*)Oleh: Rifka Primadiany
Bidan & Pegiat Literasi
Ramadan, bulan suci yang penuh dengan keberkahan, kesempatan emas bagi setiap umat islam untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Dalam satu bulan penuh, umat islam berpuasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Tidak sedikit manfaat dari berpuasa, salah satunya bermanfaat bagi kesehatan fisik. Namun bagaimana dampak puasa bagi ibu hamil dan ibu menyusui? Mengingat di sosial media saat ini, banyak ibu hamil dan ibu menyusui mempersiapkan diri untuk berpuasa dengan mencari kiat-kiat agar sanggup berpuasa.
Asupan nutrisi bagi ibu hamil dan ibu menyusui tidak hanya penting untuk kesehatan ibu sendiri, tetapi juga untuk pertumbuhan dan perkembangan janin serta bayi yang disusui.
Berikut dampak berpuasa bagi ibu hamil:
* Dapat Menyebabkan Hipoglikemia (Gula Darah Rendah): Berpuasa dapat menurunkan kadar gula dalam darah karena tidak adanya asupan glukosa dalam waktu yang cukup lama.
* Risiko Dehidrasi: Ibu hamil yang kekurangan cairan dapat menyebabkan sembelit, sakit kepala serta penurunan volume air ketuban yang berisiko terjadinya oligohidramnion (volume air ketuban di bawah batas normal).
* Pertumbuhan Janin Terganggu: Nutrisi yang dikonsumsi ibu akan disuplai oleh plasenta untuk asupan nutrisi janin. Dengan berpuasa 13-14 jam dapat menjadikan ibu kekurangan nutrisi. Hal ini tentu menganggu pertumbuhan janin karena asupan nutrisinya pun ikut berkurang.
* Hyperemesis Gravidarum (Mual Muntah Berlebih): Untuk ibu hamil trimester 1. Ibu hamil trimester 1 umumnya mengalami morning sickness. Berpuasa dalam kondisi morning sickness dapat memperburuk kondisi sehingga terjadinya hyperemesis gravidarum.
Lalu bagaimana dengan ibu menyusui? Seperti halnya ibu hamil, ibu menyusui juga membutuhkan nutrisi yang lebih untuk ibu dan bayinya. Terlebih bagi bayi usia 0-6 bulan yang masih bergantung sepenuhnya pada ASI sebagai sumber makanannya. Berikut dampak puasa bagi ibu menyusui:
* Produksi ASI dapat berkurang: Meskipun ASI dibentuk oleh hormon oksitoksin, namun pembentukannya mengambil dari nutrisi dalam tubuh ibu.
* Kualitas ASI berkurang: Ibu yang kekurangan nutrisi dapat menyebabkan kandungan lemak dan nutrisi dalam ASI berkurang.
* Mengalami kelelahan berlebih: Menyusui membutuhkan energi yang tidak sedikit. Penelitian dari Institute of Medicine (IOM) dan American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa ibu menyusui membakar sekitar 450-500 kalori per hari untuk memproduksi ASI, setara dengan latihan fisik intensitas sedang hingga tinggi, seperti berlari jarak jauh.
Namun bagi ibu menyusui bayi usia 6 bulan keatas lebih aman berpuasa karena bayi sudah mulai makan (MP-asi) sehingga memiliki tambahan nutrisi dari makanan dan tidak terlalu bergantung pada ASI. Ibu menyusui bayi diatas 6 bulan dikatakan lebih aman berpuasa dengan catatan produksi ASI tetap stabil, bayi sudah bisa makan dengan baik serta kondisi ibu yang sehat.
Selain itu, efek jangka panjang juga perlu diperhatikan, antara lain: kekurangan kalsium yang dapat meningkatkan risiko osteoporosis di kemudian hari, gangguan imunitas, penurunan massa otot bahkan gangguan mental.
Baca juga: Lebih dari Sekadar Lapar, Jalani Ramadan dengan Ilmu dan Kesadaran
Bagi ibu hamil dan ibu menyusui, berpuasa bukan hanya mempertimbangkan sanggup atau tidak sanggup, tetapi juga perlu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan janin dan bayi. Janin dalam kandungan memperoleh nutrisi dari ibu melalui plasenta, begitu pula bayi usia 0-6 bulan yang bergantung sepenuhnya pada ASI sebagai sumber makanannya.
Islam telah mengatur segala aspek kehidupan dengan penuh keadilan agar tidak memberatkan umatnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185).
Islam memberikan keringanan kepada siapa saja yang tidak mampu berpuasa. Ibu hamil dan ibu menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan qadha atau fidyah. Sungguh, Islam tidak menghendaki hal-hal yang bersifat destruktif. (*)