Khotbah Idulfitri: Merayakan Kemenangan, Menyehatkan Jiwa

Khotbah Idulfitri: Merayakan Kemenangan, Menyehatkan Jiwa
*) Oleh : Dr. dr. Sukadiono, MM
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim

Rasulullah saw mengingatkan: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut sekaligus pesan spiritual dan psikologis: memutus hubungan hanya akan membawa sengsara, sedangkan menyambung kasih sayang membawa berkah dan kesehatan jiwa.

Hadirin yang bijak dalam memanfaatkan waktu, tak dapat kita pungkiri bahwa di era sekarang media sosial telah menjadi bagian besar dari kehidupan. Dari anak-anak hingga dewasa, banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di gawai untuk scrolling media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan lain-lain. Media sosial bak pisau bermata dua: ada manfaatnya dalam menyebarkan silaturahim dan informasi, namun tak sedikit mudaratnya bagi kesehatan mental jika digunakan secara berlebihan atau tanpa bijak.

Statistik menunjukkan betapa intensnya penggunaan media sosial, khususnya di Indonesia. Rata-rata penduduk Indonesia menghabiskan sekitar 3 jam per hari di media sosial, bahkan termasuk peringkat tertinggi di dunia dan jauh di atas rata-rata global.

Bagi kalangan remaja, media sosial sudah seperti ruang berkumpul utama mereka. Namun, apa dampaknya terhadap jiwa? Penelitian-penelitian psikologi belakangan ini memberi peringatan keras. Sebuah studi yang dikutip Fakultas Psikologi Unair menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari 3 jam per hari memiliki risiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental. Waktu penggunaan yang berlebihan dikaitkan dengan peningkatan gejala depresi dan kecemasan pada remaja. Hal ini terutama disebabkan oleh fenomena perbandingan sosial dan cyberbullying di dunia maya.

Remaja yang tiap hari melihat postingan kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” dapat merasa rendah diri dan kurang berharga, apalagi jika mereka menjadi korban ejekan atau perundungan daring. Penelitian Primack et al. (2017) misalnya, menunjukkan kaitan kuat antara intensitas penggunaan media sosial dengan meningkatnya depresi pada anak muda, sebagian besar akibat membandingkan diri dengan orang lain di internet. Bahkan 46% remaja dalam sebuah survei di Amerika mengaku media sosial membuat mereka merasa lebih buruk tentang citra tubuh mereka.

Media sosial juga kerap menjadi ajang hoaks dan kabar negatif yang dapat memicu kepanikan dan emosi negatif berantai. Berapa banyak dari kita yang merasa mood terganggu setelah membaca komentar pedas atau berita buruk di timeline? Kecanduan media sosial pun nyata adanya: setiap notifikasi dan like memberikan dopamin sesaat yang membuat kita ketagihan, tapi jangka panjang mengikis kemampuan kita menikmati hal-hal sederhana.

Ironisnya, media sosial yang dimaksudkan untuk “sosial” justru bisa membuat orang anti-sosial di dunia nyata dan merasa kesepian. Berjam-jam menatap layar bisa mengurangi waktu berinteraksi langsung dengan keluarga di rumah. Padahal, studi menunjukkan mereka yang mengurangi penggunaan media sosial cenderung lebih bahagia dan kurang depresi dibanding yang terus-menerus online.

Lantas, bagaimana Islam memandu kita dalam hal ini? Islam mengajarkan prinsip wasathiyyah (moderasi) dalam segala hal. Waktu adalah amanah Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Menghabiskan waktu yang berlebihan di media sosial tanpa manfaat jelas akan merugikan, apalagi jika sampai melalaikan ibadah dan kewajiban. Al-Qur’an mengingatkan:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran” (QS. Al-‘Asr [103]: 1-3).

Ayat tersebut menegur kita agar tidak menyia-nyiakan waktu. Gunakan media sosial seperlunya, misalnya untuk silaturahim dengan kerabat jauh, berdakwah menyebar konten positif, atau mencari pengetahuan. Hindari tenggelam dalam scroll tanpa tujuan.

Selain itu, hindarilah ghibah (menggunjing) dan debat kusir di media sosial yang hanya menambah dosa dan stress. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak dari prasangka… dan janganlah kalian saling menggunjing satu sama lain” (QS. Al-Hujurat [49]:12).

Ayat tersebut sangat relevan di era medsos: jangan mudah berprasangka buruk melihat postingan orang, dan jangan ikut-ikutan mem-bully atau menyebar aib. Tahan jempol kita dari menulis komentar kasar. Ingat, yang kita hadapi di balik layar adalah manusia nyata yang punya perasaan.

