*Oleh: Zubaidi
Ketua KM3da IMM Jawa Timur
Pekikan takbir terdengar di seluruh penjuru dunia sebagai tanda datangnya hari kemenangan, hari di mana kita kembali seperti bayi yang baru lahir, suci dan bersih dari dosa dan kesalahan. Itulah esensi dari Idulfitri, saat kita berharap dosa-dosa kita diampuni dan amal ibadah kita selama Ramadan diterima oleh Allah SWT.
Secara normatif, takbir bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi merupakan pengakuan tulus atas kebesaran Allah yang telah membimbing kita melalui Ramadan dengan segala ujian dan berkahnya. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “… dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa), dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS Al-Baqarah: 185).
Firman Allah tersebut mengandung tiga hal penting. Pertama, menyempurnakan puasa berarti menyelesaikan ibadah ini dengan sungguh-sungguh, tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari syahwat, menata hati, dan memperbaiki amal ibadah. Kedua, bertakbir adalah bentuk syukur dan pengagungan atas hidayah Allah, bahwa hanya dengan pertolongan-Nya kita mampu menunaikan ibadah Ramadan. Ketiga, bersyukur menjadi ujung dari perjalanan spiritual ini, yang bukan hanya terucap dalam kata, tetapi tercermin dalam sikap dan perilaku yang lebih bertakwa, yang merupakan tujuan dari puasa.
Namun, dalam praktiknya seringkali kita menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan teori dan implementasi yang diharapkan. Banyak fenomena yang menciderai nilai suci Ramadan, yang terkadang membuat kita terheran-heran dan merenung. Lalu, bagaimana upaya kita pada hari kemenangan ini untuk tetap meraih kemenangan dan menjaga semangat Ramadan yang hakiki di bulan-bulan setelahnya?
Untuk itu, kita perlu menelaah dan meneladani nilai-nilai penting atau kunci kemenangan yang diajarkan Allah dalam surat Al-Anfal, ayat 45-47:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَٱثْبُتُوا وَٱذْكُرُوا ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (Al-Anfal: 45)
وَأَطِيعُوا ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَـٰزَعُوافَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓاۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّصَّـٰبِرِينَ (Al-Anfal: 46)
وَلَا تَكُونُواكَٱلَّذِينَ خَرَجُوا مِن دِيَـٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (Al-Anfal: 47)
Dalam ayat-ayat tersebut terdapat enam kunci penting untuk meraih kemenangan dan kesuksesan yang relevan dengan momentum Idul Fitri, sebagai ikhtiar kita untuk meraih kemenangan.
1. Istikamah
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah” (Al-Anfal: 45). Istikamah berarti tetap teguh dan tidak mundur meskipun menghadapi tantangan. Rasulullah SAW memberikan teladan saat ditawari harta, tahta, dan wanita oleh kelompok kafir Quraisy agar berhenti berdakwah, namun beliau dengan tegas menolak dan terus berdakwah hingga Allah memberikan kemenangan. Pada bulan Ramadan, kita telah dilatih untuk istiqomah dalam beribadah. Idul Fitri menjadi momentum untuk terus mempertahankan dan meningkatkan istiqomah dalam beramal, seperti membaca Al-Qur’an, salat tahajjud, bersedekah, dan amal kebaikan lainnya. Jika kita istikamah dalam beramal, insya Allah kita akan meraih kemenangan dan kesuksesan.
2. Zikrullah
“Dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berzikir dan berdoa) agar kamu beruntung” (Al-Anfal: 45). Zikrullah berarti mengingat Allah dengan hati, lisan, dan perbuatan yang sejalan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang urusan duniawi bisa mengalihkan kita dari mengingat Allah. Momentum Idulfitri adalah saat yang tepat untuk memperbanyak dzikir, baik dengan lisan, hati, maupun perbuatan, agar hidup kita lebih seimbang dan terkontrol.
3. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” (Al-Anfal: 46). Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah kunci untuk meraih kemenangan. Taat dalam segala aspek kehidupan, baik dalam hal yang kita sukai maupun tidak. Terkadang, kita hanya taat pada hal-hal yang mudah, namun enggan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya yang lebih sulit. Jika kita taat pada Allah dan Rasul-Nya, insya Allah kita akan menjadi hamba yang muttaqin dan meraih kemenangan serta kesuksesan.
4. Jangan Berselisih dan Berpecah Belah
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang” (Al-Anfal: 46). Perselisihan hanya akan menyebabkan kelemahan dan kegagalan. Jika ada perbedaan, kita kembalikan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun kita juga harus bisa saling toleransi dalam hal yang tidak disepakati. Momentum Idulfitri adalah saat untuk saling berlapang dada, memaafkan, dan bersatu. Dengan bersatu, kita bisa meraih kemenangan dan kesuksesan.
5. Sabar
“Bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang sabar” (Al-Anfal: 46). Sabar adalah kunci kelima dalam meraih kemenangan. Selama Ramadan, kita dilatih untuk sabar—menahan lapar dan dahaga, sabar dalam menahan emosi, sabar untuk tidak menggunjing, mencaci, atau memfitnah. Di Idulfitri, kita harus terus bersabar dalam taat kepada Allah, sabar dalam menghadapi ujian hidup, dan sabar dalam menjaga ibadah kita. Dengan sabar, insya Allah kita akan meraih kemenangan.
6. Ikhlas
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah” (Al-Anfal: 47). Keikhlasan adalah kunci terakhir dalam meraih kemenangan. Kita harus beribadah dan beramal hanya karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau mencari perhatian orang. Selama Ramadan, kita dididik untuk ikhlas dalam semua amal ibadah, seperti sholat, sedekah, dan membaca Al-Qur’an. Idul Fitri adalah momentum untuk meningkatkan keikhlasan kita dalam beribadah dan beramal.
Itulah enam kunci untuk meraih kemenangan dan kesuksesan dalam semangat Idul Fitri. Semoga kita semua diberi taufik dan hidayah oleh Allah untuk menjadikan enam kunci kemenangan ini sebagai pijakan hidup kita demi meraih rida Allah SWT. (*)