13 Tahun Menabung, Nenek 80 Tahun Ini Melangkah Tegar Menuju Baitullah

www.majelistabligh.id -

Panas siang itu menyengat tanpa ampun. Suhu di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, menunjukkan angka 40 derajat Celsius. Udara kering dan terik membakar kulit, membuat siapa pun enggan berlama-lama di luar ruangan.

Namun, di tengah gerak lamban para jemaah haji yang baru tiba dari Indonesia, tampak satu sosok renta yang melangkah pelan tapi pasti, mencuri perhatian semua mata. Langkahnya kecil, namun penuh makna. Dialah Pungut Patin Inang, seorang nenek berusia 80 tahun asal Palembang, Sumatera Selatan.

Tubuhnya telah membungkuk dimakan usia, namun semangatnya tegak seperti pohon tua yang tetap kokoh di tengah badai.

Ketika petugas menawarkan bantuan mobil golf—kendaraan yang biasa digunakan untuk mengantar jemaah lanjut usia ke paviliun “keong”, area tunggu sebelum diberangkatkan ke hotel—Pungut menolaknya dengan halus.

“Saya masih kuat jalan,” katanya lantas tersenyum lebar, suara seraknya nyaring di antara deru mesin dan bahasa-bahasa asing yang bersahutan.

Jemaah lain yang menyaksikan momen itu spontan memberikan tepuk tangan dan gelak kagum. Ada kekuatan yang terasa nyata dalam langkah-langkah kecil nenek ini. Bukan hanya karena ia menolak bantuan di usia yang tak lagi muda, tapi karena setiap gerakan tubuhnya adalah bentuk nyata dari rasa syukur, sabar, dan tekad yang telah menahun.

Pungut bukanlah jemaah haji biasa. Dia adalah simbol dari harapan yang panjang. Perjalanannya menuju Tanah Suci dimulai 13 tahun lalu, saat dirinya pertama kali mendaftar haji pada tahun 2012. Saat itu, dia baru saja kehilangan suaminya.

“Suami sudah wafat duluan. Saya daftar sendiri. Bayar dari hasil kerja saya,” katanya dengan mata berair.

Pungut, yang ditemui Afifun Nidlom, Redaktur Pelaksana Majelistabligh.id, di Madinah, mengaku mengumpulkan rupiah demi rupiah dari pekerjaannya sebagai pengasuh anak. Bukan pekerjaan mudah. Terlebih di usianya yang telah memasuki kepala enam saat itu.

“Pertama saya setor Rp 25 juta. Lalu tiga kali saya bayar Rp 10 juta,” aku dia sambil menghitung dengan jari-jarinya yang mulai keriput.

Anak yang dulu diasuhnya, katanya, kini telah menjadi seorang dokter. “Saya momong dari kecil. Sekarang dia sudah jadi orang. Saya bangga sekali,” ucap Pungut, lalu tersenyum.

Namun, kebanggaan itu tidak membuatnya tinggi hati. Justru, dari semua pencapaian hidupnya, bisa melangkahkan kaki ke Tanah Suci adalah puncak tertinggi yang ingin dia syukuri.

Ketika ditanya apa yang ingin ia doakan di Makkah dan Madinah, Pungut menjawab dengan lirih, “Saya ingin doakan anak, cucu, mantu, keponakan. Semoga Allah beri mereka kesehatan, jauhkan dari bala, dan ampuni dosa-dosa saya.”

Tak ada ambisi duniawi. Tak ada doa untuk kekayaan atau kekuasaan. Yang ada hanya kasih sayang seorang ibu yang ingin keluarga dan keturunannya hidup dalam lindungan Allah.

Di antara ratusan ribu jemaah yang datang dari seluruh penjuru dunia, Pungut membawa ketulusan yang mungkin tak banyak dimiliki orang lain.

Pungut tergabung dalam Kloter 10 Embarkasi Palembang (PLM-10) bersama 366 jemaah dan 4 petugas. Mereka tiba di Madinah menggunakan Saudi Airlines SV-5409 pada Rabu siang, pukul 12.55 waktu Arab Saudi.

Perjalanan Pungut ke Tanah Suci bukan sekadar perpindahan geografis. Dia bukan hanya berjalan dari Palembang ke Madinah, atau dari paviliun bandara ke hotel penginapan. Dia menempuh jalan panjang bernama keimanan—jalan yang dilapisi oleh sabar, ditopang oleh tawakal, dan dihiasi oleh cinta kepada Allah.

Ada yang mengatakan bahwa haji adalah perjalanan fisik. Tapi Pungut mengajarkan kita bahwa haji juga adalah perjalanan jiwa. Sebuah penempuhan batin, dari keterbatasan menjadi keteguhan, dari kerentaan tubuh menjadi kekuatan hati.

Di tengah generasi yang serba instan, cerita Pungut mengingatkan kita bahwa iman adalah proses, bukan hasil akhir. Dia menabung selama lebih dari satu dekade, bekerja tanpa lelah. Hidup bersahaja, hanya demi satu tujuan: berjumpa dengan Allah di tanah yang dijanjikan.

Kini, di Tanah Suci, langkah-langkah kecilnya bukan hanya menjadi saksi sejarah hidupnya sendiri, tapi juga inspirasi bagi kita semua yang menyaksikan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search