Haedar Nashir: Idulfitri Mengajarkan Pemimpin untuk Berjiwa Khalifatullah

Haedar Nashir: Idulfitri Mengajarkan Pemimpin untuk Berjiwa Khalifatullah

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir, mengingatkan untuk memanfaatkan momen Idulfitri sebagai wahana introspeksi diri, baik sebagai warga bangsa, umat, maupun tokoh bangsa.

Haedar berharap pada bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya, jiwa takwa, jiwa Abdullah, dan jiwa Khalifatullah fil Ardh senantiasa membersamai hidup bangsa Indonesia, baik dalam jiwa, alam pikiran, sikap, maupun tindakan. Sehingga, baik sebagai warga, umat, maupun tokoh bangsa, mereka akan senantiasa menebar ketakwaan yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Selain itu, Haedar menyingkap bahwa perintah berpuasa sebagai rukun Islam bergerak dalam dimensi luas, mencakup akidah, akhlak, dan muamalah duniawiyah. Ia mengatakan bahwa jika umat Muslim mengamalkan dan merenungi perintah berpuasa serta perintah Allah lainnya, baik dalam rukun Islam maupun rukun iman, maka setiap Muslim akan memancarkan kehanifannya dalam beragama.

“Sehingga, dengan beragama, manusia tidak hanya menjadi pribadi saleh sebagai buah dari ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga kesalehan itu terpancar dalam jiwanya, pikirannya, dan tindakannya. Kesalehan itu pun akan memancar ke dalam keluarga, masyarakat, kehidupan bangsa, bahkan dalam relasi kemanusiaan global,” jelas Haedar dalam Refleksi Idulfitri 1446 H pada Ahad (30/3/2025).

Dari kesalehan itulah kemudian tercipta hidup yang damai, bersatu, harmonis, dan toleran terhadap perbedaan. Berkat kesalehan itu pula, hidup menjadi bijaksana, bahkan lebih dari itu, yakni beradab.

“Hidup beradab yang akan membawa pada peradaban tinggi,” tegas Haedar.

Haedar menilai, manusia baru yang berjiwa hanif dan beragama secara hanif akan memunculkan serta menumbuhkan jiwa Khalifatullah fil Ardh, yang senantiasa memakmurkan bumi, menyejahterakan sesama, bahkan menciptakan kehidupan yang baik. Hal ini berlaku baik terhadap sesama manusia, makhluk Tuhan yang lain, maupun lingkungan semesta.

“Maka, siapa pun—baik sebagai warga, umat, lebih-lebih sebagai elite tokoh bangsa yang berkiprah dalam kehidupan kenegaraan dan berperan sebagai pemimpin negeri maupun tokoh umat—harus memiliki akhlak mulia sebagai pantulan dari kesalehan. Namun, selain itu, mereka juga harus memiliki jiwa kekhalifahan di muka bumi,” terang Haedar.

Dengan kesalehannya, setiap pemimpin bangsa dan pemimpin umat harus senantiasa berbuat yang benar, baik, dan pantas dalam kehidupan. Sebaliknya, mereka harus menjauhi hal-hal yang salah, buruk, dan tidak pantas.

“Maka, dengan kesalehan, lebih-lebih sebagai pemimpin bangsa dan umat, seseorang harus selalu menebar segala hal yang positif dalam kehidupan. Mereka harus mampu menyejahterakan, memajukan, dan mencerdaskan rakyat dengan penuh tanggung jawab,” jelasnya.

Menurut Haedar, di situlah letak manusia sebagai khalifah di muka bumi, yakni memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan kehidupan atas nama Tuhan.

Dengan kesalehan dan jiwa kekhalifahan, setiap Muslim, di mana pun dan dalam tanggung jawab apa pun, harus senantiasa membawa kemaslahatan dan tidak menimbulkan kemudaratan.

“Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, perusakan sumber daya alam, konflik, dan segala keburukan dalam kehidupan bermula dari hawa nafsu yang tidak dikendalikan oleh agama yang hanif serta kesadaran manusia sebagai Abdullah dan Khalifatullah. Maka, ketika warga dan para pemimpin bangsa memiliki jiwa sebagai Abdullah dan Khalifatullah fil Ardh, tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara akan senantiasa baik. Kehidupan pun akan senantiasa menciptakan kemajuan, kesejahteraan, kemakmuran, keadilan, dan segala hal positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” paparnya.

Selain itu, dasar negara dan konstitusi juga akan ditegakkan dengan baik apabila para pemimpin memiliki jiwa Abdullah dan Khalifatullah fil Ardh. Sebaliknya, jika jiwa kekhalifahan itu luruh, luntur, dan terkikis dari kehidupan, jiwa, serta alam pikiran kita, maka umat dan pemimpinnya akan mengalami masalah.

“Maka, saatnya Idulfitri kita jadikan tonggak dan jalan baru untuk mulai menampilkan serta memerankan diri secara hakiki sebagai insan bertakwa, yang jiwanya senantiasa dekat dengan Allah SWT sebagai hamba-Nya atau Abdullah,” jelas Haedar.

Terakhir, peran yang tidak boleh diabaikan adalah menjadi Khalifatullah fil Ardh (khalifah di muka bumi), yang senantiasa menebar kebaikan, kebenaran, keadilan, kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, serta hal-hal yang membawa kemaslahatan, sehingga kehidupan akan menjadi lebih baik.

“Semoga Idulfitri kita diterima oleh Allah dan diberkahi,” tutupnya. (wh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *