*) Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Manusia yang mendapatkan kekayaan melimpah kebanyakan berbuat ingkar. Keingkaran itu hingga membuat kerusakan tatanan sosial. Qarun merupakan contoh manusia yang dikaruniai kekayaan melimpah, tetapi justru menggunakannya untuk merusak tatanan sosial. Dengan kesombongan, ia memamerkan hartanya tanpa peduli pada kaum miskin dan enggan berbagi.
Keserakahannya membuatnya merasa tak tersentuh, hingga tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Namun, kesombongan itu berujung pada kehancuran. Sebagai balasan atas keangkuhannya, Allah menenggelamkannya bersama seluruh hartanya ke dalam perut bumi. Ini menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah alasan untuk berlaku zalim dan angkuh, yang justru berujung kehinaan dan kehancuran.
Qarun : Sang Pembangkang
Al-Qur’an memaparkan bahwa ada golongan manusia yang diberikan amanah kekayaan melimpah agar berbuat kebaikan secara meluas tetapi justru berbalik arah, dan justru berbuat kerusakan. Qarun merupakan contoh yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Hartanya melimpah tapi berbuat sewenang-wenang sehingga dia beserta hartanya ditenggelamkan ke bumi. Berikut paparan Al-Qur’an :
“Dan Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang dapat menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qasas: 81)
Di ayat lain yang juga dijelaskan bahwa Qarun sebenarnya beruntung hidup di era Nabi Musa. Namun dia tak mengambil petunjuk itu. Dia memiliki sifat melekat, di antaranya membanggakan hartanya, sehingga berbuat
dzalim dengan merusak tatanan sosial. Hal ini dinarasikan dengan baik sebagaimana firman-Nya :
” Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku zalim terhadap mereka. Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya harta yang sangat banyak, sehingga kunci-kunci gudangnya saja memerlukan beberapa orang kuat untuk membawanya. Ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu bangga”. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berusaha membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berusaha membuat kerusakan”. (QS. Al-Qasas: 76-77)
Baca juga: Elite Pemilik Kuasa dan Harta Diminta Mengerem Hasrat Tamaknya
Narasi orang-orang yang memiliki harta melimpah tapi tidak peduli pada orang lain dan selalu berbuat kerusakan bisa dideskripsikan berikut : orang-orang seperti ini adalah Qarun, seorang yang hidup di zaman Nabi Musa. Qarun memiliki harta yang sangat banyak dan kekuasaan yang besar, namun ia tidak peduli pada orang lain dan selalu berbuat kerusakan. Ia bahkan berani menentang Nabi Musa dan tidak mau mendengarkan nasihatnya.
Di zaman modern, contoh orang-orang seperti ini adalah para koruptor dan pejabat yang menggunakan kekuasaan mereka untuk menumpuk kekayaan dan berbuat kerusakan. Mereka tidak peduli pada nasib rakyat dan hanya memikirkan kepentingan pribadi mereka.
Selain itu, contoh lain adalah para pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan pribadi mereka tanpa mempedulikan dampak lingkungan dan sosial dari bisnis mereka. Mereka mungkin memiliki harta yang melimpah, namun mereka tidak memiliki hati yang peduli pada orang lain dan lingkungan.
Dalam Al-Quran, Allah SWT telah mengingatkan kita tentang bahaya dari orang-orang yang memiliki harta melimpah tapi tidak peduli pada orang lain dan selalu berbuat kerusakan. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi, setelah (dibersihkan) dari kejahatan. Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan diterima). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 56)
Melimpah Harta, tak Berempati
Orang yang berharta melimpah sehingga tak peduli pada orang miskin dan tak terdorong untuk berbuat kebaikan dengan beberapa alasan. Dia berpandangan yang salah tentang kekayaan dan kekuasaan. Mereka berpikir bahwa kekayaan dan kekuasaan mereka akan membuat mereka bahagia dan aman, namun sebenarnya hal tersebut tidaklah demikian.
Mereka seringkali terjebak dalam perangkap kekayaan dan kekuasaan, sehingga mereka tidak peduli pada orang miskin dan tidak terdorong untuk berbuat kebaikan. Mereka berpikir bahwa mereka tidak memerlukan orang lain dan bahwa mereka dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan sendiri.
Namun, sebenarnya kekayaan dan kekuasaan tidaklah dapat memberikan kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya. Kebahagiaan dan kesuksesan yang sebenarnya hanya dapat diperoleh melalui hubungan yang baik dengan Allah SWT dan dengan orang lain.
Orang yang berharga melimpah juga seringkali tidak memikirkan tentang akhirat dan tentang kepentingan mereka sesudah mati. Mereka berpikir bahwa mereka hanya memiliki satu kehidupan dan bahwa mereka harus menikmati kekayaan dan kekuasaan mereka sekarang juga.
Namun, sebenarnya kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa kehidupan yang sebenarnya adalah kehidupan di akhirat. Orang yang berharga melimpah harus memikirkan tentang akhirat dan tentang kepentingan mereka sesudah mati, dan mereka harus berusaha untuk melakukan kebaikan dan untuk memperoleh pahala yang baik di akhirat.
Dalam Al-Quran, Allah SWT telah berfirman:
“Dan tidaklah sama kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Jika kamu tidak mengetahui, maka ketahuilah bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’raf: 32)
Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa kehidupan di akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Orang yang berharga melimpah harus memikirkan tentang akhirat dan tentang kepentingan mereka sesudah mati, dan mereka harus berusaha untuk melakukan kebaikan dan untuk memperoleh pahala yang baik di akhirat. Namun dalam kenyataannya, mereka justru menjadi akar kerusakan sosial dan penghancur tatanan sosial yang sudah mapan. Para konglomerat menjadi contoh pewaris Qarun, Dimana kehidupannya melimpah dengan kekayaan. Mereka menguasai ekonomi suatu masyarakat tetapi justru menjadi akar kerusakan dan berbagai pelanggaran sosial. (*)
Surabaya, 25 Februari 2025