*)Oleh: Dr Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag, MA.
Ketua STIQSI Lamongan dan Sekretaris PDM Lamongan
Kami sealmamater, kuliah di perguruan tinggi yang sama. Kami berjodoh dalam cahaya, dalam doa yang kami lantunkan. Menjaga hati kami tidak melampiaskan kepada yang lain, ketika kami belum bersama. Tiada kode yang berarti. Hanya memberikan perhatian dan menolong ala kadarnya ketika dibutuhkan. Itupun bukan untuk kebutuhan kami pribadi. Bisa karena organisasi atau hal publik lainnya. Inilah kisah flashback kami.
“Marwa Suci, percayalah, aku akan selalu bersamamu menuju hijrah cahaya. Mohon jangan pernah ragukan ucapan dan janjiku ini kepadamu. Karena janjiku ini adalah juga janjiku kepada Sang Maha Pencipta. Janjiku untuk meminangmu dalam janji suci setia”.
Itulah yang diucapkan dengan tulus oleh Oqoye Khair kepada kekasihnya, Marwa Suci, setelah enam bulan sebelumnya meminangnya di hadapan calon mertuanya, kedua orang tuanya, serta keluarga inti yang mengiringinya.
Malam itu sedang bulan purnama. Langit cerah bercahaya. Malam itu sungguh sangat bersahabat memang. Tak ada mendung. Tak ada kabut. Angin semilir segar seperti mengerti perasaan dan janji suci yang memancar dari hati shaleh dan penuh cinta dari Oqoye Khair dan Marwa Suci.
Bumi dengan merdunya menyambut mereka dengan cahaya bulan yang memamerkan pantulan ombak indah lautan, aliran air sungai dan dedaunan yang menyerap cahaya. Benar-benar suasana indah yang memancar dari kedekatan alam semesta kepada Sang Maha Pencipta. Semuanya telah berada dalam sistem sunnatullah ini. Termasuk janji Oqoye Khair dan Marwa Suci.
Oqoye Khair adalah seorang pelajar agama terkemuka, karena kecerdasannya, kesantunan akhlaknya, dan kesetiaannya kepada Marwa Suci. Oqoye Khair adalah seorang yang istikamah dengan kesalehan individu dan sosialnya. Dia beribadah dalam kesendirian dan berjamaah di masjid. Dan di luar masjid, kekhusyukan kebaikannya tak pernah luntur. Ibaratnya, dia pribadi yang saleh lahir bathin.
Pencapaiannya ini sungguh adalah buah ketekunan dan keikhlasannya belajar di pesantren di desa kelahirannya, hingga dia mengenyam pengalaman belajar di beberapa negeri di Timur-Tengah, Amerika dan juga negeri Ratu Elizabeth. Yang mengagumkan darinya juga adalah kesetiaannya kepada Marwa Suci. Dia memang sangat mencintai kekasihnya itu. Dan karena itu, dia memiliki pandangannya tentang cinta yang akan tersaji dalam hikayat ini.
Marwa Suci adalah seorang gadis baik, dedikatif, penuh karya, ceria, dan energik. Setelah pengembaraannya dalam karya dan tur yang dirasakannya hanya mengejar dunia, Marwa Suci, gadis cantik yang mahir berbahasa Arab, Inggris dan Bahasa Jawa Ngapak ini akhirnya memilih untuk hijrah; hijrah ke dalam cahaya. Menurut pengakuannya, dia tetap berkarya, mengadakan tur intelektual, menghadiri undangan panitia yang ingin menikmati dari dekat buah karyanya. Namun, setelah hijrah ke dalam cahaya, yang membedakannya adalah kini seluruh niat aktifitasnya karena ingin mengabdi kepada Sang Maha Pencipta.
‘Hijrah menuju cahaya ini adalah kasih-sayang Allah kepadaku’, katanya pada suatu pagi kepada Oqoye Khair. Jika bukan karena rahmat-Nya, aku mungkin masih berada dalam tradisi Jahiliyah. Aku dulu pemuja tubuh. Aku harus cantik dengan semampai tubuhku. Niatku untuk mempercantik diri ini, tentu bukanlah untuk Tuhanku. Tetapi, agar para lawan jenis memuja-memujiku setinggi langit. Setelah itu, aku akan menemui kepuasan, yang sungguh bila kupikir hari ini, setelah berjumpa denganmu, Oqoye, kepuasaan memuja tubuh adalah semu belaka.
‘Oqoye!’, lanjutnya, ‘Sama seperti para penganut tradisi Jahiliyah pada masa Rasulullah Muhammad Saw., bisa kukatakan dengan jujur, aku adalah pemuja harta benda, pemuja materi. Aku seorang yang sungguh hedonist sekaligus materialist. Seluruh pertimbanganku dalam bertindak adalah demi kesenangan dan pemujaan materi’. Alhamdulillah, aku patut memuji Allah, Tuhanku, Tuhan alam semesta; sungguh kasih-sayang-Nya ini, adalah berkah dan nikmat yang tiada terkira untukku. Termasuk ketika Yang Maha Kasih dan Sayang telah mengirimmu untukku.’
Kawan, memang perjumpaan Marwa Suci dengan Oqoye Khair hampir tanpa rencana. Mereka diperjumpakan dalam pilihan perkuliahan dengan program studi yang sama. Dalam keyakinan keduanya inilah skenario Allah yang sedang berlaku untuk mereka, untuk semakin memantapkan mereka dalam keshalehan dan saling menguatkan dalam hijrah cahaya.
Bukan tanpa sebab bila sempat Marwa Suci berpikir, bahwa perjumpaan dengan Oqoye yang kemudian dirajutnya menjadi peresmian hubungan pertunangan agar pada saatnya kelak mereka berjanji setia menjadi pasangan suami istri, adalah merupakan sebuah ujian. Ya, ujian terberat, apakah ini adalah cobaan yang dapat menggodanya kembali ke jaman Jahiliyah, atau justru merupakan jalan yang sedang ditunjukkan Allah dalam prosesnya menuju cahaya. Dalam kebimbangan itu, Marwa Suci bersimpuh mohon petunjuk agar tetap diberkati dalam cahaya. Dan jawabannya adalah Marwa Suci mantap menerima pinangan Oqoye Khair.
Oqoye Khair sungguh mencintai Marwa Suci sepenuh jiwa raganya. Dan karena itu dia memilih untuk meminangnya dan melabuhkan kesetiaannya kepada tunangannya itu. Ya, cinta suci dalam martabat, yang menyejukkan. Cinta sehangat sentuhan angin pagi yang selalu setia mengantar orang-orang beriman menuju rumah Tuhan di keheningan malam. Cinta yang telah menjadi Kidung bagi Marwa Suci dan Oqoye Khair.