Kajian Tarhib Ramadan Berujung Kejutan, Mubaligh Muhammadiyah Disangka Kiai NU!

Kajian Tarhib Ramadan Berujung Kejutan, Mubaligh Muhammadiyah Disangka Kiai NU!

Kajian jelang Ramadhan 1446 H yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sambungrejo, Sukodono, Sidoarjo, pada Sabtu (22/2/2025), berlangsung dengan suasana yang berbeda dari biasanya.

Jika biasanya kajian diadakan di dalam masjid, kali ini panitia memilih halaman masjid sebagai lokasi acara guna mengakomodasi lebih banyak jamaah dan menciptakan suasana yang lebih terbuka.

Acara ini menghadirkan Ustaz Afifun Nidlom, S.Ag, M.Pd, MH sebagai penceramah utama dalam tausiyah Tarhib Ramadhan.

Dalam ceramahnya, dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) itu, menekankan pentingnya persiapan hati dan fisik dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Ia mengingatkan jamaah untuk senantiasa berdoa agar diberikan keberkahan sebelum Ramadan tiba.

“Salah satu doa yang diajarkan oleh para ulama agar kita dapat bertemu dengan bulan suci adalah:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً

Allahumma sallimni ila ramadhaana wa sallim lii ramadhaana wa tasallamhu minni mutaqobbalan

‘Ya Allah, sejahterakanlah aku agar sampai pada bulan Ramadan dan sejahterakanlan bulan Ramadhan untukku, serta terimalah amal ibadahku selama bulan Ramadan”.(HR Thabrani dan al-Dailami),” ujar Ustaz Nidlom.

Selain itu, ia juga mengingatkan jamaah tentang pentingnya membangun karakter dan akhlak mulia menjelang Ramadan. Beberapa poin yang disampaikannya meliputi:

Pertama, menyambut Ramadhan dengan hati gembira. “Ramadan adalah bulan penuh rahmat dan keberkahan, sehingga umat Islam hendaknya menyambutnya dengan perasaan syukur dan sukacita,” kata Ustaz Nidlom.

Kedua, menjadi pribadi yang pemaaf. Memaafkan sesama harus berasal dari hati yang tulus agar ibadah di bulan Ramadhan semakin bermakna.

“Ketiga, mempersiapkan lingkungan yang bersih dan nyaman untuk ibadah. Membersihkan rumah, masjid, atau musholla menjadi langkah penting agar tempat ibadah lebih nyaman dan khusyuk,” terang wakil sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadyah (PWM) Jatim ini.

Momen menarik dalam kajian ini terjadi ketika beberapa jamaah mengira Ustaz Afifun Nidlom sebagai seorang Kyai NU. Hal ini disebabkan karena beliau mengenakan imamah, yang identik dengan ulama-ulama Nahdlatul Ulama.

Beberapa jamaah bahkan bertanya langsung kepada beliau mengenai latar belakangnya, mengira bahwa ia memiliki hubungan dengan pesantren NU atau pernah menimba ilmu di lingkungan tradisional Nahdliyin.

Dengan santai, Ustaz Afifun tersenyum dan menjelaskan bahwa meskipun ia tidak berasal dari kalangan pesantren NU, ia menghormati semua tradisi keislaman yang berlandaskan pada ilmu dan adab.

Jamaah kemudian menyadari bahwa Ustaz Nidlom adalah seorang mubaligh Muhammadiyah yang memiliki wawasan luas tentang Islam dan mengedepankan ukhuwah Islamiyah.

Acara kajian ini ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Kiai Imam agar Ramadan tahun ini membawa keberkahan dan menjadi sarana untuk meraih ampunan dari Allah SWT.

“Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk dan mendapatkan rida-Nya,” ujar Kyai Imam yang diamini jamaah yang hadir. (chulil barory)

Comment

  • Alhamdulillah mantap pak kyai
    Muhammadiyah tidak kekurangan ulama yang mumpuni insyaallah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *