Berzikir secara berkelanjutan membesihkan qalb. Hati yang bersih menjadi wadah untuk merasakan kedekatan dan kedamaian dengan Allah (qalbun Salim). Saat qalb tenteram melalui dzikir, nafs yang awalnya gelisah atau condong kepada keburukan (ammarah) (nafs amarah bi suu’) (QS. Yusuf: 53) bertransformasi menjadi jiwa yang terkendali (lawwamah) (nafs lawwamah) (QS. Al-Qiyamah: 2) dan akhirnya mencapai tingkatan jiwa yang condong kepada kebaikan, yang tentang/tenteram (nafs muthmainah) (QS. Al-Fajr: 27-28). Ini adalah gambaran perjalanan manusia menuju ketenangan hati dan jiwa melalui pengingatan kepada Allah (dzikir), pembersihan diri (tazkiyatun nafs), dan ketundukan total kepada kehendak-Nya (Islam) sehingga seseorang ridha dan diridhai,
Ketenangan hati (ithmi’nan al-qalb) adalah hasil dari aktivitas dzikir yang tulus. Dzikir memberikan kedamaian yang tidak dapat dicapai oleh hal-hal duniawi, karena hati (qalb) sejatinya diciptakan untuk tunduk dan mengingat Allah. Ruh sebagai saluran Allah ke dalam Hati manusia, sebagai saluran spurtualitas dalam hati, menyampaikan “bisikan” kalbu yang akan teramplifikasi dengan dzikir.
Hati yang tenteram adalah hati yang terhubung dengan Allah, bebas dari kegelisahan akibat keterikatan duniawi. Selain itu, dalam proses mencapai hati yang tenteram (qalb muthmainnah) dan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah), akal memiliki peran penting sebagai komponen logika dan intelektualitas manusia. Akal berfungsi secara saling melengkapi bersama qalb dan nafs.
Secara mekanistis, dapat dijelaskan bahwa Ruh yang berada dalam qalb, menginspirasi qalb untuk mengingat Allah. Qalb yang tenteram menenangkan nafs, sehingga jiwa mencapai tingkatan muthmainnah. Akal mendukung proses ini dengan membantu memahami tujuan spiritual dan menundukkan dorongan negatif nafs. Dengan kata lain, ruh memberikan cahaya ilahiah, qalb menerima cahaya itu, nafs menyesuaikan diri, dan akal mendukung semuanya melalui pemahaman dan kontrol atas tubuh untuk berbuat kebaikan, kebenaran, keindahan, keadilan.
Peran Allah menentukan turunnya hidayah melalui Ruh, dan Allah memberikan petunjuknya kepada yang Ia kehendaki. “Allahu yahdi man yasyaa”. Allah meniupkan ruhNya kepada manusia bukan tanpa tujuan. Karena ini adalah menjadi mekanisme keterhubungan antara Allah dengan hambanya. Barang siapa yang mendapat hidayah dari Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya.
Bersyukurlah orang beriman yang telah mendapat hidayahNya, karena dengan hidayah yang diterimanya ia akan terus berdzikir untuk memperkuat nafs-nya agar menuju muthmainnah. Karena itu dzikir adalah mekanisme untuk terus memohon hidayah itu selalu terpancar kepada ruh, memancar dalam hati, mengendalikan nafs, disertai dengan kontrol dari akal. Hati dan akal akan menggerakkan tubuh untuk lisan shalihnya menyebut asma Allah dan mewujudkan amal shalihnya mewujudkan umat terbaik.
Proses kesadaran/hidayah itu berjalan sangat singkat. Seperti kilatan petir di tengah kegelapan langit malam. Qalb, Aqal, dan nafs tergerak secara simultan yang kemudian mewujud dalam ekspresi dzikir. Ekspresi dzikir pada lisan dan perbuatan. Lisan dengan ucapan berupa tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir. Perbuatan dengan gerakan shalat, puasa, membayar zakat, haji, serta gerakan-gerakan sosial yang shalih.
Dalam konteks dzikir ini, Islam mengajarkan bagaimana berdzikir dari yang sederhana hingga yang kompleks. Dzikir yang sederhana dari niat yang mengingat Allah dalam hati, membaca alquran yang merupakan dzikir dengan hati dan dengan lisan; Gerakan shalat yang melibatkna dzikir hati, lisan, dan perbuatan seperti gerakan berdiri, rukuk, dan sujud yang.
Demikian juga dengan dzikir dalam konetks sosial seperti perbuatan membayar zakat dan melaksanakan haji. Dalam gerakan-gerakan tersebut, dzikir menjadi lengkap; tidak hanya hati, namun juga lisan, hingga perbuatan; dari perbuatan dzikir yang sangat pribadi dalam niat, hingga dzikir dalam gerakan sosial seperti berzakat.
Dzikir dalam konteks Tasawuf
Fenomena dzikir dalam dunia tasawuf memiliki kedudukan yang sangat penting dan merupakan salah satu inti dari praktik spiritual (riyadhah) dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah. Dzikir merupakan salah satu jalan utama dalam tasawuf untuk mencapai maqam-maqam spiritual seperti fana (lebur dalam kehadiran Allah) dan baqa (kekal dalam cinta Allah). Para sufi seperti Abu Yazid al-Bustami, Al-Ghazali, dan Ibnu ‘Arabi menekankan pentingnya dzikir sebagai media penyucian hati (tazkiyatun nafs) untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam praktiknya di dunia tasawuf, terdapat beberapa metode dzikir. Dzikir Sirr (Dzikir Khafi), yakni dzikir yang dilakukan secara tersembunyi dalam hati tanpa suara. Ini sering dipraktikkan dalam tarekat tertentu, seperti Tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian Dzikir Jahr: Dilakukan dengan suara keras, biasanya dipraktikkan dalam bentuk kelompok seperti Tarekat Qadiriyah atau Syadziliyah. Serta Dzikir dengan Hitungan, dilakukan oleh beberapa tarekat menggunakan alat seperti tasbih untuk menghitung jumlah dzikir tertentu yang biasanya diajarkan oleh mursyid (guru spiritual) untuk meningkatkan level spiritual murid.
Pada sebagian besar kalangan sufi, dzikir dilakukan secara kolektif. Dzikir berjamaah atau majelis dzikir merupakan tradisi penting dalam tarekat, di mana komunitas tarekat berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah. Ini menciptakan suasana spiritual yang mendalam dan energi kolektif.
Namun, sebagian ulama non-sufi mengkritik beberapa bentuk dzikir yang dianggap bid’ah atau berlebihan, terutama yang menggunakan ritual tertentu seperti musik atau tarian dalam dzikir hadrah. Namun, para sufi menjelaskan bahwa bentuk-bentuk dzikir ini adalah cara untuk menyalakan cinta kepada Allah dan bukan semata ritual kosong.