Senin (31/3/2025) pagi, Jalan Raya Kapasan, Surabaya berubah menjadi lautan manusia. Langit yang mendung dan udara yang sejuk seolah menjadi pertanda berkah di hari kemenangan. Ribuan jamaah berbondong-bondong memenuhi dua lajur jalan, membentangkan sajadah mereka di atas aspal yang biasanya dilalui kendaraan.
Di depan Perguruan Muhammadiyah dan Pasar Kapasan, takbir berkumandang, menggema di antara gedung-gedung dan hati yang penuh syukur.
Dua lajur jalan yang biasanya ramai oleh lalu lintas kendaraan kini dipenuhi oleh ribuan jamaah yang datang dari berbagai penjuru. Mereka menggelar sajadah di atas aspal, berbaris rapi dalam saf yang panjang. Salat Idulfitri kali ini digelar tepat di depan Perguruan Muhammadiyah dan Pasar Kapasan, dua ikon yang menjadi saksi bisu atas kebersamaan umat Islam dalam merayakan Idulfitri.
Suasana haru dan kebahagiaan begitu terasa. Anak-anak dengan pakaian terbaik mereka tampak ceria, sementara orang-orang dewasa khusyuk dalam doa dan takbir. Di sela-sela shalat, beberapa jamaah terlihat saling berpelukan, mengucapkan selamat Idulfitri dan bermaafan dengan penuh ketulusan.
Setelah khotbah berakhir, jamaah mulai beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju keluarga, kerabat, dan sahabat untuk bersalaman. Di sudut-sudut jalan, para pedagang dadakan menjajakan aneka makanan dan minuman, menambah kemeriahan pagi itu.
Idulfitri di Jalan Raya Kapasan tahun ini bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga wujud nyata dari kebersamaan dan persaudaraan dalam Islam. Suasana mendung yang mengiringi salat justru membawa kesejukan bagi hati, mengingatkan bahwa setiap perayaan sejati lahir dari ketulusan dan kebersamaan.

Bukan Sekadar Perayaan
Sebagai penceramah, Ustaz Drs. Ahmad Barir, M.Si., menyampaikan pesan yang mendalam tentang makna Idulfitri dan refleksi dari ibadah di bulan Ramadan. Beliau mengungkapkan bahwa kenikmatan beribadah selama Ramadan seharusnya dapat menguatkan pengabdian kepada Allah serta meningkatkan ketakwaan dan derajat kita di hadapan-Nya.
“Idulfitri bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah kemenangan yang lebih besar daripada sekadar nilai duniawi,” katanya.
Dalam khotbahnya, Ustaz Barir menegaskan pentingnya zakat sebagai kewajiban yang telah diperintahkan dalam beberapa hadis.
“Zakat fitrah tidak hanya membersihkan jiwa, tetapi juga menjadi sarana berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan,” tegasnya.
Ustaz Barir juga mengingatkan bahaya sifat kikir dan bakhil, yang dapat mengantarkan seseorang ke neraka. Dalam surat Ali Imran ayat 180, Allah memperingatkan bahwa kikir adalah sifat yang buruk.
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kekikiran itu) baik bagi mereka. Sebenarnya, itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Sementara dalam surat An-Nisa ayat 37, disebutkan bahwa bakhil merupakan bentuk kufur terhadap nikmat Allah. “(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir serta menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.”
Allah adalah Maha Kaya, sebagaimana diingatkan dalam surat Muhammad ayat 38: “Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Allah Maha Kaya, sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (karunia-Nya). Jika kamu berpaling, Dia akan menggantikanmu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”
Dia juga mengutip surat Al-Ma’un, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Maka celakalah orang yang salat,(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,yang berbuat riya, dan enggan (memberikan) bantuan.”
Ustaz Barir mengajak jamaah untuk benar-benar memahami agama dan tidak hanya beragama secara nol besar, yakni hanya berstatus Muslim tetapi enggan tunduk pada aturan Allah.
“Ketika kita yakin dengan Islam, maka sudah seharusnya kita menjalankan agama dengan baik. Termasuk dengan berbagi dan peduli terhadap sesama,” pungkasnya. (wh)