PRM Cemengbakalan Sidoarjo Menggelar Salat Id, Khatib Ajak Kuatkan Kesabaran dan Syukur

PRM Cemengbakalan Sidoarjo Menggelar Salat Id, Khatib Ajak Kuatkan Kesabaran dan Syukur

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM)  Cemengbakalan Sidoarjo untuk pertama kali menggelar  Salat Idulfitri di tahun 1446 H. Salat digelar di halaman Markas Kompi Kavaleri 3/Tupai Setia Cakti atau Kikav 3/TSC Cemengbakalan Sidoarjo itu menghadirkan khatib Ustaz Ahmad Nidhom, S.Pd.I yang sehari- hari sebagi Komisioner KPU Kabupaten Sidoarjo.

Ahmad Nidhom dalam kesempatan tersebut mengajar jamaah salad id untuk menguatkan kesabaran, syukur dan melanjutkan kebiasaan baik selama berpuasa yakni menahan hawa nafsu. Karena itu semua merupakana jalan menuju ketakwaan.

Idul Fitri adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagai hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Hari ini tidak hanya dirayakan sebagai perayaan keberhasilan fisik dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu, Idul Fitri merupakan simbol keberhasilan spiritual dalam mengendalikan diri dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.

Pada bulan Ramadan, umat Islam diberi kesempatan yang luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki diri, serta meningkatkan kualitas ibadah. Ramadan menjadi momen yang penuh berkah untuk menanamkan kebiasaan baik yang seharusnya tetap dipelihara sepanjang tahun. Setelah menjalani puasa yang penuh tantangan, kita menyambut hari kemenangan ini dengan rasa syukur dan kegembiraan yang mendalam.

Sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

“… Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa) dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya menyempurnakan puasa dan mengagungkan Allah setelah kita menjalani puasa dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Setiap hari yang kita jalani selama bulan Ramadan adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan menyucikan hati dari segala dosa. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menahan diri dari perbuatan buruk, menjaga lisan dan perbuatan, serta memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan sesama.

Setelah berhasil melewati bulan Ramadan, kita dianjurkan untuk bertakbir, mengucapkan kalimat takbir sebagai tanda kemenangan, dan memanjatkan doa syukur atas petunjuk serta karunia Allah yang telah diberikan. Idulfitri bukan hanya sebagai hari raya, tetapi juga sebagai hari untuk kembali kepada fitrah kita yang suci, bebas dari dosa, dan penuh dengan harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Ramadan mengajarkan kita banyak hal. Salah satunya adalah pentingnya bersabar. Dalam puasa, kita diajarkan untuk menahan hawa nafsu, baik dalam hal makanan, minuman, maupun keinginan duniawi lainnya. Selain itu, Ramadan juga memberikan kita kesempatan untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, serta melaksanakan shalat sunnah yang mendekatkan kita lebih dekat kepada Allah. Semua amalan ini mengajarkan kita untuk memperbaiki diri dan mengutamakan kepatuhan kepada Allah dalam segala aspek kehidupan.

Namun, hari Idulfitri juga seharusnya menjadi momen introspeksi diri. Hari ini adalah hari yang tepat bagi kita untuk merefleksikan diri, memeriksa sejauh mana kita telah menjalani puasa dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan, serta merenungkan apakah kita telah menjadi pribadi yang lebih baik. Hari raya ini bukan hanya tentang pakaian baru, makanan lezat, atau pertemuan dengan keluarga dan sahabat, tetapi juga tentang kembali dalam keadaan suci, bebas dari dosa, dan saling memaafkan.

Saling memaafkan adalah salah satu nilai yang sangat ditekankan dalam Islam. Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk saling memaafkan dan membersihkan hati dari dendam atau kebencian.

Maka, mari kita manfaatkan momen ini untuk membuka hati, saling memaafkan, dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama, agar hubungan kita dengan Allah juga semakin dekat dan baik. Memaafkan bukan hanya tentang memberikan pengampunan kepada orang lain, tetapi juga tentang membersihkan hati kita dari segala rasa iri, dengki, dan kebencian yang dapat menghalangi kedamaian batin.

Selain itu, Ramadan mengajarkan kita tentang pentingnya kepedulian terhadap sesama. Umat Islam diajarkan untuk selalu peduli kepada orang-orang yang kurang beruntung, terutama dengan cara memberikan zakat, infak, dan sedekah. Di hari raya ini, penting bagi kita untuk terus menjaga dan mempererat hubungan sosial dengan berbagi kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Zakat Fitrah, yang diwajibkan pada bulan Ramadan, merupakan salah satu cara untuk membersihkan harta kita dan membantu sesama, sehingga tidak hanya kemenangan pribadi yang kita raih, tetapi juga kemenangan sosial bagi umat Islam secara keseluruhan.

Meski bulan Ramadan telah berakhir, semangat ibadah yang telah kita bangun seharusnya tidak berhenti. Idulfitri bukanlah akhir dari perjalanan spiritual kita, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih baik. Umat Islam dianjurkan untuk terus berusaha menjaga amalan baik yang telah terbentuk selama Ramadan, seperti memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, serta berbuat baik kepada sesama. Kita harus menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri secara berkelanjutan dan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah SWT.

Sementara itu, Ketua Pelaksana yang juga Ketua Majelis Pemberdayaan PCM Sidoarjo / PRM Cemengbakalan Bidang Dakwah Punto Cahyo Al Adin, M.Pd menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak, terutama Dankikav 3/TSC Kapten Kav Andrie R. Perkasa, S.T. Han sehingga pelaksanaan salat idulfitri berjalan aman dan lancar. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *