Bila bulan suci Ramadan pergi, meninggalkan kita dalam rindu yang tak terperi, Allah Yang Maha Pengasih masih menyisakan sekuntum anugerah—enam hari di bulan Syawal yang sunyi, namun sarat makna.
Bagaikan mutiara yang jatuh dari tasbih malam, ia mengundang hamba-hamba-Nya untuk merajut kembali benang-benang takwa, menyempurnakan kebahagiaan ibadah layaknya pelukis yang menyelesaikan lukisan dengan sentuhan terakhirnya.
“Barangsiapa berpuasa Ramadan lalu mengikutinya dengan enam hari puasa Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Sabda Nabi ini bagaikan embun pagi yang menyejukkan jiwa-jiwa yang haus akan pahala. Enam hari itu—boleh berturut-turut, boleh berselang-seling—ibarat enam helai daun zaitun yang dihamparkan di jalan menuju ampunan-Nya.
Setiap detiknya adalah kesempatan untuk mengikat hati kembali dengan ikatan rindu kepada Sang Khaliq, merenda doa dalam bisik-bisik sahur, dan menitikkan air mata tobat di keheningan sepertiga malam.
Enam Hari yang Melelehkan Air Mata Surgawi
Betapa agung kasih-Mu, Ya Rabb…
Engkau jadikan puasa ini sebagai jembatan emas yang menghubungkan Ramadhan dengan bulan-bulan berikutnya. Seakan Kau bisikkan:
“Wahai hamba-Ku, jika kau rindu pada aroma sujud di malam Lailatul Qadar, jika kau ingin kembali merasakan manisnya iman dalam dekapan Ramadhan, datanglah kepada-Ku dengan enam hari ini. Aku akan menyambutmu dengan seluas-luas maaf dan setinggi-tinggi derajat.”
Barangsiapa yang menjalankannya dengan ikhlas, seakan ia telah menabur benang emas di ladang akhirat. Setiap langkah kakinya akan diiringi malaikat, setiap tarikan napasnya akan tertulis sebagai zikir, dan setiap air matanya—baik yang jatuh di atas sajadah maupun yang mengalir dalam diam—akan menjadi saksi di hari tiada lagi naungan kecuali naungan Ar-Rahman.
Doa untuk Para Pencinta Syawal
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Syawal ini. Jadikanlah puasa enam hari ini sebagai pembersih hati yang mengkarat, penyempurna pahala yang kurang, dan pengangkat derajat di sisi-Mu.
Teteskanlah kelembutan-Mu dalam jiwa kami agar kami mampu istiqamah, meskipun hanya enam hari—namun Kau tahu, enam hari ini adalah bukti cinta hamba yang tak ingin terputus dari-Mu. Aamiin, Ya Mujibbas Sa’ilin.
Maka, marilah kita menyambut Syawal dengan puasa yang menghidupkan rindu dan mengukir kenangan indah bersama Rabbul ‘Izzati.
Karena enam hari ini bukan sekadar waktu, melainkan cinta yang diwujudkan dalam lapar, harap yang dikemas dalam dahaga, dan doa yang dibungkus dalam sunyi.
Selamat menunaikan Puasa Syawal—semoga kita termasuk hamba yang diundang ke taman-Nya, minum dari telaga Kautsar, dan dikatakan oleh-Nya:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27-28). (*)