Lebaran di Negeri Maghreb: Tradisi Unik Idulfitri di Tunisia

Lebaran di Negeri Maghreb: Tradisi Unik Idulfitri di Tunisia

Idulfitri selalu menjadi momen yang dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, termasuk di Tunisia. Meskipun tidak se-meriah perayaan Iduladha, masyarakat Muslim di Tunisia tetap merayakan hari kemenangan ini dengan cara mereka sendiri.

Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Tunisia, perayaan Idulfitri memiliki makna tersendiri, terutama dalam menjaga kebersamaan dan silaturahmi di negeri orang.

Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tunisia Naufal Sholahuddin mengungkapkan, tradisi Idulfitri di Tunisia lebih sederhana dibandingkan dengan di Indonesia. Meskipun demikian, WNI yang tinggal di sana tetap bersemangat dalam menyambut hari raya ini.

“Menurut budaya di sini, Idulfitri tetap dilaksanakan sebagai hari raya kemenangan, tetapi tidak se-meriah di Indonesia dan tidak se-eksklusif Iduladha di Tunisia. Oleh karena itu, kami, WNI atau mahasiswa Indonesia, setelah salat Idulfitri biasanya langsung bergegas ke Wisma Duta Republik Indonesia untuk bersilaturahmi dan merayakan Idulfitri bersama,” ujar Naufal dalam wawancara eksklusif pada Ahad (30/3/2025).

Berlebaran jauh dari Tanah Air tentu menghadirkan perasaan yang berbeda. Namun, bagi Naufal dan komunitas WNI di Tunisia, momen ini menjadi waktu berharga untuk mempererat kebersamaan.

“Lebaran Idulfitri kali ini merupakan momentum berharga bagi kami masyarakat Indonesia di Tunisia karena jauhnya kami dari kampung halaman. Momen ini membuat kami merasa hidup kembali. Kami menafsirkan ini lebih dalam, sehingga ketika ada teman-teman yang sedang mengalami kesulitan, diharapkan pada Idulfitri ini mereka dapat kembali merasa dikelilingi oleh keluarga,” tuturnya.

Bagi para mahasiswa dan WNI yang tinggal di Tunisia, tradisi mudik seperti di Indonesia tidak dapat dilakukan saat Idulfitri. Alasannya, masyarakat Tunisia umumnya kembali beraktivitas seperti biasa setelah salat Id.

“Karena 95% WNI di Tunisia adalah mahasiswa, mereka tidak mudik saat lebaran. Jika ingin pulang ke Indonesia, biasanya dilakukan saat musim panas, karena pada periode Mei ini kami menghadapi ujian akademik,” ungkap Naufal.

Ada satu kebiasaan unik yang melekat di masyarakat Tunisia, yakni budaya ngafe. Setelah salat Id, masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan sering menghabiskan waktu di kafe. Budaya ini merupakan pengaruh dari sejarah kolonial Prancis, di mana kafe menjadi tempat interaksi sosial yang penting.

“Budaya di sini bercampur dengan budaya Eropa, khususnya Prancis. Jika kita melihat sejarah, Revolusi Prancis juga dimulai dari kafe. Maka, tidak heran jika budaya ngafe sangat melekat di masyarakat Tunisia. Setelah salat Id, banyak yang langsung kembali bekerja, pergi ke kafe, atau melanjutkan aktivitas seperti biasa. Idulfitri di sini lebih menitikberatkan pada ibadah salat Id saja,” jelasnya.

Sebagai organisasi yang menaungi mahasiswa dan WNI di Tunisia, PCIM Tunisia berupaya untuk terus berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang berkemajuan. Naufal berharap agar PCIM Tunisia bisa semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Harapannya tentu PCIM Tunisia dapat terus berkiprah di masyarakat, melebarkan sayap-sayap Islam berkemajuan, serta menyebarkan manfaat bagi sesama,” pungkasnya.

Idulfitri di Tunisia mungkin tidak se-meriah di Indonesia, tetapi bagi WNI yang merayakannya, nilai kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi inti dari perayaan ini. Meski jauh dari tanah air, semangat Idulfitri tetap terasa di antara sesama perantau, memperkuat rasa persaudaraan dalam keberagaman. (bhisma/wh)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *