Hikmah adalah kebijakan dari Yang Maha Bijaksana yaitu Allah subhanahu wa ta’ala dan sesuatu yang istimewa dan sempurna. Setiap umat Muslim yang mendapatkan hikmah dari Allah maka termasuk sebagai orang yang beruntung.
Puasa dalam konteks agama Islam tidak hanya dianggap sebagai kewajiban ritual, tetapi juga memiliki berbagai hikmah yang mendalam.
Ibadah puasa Ramadan memiliki banyak keutamaan bagi mereka yang menjalaninya dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Berikut ini adalah keutamaan puasa Ramadan.
Pertama, puasa adalah ibadah yang ditujukan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Karena ketika seseorang berpuasa, maka ada tantangan untuk melawan hawa nafsu terhadap hal-hal yang ia sukai.
Misalnya makan dan minum di siang hari, berhubungan suami istri. Dengan demikian, hikmah dari berpuasa adalah bisa melawan hawa nafsu untuk kewajiban diri sendiri
Kedua, dengan berpuasa seseorang bisa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 183,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Ketakwaan seseorang ketika berpuasa bisa dilihat ketika orang tersebut berusaha untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan dari perbuatan berbohong.
Dalam hadis dijelaskan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903).
Ketiga, hikmah dari berpuasa adalah meringankan lalainya manusia, kerasnya hati manusia dan syahwat. Sebab, dengan berpuasa seseorang akan berusaha memperbaiki diri dengan mendekatkan diri kepada Allah sehingga membuatnya tidak lalai terhadap kewajibannya.
Namun sebaliknya, bagi manusia yang tetap menuruti syahwat maka akan membuatnya lalai, kerasnya hati, dan memenangkan hawa nafsunya.
Maksud dari hawa nafsu tersebut adalah manusia yang terlalu berlebihan ketika makan dan minum. Karena Rasulullah bersabda, yang artinya: “Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang hanya memikirkan perutnya.”
Dalam hadis dijelaskan:
ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
“Tiada tempat yang manusia isi yang lebih buruk ketimbang perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya) maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas.” (HR Ahmad).
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Untuk itu, dianjurkan untuk mengisi perut dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas.
Keempat, pelindung dari setan. Dalam buku Berpuasa Seperti Rasulullah karya Saliem Al-Hilali, dijelaskan bahwa selama Ramadan, tingkat kejahatan menurun.
Hal ini dikarenakan setan dan jin dibelenggu, sehingga tidak dapat leluasa menggoda dan merusak akhlak manusia seperti di bulan-bulan lain.
Keutamaan ini ditegaskan dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA, di mana Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفْدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْحِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُعْلَقَ مِنْهَا بَابٌ. وَنَادَي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلٌّ لَيْلَةٍ
“Pada malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin pembangkang dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, dan tidak ada satupun pintunya yang dibuka. Pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak ada satu pintunya yang ditutup, dan penyeru akan berseru ‘Hai pencari kebaikan, datanglah, dan hai pencari keburukan, berhentilah.’ Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam” (HR At-Tirmidzi)
Kelima, pengampunan dosa dari Allah SWT. Salah satu keutamaan puasa Ramadan adalah pengampunan dosa dari Allah SWT. Pengampunan ini meliputi dosa-dosa yang telah dilakukan selama setahun sebelumnya.
Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits sebagai berikut:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang puasa Ramadan karena iman dan mengharapkan ridho Allah, niscaya diampuni baginya semua dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari)
Keenam, kesempatan masuk surga Ar-Rayyan. Surga Ar-Rayyan merupakan anugerah dari Allah SWT yang dikhususkan bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa. Pintu surga ini disediakan hanya untuk mereka yang berpuasa sebagai bentuk kemuliaan dan keistimewaan dari Allah SWT.
Tidak semua orang dapat memasuki Surga Ar-Rayyan, kecuali mereka yang dengan ikhlas menjalankan ibadah puasa. Setelah para ahli puasa memasukinya, pintu tersebut akan ditutup sehingga tidak ada lagi yang dapat melewatinya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:
“Di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut ar-Rayyan. Yang masuk melalui pintu itu di hari kiamat hanyalah orang-orang yang berpuasa, yang lainnya tidak masuk lewat pintu itu. Dan diserukan saat itu, “Manakah orang-orang yang berpuasa?” Maka mereka yang berpuasa bangun untuk memasukinya, sedangkan yang lain tidak. Bilamana mereka telah masuk, maka pintu itu ditutup dan tidak ada lagi yang bisa memasukinya.”” (HR Bukhari dan Muslim)
Ketujuh, doanya mustajab. Salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa adalah ketika sedang berpuasa. Dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, umat Muslim dianjurkan untuk tidak hanya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga memperbanyak doa.
Doa yang dipanjatkan selama menjalankan ibadah puasa, insyaAllah, memiliki keistimewaan dan lebih mudah dikabulkan. Keutamaan ini juga ditegaskan dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang keistimewaan doa saat berpuasa.
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzalimi,” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).