Gema takbir, tahlil, dan tahmid bersahutan sebagai penanda tibanya Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H / 31 Maret 2025. Setelah menjalani ibadah puasa Ramadan, banyak hikmah dan pencerahan yang dapat kita petik dalam kehidupan.
Sebagaimana kita ketahui, tujuan berpuasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa, baik dalam dimensi spiritual maupun sosial. Secara spiritual, puasa meningkatkan kesadaran akan ke-Maha Kuasaan Allah SWT serta limpahan rahmat dan nikmat-Nya, yang mendorong kita untuk beribadah dengan istikamah. Sementara itu, secara sosial, puasa membentuk karakter yang mampu menjalin relasi sosial dengan meneladani nilai-nilai akhlakul karimah.
Capaian ketakwaan ini harus didukung oleh keimanan yang kokoh. Menjalankan puasa Ramadan secara sempurna bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri untuk berinteraksi sosial dengan hati yang suci, saling memaafkan dengan penuh ketulusan, menebarkan kebermanfaatan, menjalin kebersamaan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Idulftri menjadi cerminan implementasi nilai-nilai amal saleh yang bersifat konstruktif, bukan destruktif. Amal saleh yang sejati adalah yang mampu menginspirasi melalui kebaikan, baik bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar.
Bagi orang yang beriman, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan menggetarkan kesadaran, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Anfal ayat 2.
Ketika ayat-ayat Allah dikumandangkan, keimanan akan semakin bertambah. Alam semesta, sebagai bagian dari ayat-ayat kauniyah, juga memperlihatkan keindahan dan kesempurnaan ciptaan-Nya.
Oleh karena itu, ber-Idul Fitri harus diiringi dengan rasa syukur, bukan dengan sikap kufur nikmat.
Hakikat Idulfitri mengajarkan kita untuk mengisi lembaran kehidupan dengan nilai-nilai positif, baik dalam bentuk kesalehan spiritual maupun kesalehan sosial, yang keduanya saling berkaitan dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Idulfitri bukan hanya tentang mudik, silaturahmi, atau menikmati kuliner khas lebaran, tetapi juga tentang menjaga kebersihan lingkungan agar tetap asri, indah, dan sehat.
Prosesi Lebaran yang penuh dengan nuansa persaudaraan jangan sampai dirusak oleh perilaku yang tidak beretika terhadap sampah.
Sering kali, kita tidak menyadari bahwa berbagai aktivitas selama Lebaran menghasilkan banyak sampah, baik dari sisa makanan, kemasan, maupun kebiasaan menyalakan petasan yang menghamburkan uang dan menimbulkan polusi lingkungan.
Padahal, tanpa disadari, perilaku tersebut justru mencemari lingkungan yang seharusnya tetap bersih dan nyaman.
Momen silaturahmi di Hari Raya Idul Fitri akan lebih bermakna jika kita juga menjaga kebersihan lingkungan. Budayakan kepedulian dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mengelola sampah dengan bijak.
Seorang Muslim yang telah menjalani pendidikan Ramadan selama sebulan penuh seharusnya menjadi teladan, tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan lingkungan.
Jika kita terbiasa menjaga kebersihan masjid, maka kebiasaan ini perlu diperluas ke rumah, selokan, dan fasilitas umum lainnya. Sebab, rendahnya kesadaran dalam mengelola sampah telah menjadi permasalahan di berbagai daerah.
Jika kita menganggap sampah sebagai barang bekas yang bisa dibuang sembarangan, maka hal itu merupakan awal dari bencana lingkungan.
Kenyamanan Idulfitri bisa terganggu karena kesalahan dalam mempersepsikan sampah. Bak sampah yang penuh, petugas kebersihan yang masih mudik, serta tempat pembuangan akhir yang sudah kelebihan kapasitas adalah dampak dari produksi sampah yang terus meningkat.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Ar-Rum ayat 41, yang artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Tanpa mengurangi kekhidmatan Idul Fitri, kita dapat mengambil langkah bijak dalam mengelola sampah agar tidak menimbulkan kerusakan.
Salah satunya adalah memilah sampah sejak dari rumah. Sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan ampas kopi, dapat ditempatkan di bak sampah organik atau diolah menjadi pupuk.
Sementara itu, sampah anorganik, seperti plastik, kaca, dan logam, dapat didaur ulang untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.
Budaya bersih sejatinya telah diajarkan dalam Islam melalui konsep thaharah (kesucian), yang seharusnya diterapkan tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita jadikan kebersihan sebagai budaya yang berkelanjutan, sebagai wujud dari iman dan takwa kita kepada Allah.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1446 H / 31 Maret 2025. Mohon maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya Karim. (*)