Bagi para orang tua, mari awasi dan dampingilah penggunaan media sosial anak-anak kita. Jangan biarkan anak larut di dunia maya tanpa bimbingan. Jadilah teladan dengan juga membatasi waktu kita di gawai saat bersama keluarga. Ajak anak untuk melakukan kegiatan offline yang menyenangkan: olahraga, bermain di luar, hobi kreatif, dan tentu saja ibadah berjamaah. Seperti saran pakar, dukungan sosial nyata dari keluarga dan teman dapat mengurangi dampak negatif media sosial. Artinya, jika anak mendapat kenyamanan berkomunikasi dan curhat di dunia nyata, ia tak akan lari mencari pelarian sepenuhnya ke dunia maya.

Momentum Idulfitri ini sangat baik untuk detoks digital sejenak. Saat berkumpul keluarga, kita taruh HP, kita fokus bercengkerama, menyambung rasa. Toh, semua “dunia maya” bisa menunggu sehari; yang di depan mata inilah yang lebih berharga. Manfaatkan momen ini untuk menguatkan kembali hubungan nyata. Setelah itu, kita bisa membuat resolusi pasca Ramadhan: mengontrol penggunaan medsos agar lebih proporsional. InsyaAllah, jiwa kita akan lebih tenang dan waktu kita lebih berkah.

Menjaga Kesehatan Mental Pasca Ramadan

Jamaah yang berbahagia, setelah memahami berbagai tantangan kesehatan mental dari sisi ekonomi, sosial, pendidikan, dan pengaruh media, kini pertanyaannya: apa yang bisa kita lakukan?

Idulfitri menandai kemenangan kita melawan hawa nafsu selama sebulan. Kemenangan ini perlu kita teruskan dengan menjaga apa yang sudah kita latih di bulan Ramadan untuk kesehatan mental kita sepanjang tahun. Berikut beberapa langkah yang bisa kita upayakan bersama:

1. Perkuat Spiritualitas dan Ibadah

Ramadan melatih kita dekat dengan Allah. Lanjutkan kebiasaan baik seperti shalat tepat waktu, tilawah Quran, zikir pagi petang. Spiritualitas yang kuat terbukti memberikan ketangguhan mental. Jiwa yang selalu ingat Allah akan lebih tenang menghadapi masalah (QS. Ar-Ra’d [13]: 28). Ketika stres melanda, ambil wudhu dan shalatlah dua rakaat memohon petunjuk. Inilah coping mechanism terbaik bagi muslim.

2.Bina Hubungan Sosial yang Positif

Teruskan silaturahim tidak hanya di hari raya. Luangkan waktu rutin bertemu keluarga atau teman. Jadilah pendengar yang baik bagi kerabat yang curhat masalahnya. Dukungan sosial adalah obat mujarab untuk depresi. Jangan ragu juga untuk meminta bantuan atau sekadar bercerita kepada orang yang Anda percayai ketika beban terasa berat. Kita tidak ditakdirkan memanggul beban sendirian; ada Allah dan ada saudara seiman yang siap menopang.
3. Jaga Pola Hidup Sehat

Kesehatan fisik dan mental saling berkaitan. Tetaplah jaga pola makan seimbang meski lebaran penuh hidangan lezat; jangan berlebihan. Lanjutkan kebiasaan olahraga ringan yang mungkin sudah mulai saat puasa. Olahraga terbukti melepas hormon endorfin yang meningkatkan mood. Istirahat yang cukup, jangan balik lagi ke pola bergadang tak tentu. Tubuh lelah rentan membuat pikiran negatif.

4. Bijak dalam Pendidikan dan Karier

Untuk para pelajar, hadapi tahun ajaran atau semester baru dengan semangat seimbang. Kejar prestasi, tapi ingat atur waktu rekreasi. Untuk para orang tua dan pendidik, ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan suportif. Hargai setiap usaha anak, bukan semata hasil. Tekankan pada mereka bahwa kegagalan bukan akhir dunia, tapi bagian dari proses belajar. Dengan mindset demikian, anak akan tumbuh tangguh dan tidak mudah stres menghadapi tantangan.

5. Atur Konsumsi Media dan Informasi

Pasca Ramadan, mari tetap filter tontonan dan bacaan kita. Hindari kembali larut dalam hiburan yang tidak bermutu apalagi merusak jiwa. Sesuaikan lagi penggunaan gadget: kurangi scrolling tak perlu, perbanyak interaksi di dunia nyata. Jika memungkinkan, tetapkan “puasa media sosial” berkala, misal sehari dalam seminggu tanpa medsos, untuk menyegarkan mental kita.

6.Kenali Batas dan Cari Bantuan Profesional bila Perlu

Islam mengajarkan “laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha” – Allah tidak membebani di luar kesanggupan (QS 2:286).

Jika merasa beban hidup atau emosi Anda sudah tak tertanggungkan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Berkonsultasilah dengan psikolog atau psikiater. Ini tidak menunjukkan lemah iman; justru ikhtiar ini bagian dari tawakal dan usaha. Alhamdulillah, pemerintah melalui Kemenkes telah menyediakan layanan konseling online maupun di Puskesmas untuk kesehatan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *