Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa di Southside Community Centre, Edinburgh, pada Senin (31/3/2025).
Diaspora Indonesia di Britania Raya, yang tergabung dalam Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR) Edinburgh serta Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Greater Edinburgh, berkumpul dalam momen spesial, yakni Halalbihalal.
Dengan mengusung tema Merajut Silaturahmi, Menguatkan Harmoni di Tanah Rantau, acara ini menjadi ajang pelepas rindu bagi mereka yang jauh dari tanah air.
Lebih dari seratus diaspora Indonesia menghadiri kegiatan ini, menandai betapa eratnya ikatan komunitas mereka. Rangkaian acara yang disusun pun penuh makna, mulai dari tausiyah, potluck makanan khas Indonesia, hingga sesi salam-salaman yang menggugah nostalgia akan suasana Idulfitri di kampung halaman.
Rindu Tanah Air dalam Sepiring Rendang dan Opor
Tak hanya kehangatan silaturahmi yang terasa, aroma masakan khas nusantara juga menyelimuti ruangan, membawa para hadirin sejenak kembali ke tanah air. Klepon, onde-onde, pastel, serta aneka gorengan tersaji sebagai kudapan.
Hidangan utama pun tak kalah menggoda—rendang dan opor ayam, dua masakan yang identik dengan Hari Raya, menjadi primadona di meja makan.
Bagi diaspora Indonesia di Edinburgh, makanan bukan sekadar santapan. Setiap suapan mengandung rasa rindu akan kampung halaman, keluarga, dan kenangan Idulfitri di Indonesia. “Melihat hidangan ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Ini lebih dari sekadar makanan, tapi juga simbol kebersamaan dan kenangan,” ujar salah seorang peserta dengan mata berbinar.
Acara ini diawali dengan sambutan Menteri Agama RI, Nasarudin Umar, yang hadir secara virtual. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya merawat nilai-nilai kebersamaan dan harmoni, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari tanah air.
Setelah itu, Ketua KIBAR Edinburgh, Nur Muhlisin, menyampaikan sambutan yang menggarisbawahi komitmen KIBAR untuk selalu mendampingi diaspora Indonesia.
Dia menyebut bahwa KIBAR telah mengadakan berbagai program selama Ramadan, seperti tarhib Ramadan, pembagian takjil gratis, kajian subuh, hingga program infak Ramadan.
“Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga bagaimana kita sebagai komunitas bisa tumbuh bersama, saling menguatkan, dan memberi manfaat bagi sesama,” tuturnya.
Sementara itu, tausiyah yang disampaikan oleh Ahmad Syauqi, mahasiswa PhD Islamic Studies and Christian-Muslim Relations di University of Edinburgh, memberikan perspektif mendalam tentang makna Idulfitri di tanah rantau.
Dia menekankan bahwa meskipun berjauhan dari keluarga, kebersamaan yang terjalin di antara sesama perantau mampu menghadirkan kehangatan dan keberkahan yang sama seperti di kampung halaman.
Lebih dari Sekadar Acara, Ini Tentang Rasa
Halalbihalal ini bukan sekadar pertemuan tahunan, melainkan sebuah tradisi yang memiliki nilai emosional mendalam bagi diaspora Indonesia.
Bagi banyak peserta, acara ini menjadi oase di tengah kesibukan hidup di negeri orang, tempat mereka bisa saling berbagi cerita, tawa, dan tentu saja, menikmati hidangan khas Indonesia yang sulit ditemui di luar negeri.
Fahmi Harits, perwakilan dari PPI Greater Edinburgh, mengungkapkan bahwa momen kebersamaan ini justru semakin mengajarkan mereka tentang rasa syukur.
“Meski jauh dari tanah air dan keluarga, justru di sinilah kita semakin menyadari betapa besar nikmat Tuhan dalam setiap kebersamaan yang kita rasakan,” katanya.
Ketua Panitia Halalbihalal, Sujatino, juga berharap acara ini dapat terus menjadi ajang mempererat persaudaraan. “Meskipun jauh dari kampung halaman, acara ini tidak hanya untuk teman-teman muslim, tetapi juga terbuka bagi siapa saja yang ingin merasakan kehangatan dan kebersamaan,” ujarnya.
Bagi diaspora Indonesia di Edinburgh, menjaga tradisi seperti halalbihalal adalah salah satu cara untuk tetap merasa dekat dengan Indonesia. Di tengah dinamika kehidupan di luar negeri, mereka terus berupaya menjaga nilai-nilai luhur yang telah menjadi bagian dari identitas bangsa.
Melalui momen seperti ini, mereka tidak hanya merayakan Idulfitri, tetapi juga menguatkan ikatan komunitas dan merajut harmoni di tanah rantau. Sebab, sejauh apapun melangkah, Indonesia tetap ada di hati, dan kebersamaan dalam budaya serta tradisi selalu menjadi penghubung yang menghangatkan jiwa.
Dengan perasaan bahagia dan perut kenyang oleh cita rasa nusantara, diaspora Indonesia di Edinburgh pun pulang dengan senyum yang mengembang, menyimpan rasa hangat yang akan terus mereka kenang hingga pertemuan berikutnya. (yusuf/wh)