Islam menawarkan solusi dengan konsep ta’awun (tolong-menolong) ekonomi: zakat, infak, dan sedekah menjadi instrumen pemerataan agar jurang si kaya dan si miskin tidak terlalu lebar yang bisa melahirkan tekanan psikologis sosial.
Zakat fitrah yang baru saja kita tunaikan sebelum salat Id adalah contoh nyata: agar saudara-saudara miskin bisa ikut bergembira di hari raya dan tidak larut dalam kesedihan karena himpitan kebutuhan. Spirit kepedulian ini menyehatkan jiwa – bagi penerima, bantuan tersebut meringankan beban pikirannya, dan bagi kita yang memberi, tumbuh rasa bermakna dan bahagia. Kajian psikologi modern-pun mengiyakan, bahwa berbagi dan berderma terbukti meningkatkan kebahagiaan dan menurunkan stres karena kita merasakan purpose dalam hidup.
Maka, di hari Idul Fitri ini marilah kita teguhkan solidaritas ekonomi. Jika ada keluarga atau tetangga yang kesulitan, ulurkan bantuan. Minimal, berilah ucapan dan doa penguat agar mereka tidak merasa sendiri. Allah SWT berjanji; “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3).
Ayat tersebut mengajarkan kita optimisme bahwa jalan keluar selalu ada, sehingga jangan biarkan himpitan ekonomi membuat kita putus asa. Tetaplah berusaha, berdoa, dan andalkan pula dukungan sesama muslim.
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah, manusia adalah makhluk sosial. Kesehatan mental kita sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan lingkungan di sekitar kita. Keluarga yang harmonis, sahabat yang peduli, dan masyarakat yang suportif adalah benteng kokoh bagi kesehatan jiwa. Sebaliknya, kesepian, isolasi, konflik sosial, atau stigma akan memperburuk kondisi mental.
Pengalaman pandemi kemarin memberi pelajaran betapa berartinya interaksi sosial bagi mental. Ketika penerapan karantina dan physical distancing, banyak orang merasa terasing dan cemas. Pejabat Kemenkes RI menyatakan di masa pandemi menyebar perasaan kecemasan, ketakutan, dan tekanan mental akibat isolasi, pembatasan fisik, dan ketidakpastian. Sebuah survei oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan 68% responden mengalami masalah psikologis selama pandemi. Mayoritas, yaitu 67% lebih, merasakan gejala kecemasan dan depresi. Bahkan hampir setengah dari mereka yang depresi (48%) sempat berpikir ingin mati atau menyakiti diri – na’udzubillah!
Hal tersebut mengindikasikan betapa beratnya beban mental akibat kesendirian dan tekanan hidup selama krisis kemarin. Sebanyak 74% responden juga mengalami gejala trauma psikologis seperti waspada berlebihan, merasa sendirian dan terisolasi. Kita bersyukur, perlahan kehidupan sosial telah normal kembali, namun data tadi menjadi pengingat bahwa dukungan sosial sangat krusial.
Dalam ajaran Islam, ukhuwah (persaudaraan) dan silaturahim bukan sekadar akhlak mulia, tapi juga kebutuhan psikologis. Nabi Muhammad saw bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam saling mencintai dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, yang lain turut merasakan sakitnya dengan demam dan tidak bisa tidur” (HR. Bukhari & Muslim).
Hadis tersebut menekankan konsep empati kolektif – jika ada saudara yang menderita secara mental, lingkungan sekitarnya perlu peduli. Stigma terhadap penderita gangguan jiwa harus kita hilangkan. Jangan ada lagi anggapan bahwa depresi atau cemas hanyalah kurang iman.
Memang iman dan ibadah adalah terapi utama, namun ingatlah bahwa manusia juga butuh support system dari sesamanya. WHO mencatat bahwa remaja dengan gangguan mental sangat rentan mengalami penolakan sosial, diskriminasi, dan stigma, yang justru membuat mereka enggan mencari pertolongan dan memperburuk masalah.
Oleh karena itu, mari kita ciptakan iklim sosial yang terbuka dan menerima. Jika ada anggota keluarga atau teman yang menunjukkan gejala depresi, jangan dihakimi, tapi rangkul dan dengarkan mereka.
Idulfitri adalah momen tepat memperbaiki hubungan sosial. Setelah salat Id, tradisi kita adalah saling berkunjung, bermaafan, dan berkumpul dengan keluarga besar. Ini bukan sekadar tradisi tanpa makna – justru inilah obat sosial bagi jiwa-jiwa yang lelah.
Silaturahmi menghilangkan rasa sepi, menguatkan rasa memiliki (sense of belonging), dan memberikan dukungan emosional. Seseorang yang tadinya hampir putus asa bisa bangkit lagi semangatnya ketika bertemu saudara dan mendengar kata-kata dukungan. Jadi, marilah kita hidupkan kembali semangat kebersamaan pasca Ramadhan ini. Jangan biarkan ada yang terisolasi. Tengok tetangga yang mungkin tinggal sendiri, kunjungi kawan yang baru kehilangan, eratkan kembali tali keluarga yang mungkin kemarin sempat renggang.