*)oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Manusia hidup dihadapkan dengan dua realitas, kekayaan dan kemiskinan. Manusia menganggap bahwa ujian kemiskinan lebih sengsara dan menderita daripada ujian kekayaan. Mereka mengganggap bahwa kemiskinan merupakan realitas kehidupan yang sangat menyengsarakan. Padahal banyak manusia justru sukses ketika ditimpa kemiskinan. Artinya ketika kondisi miskin, mereka sabar dan hubungannya dengan Allah senantiasa dekat.
Sementara banyak manusia yang justru terjerumus dan terhina ketika berada dalam limpahan kekayaan harta. Dikatakan terjerumus dan terhina karena pada saat itu, mereka justru jauh dari Allah hingga leluasa melakukan kemaksiatan.
Kekayaan dan Kemiskinan
Kita menyaksikan dua realitas yang senantiasa hadir, kemiskinan dan kekayaan. Ketika manusia diberi pilihan antara kemiskinan dan kekayaan, maka mereka kebanyakan akan memiliki hidup dalam berlimpah kekayaan. Mereka menolak kemiskinan, tak berkecukupan. Al-Qur’an menggambarkan dua realitas itu ditetapkan kepada manusia dalam rangka berpacu untuk mendekatkan diri kepada Allah. hal ini sebagaimana narasi Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَطَّعۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أُمَمٗا ۖ مِّنۡهُمُ ٱلصَّٰلِحُونَ وَمِنۡهُمۡ دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَبَلَوۡنَٰهُم بِٱلۡحَسَنَٰتِ وَٱلسَّيِّـَٔاتِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
Artinya:
Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. Al-‘A`rāf : 168)
Ketika diberi pilihan, kebanyakan manusia memiliki menjadi orang kaya dan hidup berkecukupan. Mereka membayangkan dengan kekayaan yang dimiliki mereka bisa menikmati hidup dan mudah mendapatkan segala impiannya. Al-Qur’an menggambarkan sebuah generasi yang mendapatkan limpahan kekayaan tetapi mereka justru terlibat dalam kemaksiatan karena dekat dengan kenikmatan dunia. Mendapatkan kenikmatan dunia justru melalaikannya dari hubungan baik dan harmonis dengan Sang Pemberi kekayaan.
Padahal sebelum memperoleh kekayaan harta, mereka berjanji akan berbuat baik dan menebar kebaikan dengan kekayaannya. Tetap mereka justru terlibat terlalu jauh dengan kekayaannya, hingga jauh dari apa yang diangan-angankannya. Mereka tidak memenfaatan harta, tetapi justru terjerumus dengan kekayaan yang mereka miliki. Hal ini digambarkan Allah sebagaimana firman-Nya :
فَخَلَفَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ خَلۡفٞ وَرِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ يَأۡخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا ٱلۡأَدۡنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغۡفَرُ لَنَا وَإِن يَأۡتِهِمۡ عَرَضٞ مِّثۡلُهُۥ يَأۡخُذُوهُ ۚ أَلَمۡ يُؤۡخَذۡ عَلَيۡهِم مِّيثَٰقُ ٱلۡكِتَٰبِ أَن لَّا يَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡحَقَّ وَدَرَسُواْ مَا فِيهِ ۗ وَٱلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
Artinya:
Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, “Kami akan diberi ampun”. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (QS. Al-‘A`rāf : 169)
Kemuliaan : Dekat dengan Allah
Allah memberikan anugerah kekayaan kepada manusia dalam rangka menjadi manusia yang tinggi derajatnya. Kekayaannya diarahkan untuk berbuat dan menebar kebaikan. Dia bisa membantu orang yang tak mampu, menolong pihak-pihak yang membutuhkannya. Allah sudah membimbingnya dengan mengirim utusan dan dibacakan ayat-ayat-Nya. Tetapi manusia menolak petunjuk karan condong dengan kekayaan dunia dan mengikuti keinginan hawa nafsunya. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :
وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya:
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah; maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-‘A`rāf : 176)
Realitas kekayaan ini memang menggoda bagi orang yang beriman karena menggiurkan dan menarik hati. Namun kekayaan berupa harta melimpah dan anak-anak yang banyak justru menjadikan mereka bertumpuk-tumpuk problem yang membuat mereka justru tersiksa. Hal ini dijelaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ
Artinya:
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (QS. At-Taubah : 55)
Kekayaan dan anak yang banyak justru membuat mereka terjerumus dalam kerusakan dan kehinaan. Bukankah kejahatan massif dan nyaris sempurna dilakukan oleh-mereka yang memilikikekayaan yang melimpah. Dengan kekayaan yang melimpah maka mereka leluasa berfoya-foya hingga meluas praktek kedzaliman, ketidakadilan yang menyengsarakan orang banyak.
Praktik kejahatan yang mereka lakukan justru membuatnya semakin terjerumus. Masyarakatnya merekam berbagai praktek kejahatannya. Keluarganya juga tercemar hingga menjadi perbincangan publik. Dengan kata lain, kekayaan yang mereka miliki justru membuat mereka tersiksa. Andaikata mereka dalam keadaan miskin, maka penderitaan lahir batin tidak akan mereka rasakan sebagaimana yang terjadi saat ini. (*)
Surabaya, 30 Maret 2025.