Dalam budaya masyarakat Indonesia, momen Lebaran bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sering kali diwarnai dengan berbagai pertanyaan yang bagi sebagian orang terasa sensitif.
Pertanyaan seperti “Kapan lulus?”, “Kapan menikah?”, atau “Sudah kerja di mana?” sering muncul dalam obrolan keluarga atau pertemuan dengan kerabat. Bagi sebagian orang, pertanyaan ini dapat menimbulkan tekanan atau ketidaknyamanan.
Untuk menghadapi situasi tersebut, Dr. Winda Hardyanti, S.Sos., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membagikan beberapa cara yang dapat dilakukan agar tetap nyaman dalam berinteraksi tanpa merasa terganggu oleh pertanyaan semacam itu.
“Kunci utama dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah dengan menerapkan komunikasi asertif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan secara jujur, tetapi tetap menghargai perasaan orang lain,” katanya.
Menurut Winda, komunikasi asertif dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yakni asertif langsung dan asertif tidak langsung.
1. Asertif Langsung
Teknik ini dilakukan dengan memberikan jawaban yang tegas namun tetap sopan. Misalnya, ketika ditanya “Kapan menikah?”, seseorang bisa menjawab dengan kalimat seperti, “Saya lebih nyaman membicarakan hal lain, tapi terima kasih sudah bertanya.” Dengan cara ini, seseorang tetap menghormati lawan bicara tanpa harus menjawab secara detail atau merasa tertekan.
2. Asertif Tidak Langsung
Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengalihkan pembicaraan ke topik lain yang lebih netral atau lebih relevan dengan suasana saat itu. Misalnya, jika ditanya “Sudah kerja di mana?”, seseorang bisa menjawab, “Ngomong-ngomong, tadi saya dengar kamu baru pindah rumah ya? Gimana suasana di tempat baru?” Dengan begitu, pembicaraan tetap mengalir tanpa harus membahas hal yang dirasa kurang nyaman.
Selain itu, bagi mereka yang memiliki hubungan akrab dengan lawan bicara, menjawab dengan candaan juga bisa menjadi strategi yang efektif. Misalnya, saat ditanya, “Kapan punya anak?”, seseorang bisa menanggapinya dengan “Lagi pesan ke langit, semoga segera dikabulkan!” Jawaban semacam ini bisa mencairkan suasana tanpa harus merasa tersudut.
Lebih lanjut, Winda menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, orang-orang yang mengajukan pertanyaan sensitif ini sebenarnya tidak benar-benar mengharapkan jawaban yang serius.
Pertanyaan tersebut sering kali hanyalah bentuk basa-basi untuk membangun hubungan sosial. Dalam teori komunikasi, konsep ini dikenal dengan Politeness Theory, di mana terdapat istilah face-saving, yaitu upaya menjaga “wajah sosial” agar tetap menjalin hubungan dengan baik.
Dalam situasi seperti ini, seseorang bisa menghadapinya dengan strategi mitigasi, yaitu memberikan jawaban yang netral untuk menghindari ketidaknyamanan. Misalnya, jika ditanya “Kapan menikah?”, seseorang bisa menjawab dengan, “Masih proses, mohon doanya saja.” Dengan jawaban ini, percakapan tetap terjaga tanpa harus membuka ruang diskusi lebih lanjut.
Di sisi lain, pertanyaan “Kapan menikah?” saat ini menjadi salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan, terutama kepada generasi muda, khususnya Generasi Z.
Dalam kajian ilmu komunikasi, hal ini bisa dikaitkan dengan teori pengurangan ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory).
“Menurut teori ini, seseorang yang bertanya tentang pernikahan atau pekerjaan sebenarnya memiliki kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian tentang kehidupan orang lain agar sesuai dengan harapan atau norma sosial yang mereka yakini,” jabarnya.
Namun, imbuh dia, bagi individu yang merasa kurang nyaman, penting untuk memiliki kesadaran bahwa tidak semua hal harus dibagikan kepada orang lain. Winda memberikan beberapa tips agar seseorang tidak merasa terbebani dengan pertanyaan-pertanyaan sensitif tersebut:
1. Meningkatkan Kesadaran Diri
Seseorang perlu memahami bahwa tidak semua aspek kehidupan harus dibuka atau dijelaskan kepada orang lain. Setiap individu memiliki batasan pribadi dalam berbagi informasi.
2. Menjaga Batasan dalam Interaksi
Seseorang harus tahu sejauh mana ia ingin membuka diri dalam suatu percakapan dan tidak perlu merasa terpaksa menjawab pertanyaan yang dianggap tidak nyaman.
3. Mengelola Pikiran agar Tidak Mudah Tersinggung
Winda menekankan pentingnya mental framing positif dalam menghadapi pertanyaan sensitif. Jika seseorang selalu menganggap pertanyaan tersebut sebagai gangguan, maka ia cenderung akan merasa malas untuk berinteraksi. Padahal, dalam banyak kasus, pertanyaan itu hanya sebatas bentuk perhatian atau kebiasaan dalam budaya berbasa-basi.
“Jangan sampai hanya karena kita takut mendapat pertanyaan sensitif, kita jadi enggan bersilaturahmi atau berinteraksi dengan orang lain. Yang harus dilakukan adalah membangun pola pikir positif. Jika kita terlalu sensitif dalam menanggapi pertanyaan, maka kita akan lebih mudah tersinggung. Padahal sering kali, pertanyaan itu diajukan hanya sebagai bagian dari interaksi sosial atau untuk membangun kedekatan,” tutupnya. (wh)