Khotbah Jumat: Menumbuhkan Masyarakat Muslim dengan Karakteristiknya

Khotbah Jumat: Menumbuhkan Masyarakat Muslim dengan Karakteristiknya
*) Oleh : Noor Hudawan, S.Pd., M.Pd.I
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur

Peradaban yang besar ini–sekarang dan esok hari–tidaklah berbentuk peradaban “Arab”. Selamanya akan tetap “islami”.  Bahkan Ia juga akan berbentuk “nasionalisme yang sesungguhnya”, dalam peradaban “keakidahan”.

Mereka semua berada di dalam derajat yang sama dan disatukan dengan satu ikatan kecintaan, dengan satu perasaan yang memiliki tujuan akhir yang sama. Mereka semua akan mengerahkan segenap sisi lebih dari karakteristik mereka. Mencurahkan segala pengalaman individu dan kebangsaan serta kesejarahan mereka demi pembangunan masyarakat yang manunggal ini.

Masyarakat yang di dalamnya mereka duduk sama rendah, diikat oleh ikatan ketuhanan mereka yang satu. Sisi kemanusiaan mereka muncul dengan tegas tanpa ada kendala yang menghalanginya. Satu masyarakat yang tidak ada bandingannya sepanjang sejarah manusia. Bahkan ikatan kecintaan Allah tergambar dalam kebersamaan mereka (surah As-Shaf 61:4)

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهِ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Jamaah yang disayang Allah

Dalam perjalanan sejarah kemanusiaan kuno, kita mendapati Kekaisaran Romawi sebagai satu masyarakat besar yang paling masyhur. Berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit berkumpul dalam masyarakat ini, tetapi tidak dalam ikatan kemanusiaan yang suci, tidak tergambar dalam nilai luhur akidah. Justru masyarakat ini dibangun atas dasar kelas, yakni kelas mulia dan hamba. Ini di satu sisi.

Di sisi lain, masyarakat ini dibangun pula atas dasar pemuliaan bangsa Romawi-secara umum dan penghambaan seluruh bangsa lainnya. Karena itu, masyarakat ini tidak sebanding dengan masyarakat Islam. Bahkan, ia tidak menghasilkan apa yang pernah dihasilkan oleh masyarakat Islam.

Dalam sejarah modern pun kita mendapati masyarakat lainnya, seperti Kerajaan Inggris Raya. Akan tetapi, sebagaimana halnya masyarakat Romawi, masyarakat ini dibangun atas dasar imperialisme kebangsaan. Atas dasar pemuliaan bangsa Inggris di hadapan bangsa lainnya. Tidak jauh berbeda halnya dengan seluruh imperium Eropa lainnya, seperti Kerajaan Spanyol, Portugal, Prancis, yang semuanya didasarkan pada nafsu berkuasa manusia yang nista.

Kemudian datang komunisme yang ingin membentuk satu masyarakat baru juga, tetapi tidak didasarkan pada kaidah kemanusiaan universal, malahan pada teori “kelas”. Masyarakat yang diinginkan komunisme ini tidak lain adalah perwujudan kembali masyarakat zaman Romawi, yang pada saat itu berdasarkan pada adanya “kelas terhormat”.

Sedangkan, pokok dari masyarakat yang dicita-citakan komunisme adalah adanya kelas “proletar”. Acuan yang menjadi semangatnya adalah rasa benci dan dengki pada kelas-kelas lainnya. Masyarakat ini tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali keburukan. Sebab, titik awal pemberangkatan masyarakat ini adalah mengedepankan sisi hewani manusia, dengan anggapan bahwa kebutuhan pokok manusia terpusatkan pada makan, tempat tinggal, dan seks. Dan, sejarah manusia tidak lain adalah sejarah manusia mencari makan.

Lain halnya dengan Islam, satu-satunya manhaj ketuhanan yang selalu mengedepankan dan mengutamakan pemuliaan karakteristik manusia sebagaimana seruan Allah dalam surah al Hujurat 49:13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.

Demikianlah karakteristik manusia (insan) tertinggi yang mengedepankan sisi Ketuhanan Yang Maha Esa dalam memelihara kepatuhan dirinya. Semoga bermanfaat.

أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيم.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *