakin rakus.
Mereka menggusur tanah rakyat, mengkapling laut, dan menindas sesama. Kini, semua itu berbalik menjadi bencana bagi mereka sendiri.
Pantaslah jika Allah menghukum mereka dengan balasan yang berlipat-lipat, sebagai azab atas penyimpangan akal dan keangkuhan yang telah mereka pertahankan hingga ajal menjemput. (*)
Surabaya, 5 Februari 2025
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News