Puasa dan Al-Qur’an Memberi Syafaat di Hari Kiamat

Puasa dan Al-Qur’an Memberi Syafaat di Hari Kiamat
*) Oleh : Ferry Is Mirza DM

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya puasa dan al-Qur’an memberi syafa’at kepada pelakunya pada hari Kiamat. Puasa berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah menahan hasrat makan dan syahwatnya, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Berkata pula al-Qur’an, ‘Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari tidur untuk qiyamullail, maka berilah aku izin untuk memberikan syafa’at kepadanya.’ Nabi bersabda, ‘Maka keduanya diberikan izin untuk memberi syafaat.’” (HR. Ahmad)

Makna dan Hikmah Hadis

Hadis ini menunjukkan bahwa puasa dan Al-Qur’an memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah. Keduanya bukan hanya sebagai bentuk ibadah yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah, tetapi juga menjadi saksi dan pemberi syafa’at bagi orang yang mengamalkannya dengan baik.

Syafaat adalah pertolongan yang diberikan kepada seseorang di hadapan Allah, agar ia memperoleh ampunan atau kebaikan di akhirat.

Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan pembelaan bagi orang yang melaksanakan keduanya dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Puasa akan menjadi saksi bahwa seseorang telah menahan diri dari makan, minum, dan syahwat demi menaati perintah Allah.

Sementara itu, Al-Qur’an akan menjadi saksi bahwa seseorang telah meluangkan waktunya untuk membaca, memahami, dan mengamalkan kandungannya, terutama di waktu malam dalam ibadah qiyamullail.

Syarat Puasa yang Mendapat Syafaat

Tidak semua puasa dapat memberikan syafa’at kepada pelakunya. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar puasa menjadi wasilah syafa’at di hari Kiamat:

1.Menjaga Akhlak Selama Puasa

  • Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dari perkataan dusta, ghibah, fitnah, serta perbuatan yang dapat merusak nilai ibadah.
  • Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

2. Menjaga Pandangan, Pendengaran, dan Perbuatan

  • Mata harus dijaga dari melihat hal-hal yang diharamkan.
  • Telinga harus dijaga dari mendengar hal yang tidak bermanfaat.
  • Tangan dan kaki harus dijaga dari melakukan perbuatan maksiat.

3. Menghindari Perbuatan yang Dapat Merusak Pahala Puasa

  • Jangan terlibat dalam pertengkaran, permusuhan, atau perbuatan zalim terhadap sesama.
  • Jangan membiarkan hawa nafsu mengendalikan diri sehingga menurunkan kualitas ibadah puasa.

4. Menggabungkan Puasa dengan Ibadah Membaca Al-Qur’an

  • Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia pada bulan ini.
  • Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an akan semakin menyempurnakan pahala puasa.
  • Qiyamullail (shalat malam) juga dianjurkan untuk dihidupkan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Keutamaan Puasa dan Al-Qur’an di Hari Kiamat

Allah menjadikan puasa dan Al-Qur’an sebagai amalan yang dapat menolong hamba-Nya di hari Kiamat. Beberapa dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan syafa’at antara lain:

  • “Demikian itu karena keagungan dan kebesaran serta ketinggian-Nya, hingga tidak ada seorang pun yang berani memberikan syafa’at kepada seseorang di sisi-Nya melainkan dengan izin dari-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)
  • “Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridai-Nya.” (QS. An-Najm: 26)
  • “Dan mereka tidak memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridai Allah.” (QS. Al-Anbiya: 28)

Ayat-ayat ini menegaskan bahwa tidak ada syafa’at tanpa izin Allah, dan syafa’at hanya diberikan kepada orang yang Allah ridhai. Oleh karena itu, seorang mukmin harus berusaha meraih keridaan Allah melalui amal ibadah yang ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah.

Puasa dan Al-Qur’an memiliki hubungan yang erat dalam membentuk karakter seorang muslim. Keduanya bukan hanya menjadi ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga menjadi saksi yang akan memberi syafaat di hari Kiamat.

Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya berusaha menjaga puasanya dari hal-hal yang merusak, serta menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupannya, terutama di bulan Ramadan.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa’at dari puasa dan Al-Qur’an di hari Kiamat. Aamiin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *