Makna Kunjungan Idulfitri: Dari Maaf ke Ukhuwah yang Erat

Makna Kunjungan Idulfitri: Dari Maaf ke Ukhuwah yang Erat

*)Oleh: Nurkhan
Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik

Salah satu tradisi yang baik dalam menjaga persaudaraan dalam Islam adalah kunjungan dari rumah ke rumah setelah menunaikan salat Idulfitri. Tradisi ini menjadi momen yang penuh berkah, di mana setiap orang saling bermaafan, mempererat silaturahmi, dan menguatkan ikatan persaudaraan.

Setelah salat Idulfitri, masyarakat biasanya berbondong-bondong mengunjungi sanak saudara, tetangga, dan sahabat. Mereka saling berjabat tangan, mengucapkan permohonan maaf, serta berbagi kebahagiaan dengan penuh keikhlasan. Dalam suasana yang penuh kehangatan ini, tersirat makna mendalam bahwa Islam mengajarkan pentingnya memelihara hubungan baik antar sesama.

Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah ibadah sosial yang membawa keberkahan. Dengan saling berkunjung, perasaan kasih sayang semakin tumbuh, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan menghilangkan prasangka serta kesalahpahaman yang mungkin pernah terjadi sebelumnya.

Dalam Islam, silaturahmi memiliki keutamaan besar. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, tradisi ini bukan hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga mendatangkan berkah dalam kehidupan.

Selain mempererat persaudaraan, tradisi kunjungan setelah salat Idulfitri juga menjadi ajang untuk menunjukkan kepedulian sosial. Bagi mereka yang kurang mampu atau yang mungkin merasa kesepian, kunjungan dari keluarga, sahabat, dan tetangga membawa kebahagiaan tersendiri. Senyuman, doa, serta sapaan hangat menjadi penghibur hati dan memperkuat rasa kebersamaan dalam masyarakat.

Dalam kunjungan ini, biasanya juga terdapat budaya berbagi hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan aneka kue tradisional. Makanan yang disajikan bukan hanya sekadar jamuan, tetapi juga simbol kehangatan dan kemurahan hati tuan rumah dalam menyambut tamu. Islam mengajarkan pentingnya berbagi rezeki, dan tradisi ini menjadi salah satu bentuk nyata dari ajaran tersebut.

Selain itu, kunjungan dari rumah ke rumah juga menjadi sarana mendidik generasi muda tentang pentingnya silaturahmi. Anak-anak yang ikut serta dalam tradisi ini akan belajar tentang adab bertamu, menghormati orang yang lebih tua, serta menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, nilai-nilai Islam dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui kebiasaan yang baik ini.

Di era modern seperti sekarang, ketika teknologi semakin mengubah cara berinteraksi, tradisi kunjungan Lebaran tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Bertatap muka secara langsung, berjabat tangan, dan saling mendoakan adalah pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh sekadar pesan singkat atau panggilan video. Momen kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan dunia, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan masyarakat tetaplah menjadi prioritas.

Dengan segala manfaatnya, menjaga tradisi kunjungan setelah salat Idulfitri bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali ajaran Islam tentang persaudaraan, kepedulian, dan kasih sayang. Semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk menjaga dan mengamalkan nilai-nilai mulia ini dalam kehidupan sehari-hari.

Hari ini adalah hari kemenangan, hari di mana kita kembali fitri, suci setelah sebulan berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan. Kunjungan saling bermaafan maaf ini memiliki makna yang dalam dalam ajaran Islam:

1. Meneladani Ajaran Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim).

Kunjungan maaf adalah bentuk silaturahmi yang diajarkan Islam. Dengan saling memaafkan, kita membersihkan hati dari dendam dan membuka pintu rezeki serta keberkahan.

2. Membersihkan Hati, Menyempurnakan Ibadah

Idul Fitri berarti “kembali kepada kesucian”. Namun, kesucian tak hanya tercapai dengan puasa dan shalat, tetapi juga dengan memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman;
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).

Dengan saling memaafkan, kita menjadi hamba yang bertakwa yang layak meraih ampunan dan surga-Nya.

3. Menguatkan Ukhuwah Islamiyah

Kunjungan maaf mengingatkan kita bahwa sebagai umat Islam, kita bersaudara. Rasulullah SAW bersabda:

“المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ”

Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (dalam kesulitan) (HR. Bukhari).

Dengan saling mengunjungi, kita mempererat ikatan persaudaraan, menghilangkan jarak, dan menebar kasih sayang.

4. Momentum untuk Memperbaiki Diri

Idul Fitri adalah awal baru. Jika selama ini ada salah, baik sengaja atau tidak, inilah saatnya memohon maaf dan memulai lembaran baru. Nabi SAW mengajarkan:

“مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ”
“Barangsiapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya, hendaklah ia meminta dihalalkan (dimaafkan), karena di sana (akhirat) tidak ada dinar maupun dirham (yang bisa menebus kesalahan).” (HR. Bukhari).

Mari jadikan kunjungan maaf ini sebagai sarana untuk:
– Membersihkan hati dari dengki dan dendam.
– Memperkuat tali silaturahmi.
– Meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu bersih, lapang dada, dan penuh kasih sayang.

Selamat Hari Raya Idulfitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *