Allah SWT memberikan pengingat kepada umat-Nya tentang pentingnya jihad dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam firman-Nya, Allah menegur manusia dengan pertanyaan reflektif: “Apakah kalian mengira akan masuk surga begitu saja tanpa melalui ujian jihad, tanpa menunjukkan keteguhan, serta kesabaran dalam menghadapi segala konsekuensinya?”
Jihad, dalam konteks ini, bukan sekadar peperangan fisik, melainkan sebuah perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati dan pengorbanan dalam menjalankan perintah Allah.
Hal ini disampaikan secara tegas oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr. KH. Saad Ibrahim, dalam khotbah Idulfitri yang diselenggarakan di Lapangan Stadion Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan pada Senin (31/3/2025). Dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa jihad merupakan bagian integral dari ibadah dan memiliki dampak besar dalam perjalanan spiritual seorang Muslim.
Menurut Kiai Saad, konsistensi dalam menjalankan jihad akan membawa seorang Muslim kepada sunatullah, yaitu hukum alam yang ditetapkan oleh Allah.
Dia menegaskan bahwa seseorang yang berjuang dengan penuh keteguhan hati akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah.
“Ketika kita tetap teguh dalam berjihad dan menerima segala konsekuensinya dengan lapang dada, maka Allah akan memberikan pertolongan dan kemenangan yang dijanjikan,” ujar Saad.
Sebagai ilustrasi, Kiai Saad mengajak jamaah untuk meneladani peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu Perang Badar. Peristiwa ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa jihad yang dilakukan dengan keikhlasan dan kesungguhan akan menghasilkan kemenangan gemilang.
“Perang Badar adalah salah satu momen krusial dalam sejarah Islam. Pertempuran ini bukan sekadar perang biasa, melainkan perang yang menentukan masa depan umat Muslim. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa dengan penuh pengharapan kepada Allah, ‘Ya Allah, jika kami kalah dalam Perang Badar, maka tidak akan ada lagi di bumi ini yang menyembah-Mu.’ Doa tersebut dikabulkan, dan kaum Muslimin meraih kemenangan,” jelas Kiai Saad.
Dalam pertempuran tersebut, terang dia, pasukan Muslim yang hanya berjumlah sekitar 300 orang harus menghadapi pasukan Quraisy yang jumlahnya hampir tiga kali lipat lebih besar. Namun, dengan pertolongan Allah dan semangat jihad yang luar biasa, umat Islam berhasil memenangkan pertempuran tersebut.
“Kemenangan ini bukan hanya soal keberhasilan militer, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dakwah dan penyebaran agama Islam,” tegasnya.
Berkaca dari kisah Perang Badar, Saad Ibrahim mengajak umat Islam untuk mengimplementasikan semangat jihad dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, jihad di era modern tidak selalu identik dengan peperangan, melainkan dapat diwujudkan dalam bentuk perjuangan intelektual dan sosial.
“Sebagai warga negara Indonesia, kita memiliki tanggung jawab besar untuk berjihad dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta menyejahterakan rakyat. Jihad dalam konteks ini bisa dilakukan melalui berbagai sektor, baik dalam pemerintahan, pendidikan, maupun organisasi-organisasi strategis yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.
Lebih lanjut, Kiai Saad menekankan bahwa jihad dalam mencerdaskan bangsa dapat diwujudkan dengan meningkatkan kualitas pendidikan, memperjuangkan keadilan sosial, serta mendorong terciptanya kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Sementara itu, jihad dalam menyejahterakan bangsa dapat dilakukan melalui pengelolaan sumber daya yang adil, pemberantasan kemiskinan, serta pengentasan korupsi yang menjadi penyakit kronis di berbagai sektor.
Selain jihad dalam perjuangan sosial dan politik, Saad juga menyoroti pentingnya jihad dalam mengendalikan hawa nafsu.
Menurut Kiai Saad, salah satu jihad terbesar yang harus dilakukan oleh setiap individu adalah jihad melawan diri sendiri, yaitu menahan keinginan-keinginan duniawi yang dapat membawa manusia kepada kehancuran.
“Terdapat jihad yang lebih besar daripada perang, yaitu jihad dalam mengendalikan nafsu. Di bulan Ramadan, kita telah berlatih untuk menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Ini adalah bentuk nyata dari jihad,” ujarnya.
Kiai Saad menambahkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, jihad mengendalikan nafsu juga berkaitan dengan aspek moral dan etika, termasuk dalam urusan harta. Allah SWT dengan tegas melarang umat Islam untuk memperoleh harta dengan cara yang batil.
“Allah berfirman agar kita tidak memakan harta secara tidak halal. Apa yang kita konsumsi harus berasal dari sumber yang benar dan sesuai dengan ajaran Islam. Inilah bentuk jihad yang tidak boleh diabaikan,” tegasnya.
Di penghujung khutbahnya, Kiai Saad mengingatkan bahwa Indonesia adalah anugerah dari Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Dia menyebutkan bahwa negeri ini memiliki sumber daya yang melimpah, tetapi belum dikelola secara optimal akibat ulah segelintir pihak yang lebih mementingkan kepentingan pribadi.
“Indonesia ini seperti potongan surga yang diturunkan ke bumi. Namun, jika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka kita akan kehilangan berkah tersebut,” ujarnya.
Salah satu masalah yang dihadapi bangsa ini, menurut Saad, adalah maraknya korupsi yang terjadi di berbagai lini. Ia menekankan bahwa korupsi bukan hanya tindakan kriminal, tetapi juga bentuk kegagalan dalam menjalankan jihad moral.
“Banyak orang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk menumpuk kekayaan dengan cara yang tidak halal. Akibatnya, korupsi merajalela di berbagai sektor. Jika kita gagal dalam jihad melawan korupsi, maka kita juga akan gagal membangun bangsa ini,” pesannya.
Jihad bukan hanya tentang peperangan fisik, tetapi juga perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam membangun bangsa, mencerdaskan masyarakat, hingga melawan nafsu diri sendiri.
Melalui khutbahnya, Kiai Saad mengajak umat Islam untuk menginternalisasi semangat jihad dalam kehidupan sehari-hari. Jihad sejati adalah perjuangan tanpa henti dalam menegakkan kebaikan, keadilan, serta menjauhkan diri dari segala bentuk keburukan yang dapat merusak diri dan bangsa.
Oleh karena itu, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk terus berjuang, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kebaikan umat dan negaranya. (bhisma/wh)