Aktivitas zikir adalah aktivitas mendekatkan diri kepada Allah (taqarub ilallah). Allah yang Mahasuci hanya bisa didekati oleh hambaNya yang suci. Kesucian seorang hamba ini bisa diperoleh melalui dzikir. Dzikir adalah instrumen penenang hati (qalb) dan pembersih jiwa (tazkiyatun nafs). Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang serta memohon ampun atas kesalahan, maka Allah akan menyucikan jiwa hambaNya.
Jalan Menuju Muthmainnah
Jalan menuju zikir dimulai dari kesadaran. Tanda seorang pendosa mendapatkan petunjuk Ilahi adalah ketika terbetik dalam hatinya (qalb) rasa untuk tidak ingin kembali berbuat dosa. Betikan ini menggetarkan seluruh tubuhnya.
Ini adalah fitrah yang ada dalam diri setiap manusia. Ini karena ruh yang ada dalam Qalb pada fitrahnya adalah mengarahkan untuk kembali kepada Pemiliknya yang Mahasuci. Seberapapun banyaknya dosa yang ada dalam diri seseorang, rasa bersalah karena melakukan perbuatan maksiat, batil, dzalim akan muncul dari dalam hati nuraninya (kalbu).
Ruh, dalam hal ini, memiliki andil penting dalam Proses zikir dan Tazkiyah. Ruh adalah elemen ilahiah yang menjadi inti kehidupan spiritual manusia. Dalam konteks dzikir dan penyucian jiwa, ruh memiliki peran sebagai Sumber Kehidupan Spiritual.
Ruh adalah elemen dari Allah yang memiliki kecenderungan alami (fitrah) untuk mengenal dan tunduk kepada-Nya. Dzikir memberikan energi kepada ruh, memperkuat hubungan manusia dengan Allah. “Kemudian Dia menyempurnakan kejadiannya dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya…” (QS. As-Sajdah: 9)
Ruh memotivasi, menjadi penggerak spiritual dalam qalb untuk terus mengingat Allah (dzikir). Ketika ruh terhubung dengan Allah melalui dzikir, qalb menjadi tenteram, nafs terkendali, dan akal mendapatkan pencerahan. Ruh yang berada di dalam qalb akan membimbing jiwa (nafs) untuk mencapai tingkatan muthmainnah.
Ruh memiliki potensi untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya Allah. “Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju cahaya-Nya.” (QS. An-Nur: 35). Dalam konteks ini posisi Ruh adalah inti spiritual yang menghubungkan manusia dengan Allah. Ruh bekerja melalui qalb untuk membimbing nafs dan akal menuju kesucian dan ketenangan.
Dalam proses penenangan kalbu dan penyucian Jiwa, akal manusia memberikan dukungan dengan kaidah logika. Dengan kaidah logika yang lurus tentu akan semakin mendukung kalbu dan nafs untuk meninggalan perbuatan maksiat. Akal adalah alat rasional yang berfungsi untuk memahami, merenungi, dan mengolah pengetahuan tentang Allah dan ciptaan-Nya. Dalam konteks dzikir, akal memainkan peran Merenungi Ayat-ayat Allah.
Akal digunakan untuk memahami dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah) dan firman-Nya dalam Al-Qur’an (ayat qauliyah) (QS. Ali Imran: 190). Hal ini memperkuat keyakinan dan keimanan, sehingga qalb dan nafs tunduk kepada Allah.
Akal berfungsi sebagai penyeimbang untuk mengendalikan nafs melalui rasionalitas dari dorongan keburukan. Akal dengan kaidah logikanya membantu manusia membuat keputusan yang selaras dengan kehendak Allah yang menjadi materi dalam logikanya. Dengan demikian akal Menjadi Pendukung Dzikir. Akal memahami pentingnya dzikir untuk menyucikan qalb dan jiwa.
Zikir dengan akal sadar (dzikir qawliyah) lebih efektif dalam mempengaruhi qalb dibanding dzikir tanpa pemahaman. Dalam hal ini Posisi Akal adalah alat pemahaman dan kontrol yang membantu qalb dan nafs menuju penyujian dan ketenangan. Namun, akal sendiri tidak dapat membawa ketenangan spiritual tanpa keterlibatan qalb, nafs, dan ruh.
Percikan kesadaran (spiritual) dari ruh yang ada dalam qalb ini yang hendaknya disambut dengan cepat oleh seorang manusia dalam pertaubatannya. Karenanya rasa itu akan muncul seiring dengan kekuasaan mutlak Allah dala membolak-balikkan hati manusia. Karena itu bersyukurlah bagi orang-orang yang telah mendapatkan petunjukNya dan senantiasa meminta Allah unuk menjaga dan meneguhkan dirinya dalam agamaNya.
Ruh, Hati (qalb) yang tenteram dan jiwa (nafs) yang tenang, dan akal yang lurus dalam agama, kesemuanya saling terkait, karena proses dzikir dan tazkiyatun nafs menciptakan lingkungan spiritual yang mendukung ketiganya. Dzikir kepada Allah menyucikan hati dari “karat” dosa dan kegelisahan.