130 Apoteker RS dan Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah Ikuti Workshop Farmasi Klinis di Surabaya

www.majelistabligh.id -

Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat layanan kesehatan melalui pengembangan sumber daya manusia.

Pada Ahad (29/6/2029), bertempat di Hotel Harris Gubeng, Surabaya, MPKU PWM Jatim melalui Tim Farmasi menggelar kegiatan seminar dan workshop bertajuk “Perspektif Farmasi Klinis terhadap Obat yang Digunakan pada Manajemen Terapi Penyakit Liver.”

Acara ini diikuti oleh 130 apoteker dari Rumah Sakit (RS) dan Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah se-Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi momen penting untuk menyambung silaturrahmi dan memperbarui pengetahuan keilmuan para apoteker, khususnya dalam bidang farmasi klinis yang berkaitan dengan pengobatan penyakit liver.

Dalam sambutannya, Apt. Hety Arya Triwidyastuti, S.Farm., M.Farm, perwakilan Tim Farmasi MPKU Jatim, menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Syawal sebagai ajang halal bihalal dan konsolidasi.

Namun karena padatnya aktivitas para sejawat di rumah sakit dan klinik masing-masing, kegiatan baru bisa dilaksanakan pada akhir Juni.

“Kami bersyukur kegiatan ini akhirnya bisa terlaksana. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Hexpharm Jaya (HJ) obat generik yang telah menjadi sponsor tunggal melalui PT. Surya Medika Timur (SMT), sebuah badan usaha milik PWM Jatim,” ungkap Hety.

Dia lalu menegaskan bawah kegiatan ini sangat penting, tidak hanya sebagai ajang temu ilmiah tetapi juga untuk memperkuat jejaring antar tenaga kesehatan dalam lingkungan amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Acara seminar dan workshop ini secara resmi dibuka oleh Ketua MPKU PWM Jawa Timur Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua.

Dalam sambutannya, dia menekankan pentingnya berjejaring dan bersinergi antar institusi kesehatan Muhammadiyah-Aisyiyah, terutama dalam menghadapi tantangan dunia kesehatan yang semakin kompleks.

“Hari ini dan ke depan, kita semua tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Rumah sakit yang sehat mungkin bisa berpikir untuk dirinya sendiri, tapi bagaimana dengan rumah sakit yang masih dalam proses tumbuh? Maka jawabannya adalah jejaring dan sinergi,” tegas Mundakir, yang juga merupakan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya).

130 Apoteker RS dan Klinik Muhammadiyah-Aisyiyah Ikuti Workshop Farmasi Klinis di Surabaya
Para apoteker yang mengikutik workshop yang digelar MPKU PWM Jatim. foto: ist

Dia juga menjelaskan, PWM Jatim melalui MPKU telah membentuk dan menunjuk PT. Surya Medika Timur sebagai unit konsolidasi pengadaan obat, Bahan Medis Habis Pakai (BMHP), dan alat kesehatan (alkes) dengan harga kompetitif dan kualitas terjamin.

“Keuntungan dari SMT tidak diambil untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk membantu amal usaha kesehatan (AUMKES) Muhammadiyah-Aisyiyah yang masih membutuhkan dan yang akan berdiri. Inilah esensi dari gerakan kita: tumbuh bersama dalam sistem yang solid dan terkonsolidasi,” tambahnya.

Seminar dan workshop ini menghadirkan narasumber dari internal jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah (RSMA) Jawa Timur yang telah berpengalaman dalam praktik farmasi klinis.

Para pemateri berasal dari RS Muhammadiyah Lamongan dan RS Aisyiyah Bojonegoro. Keduanya berbagi pengalaman dan best practice dalam manajemen terapi penyakit liver, termasuk pendekatan farmakologi dan monitoring terapi pasien secara klinis.

Sesi ilmiah berlangsung interaktif dengan diskusi yang mendalam antara pemateri dan peserta, yang mayoritas adalah apoteker klinis dari berbagai rumah sakit dan klinik Muhammadiyah-Aisyiyah di seluruh Jawa Timur. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara hingga selesai.

Melalui kegiatan ini, MPKU PWM Jatim berharap dapat terus mendorong profesionalisme dan kolaborasi antarsejawat di bidang farmasi.

Hety Arya menyampaikan harapannya agar ke depan RSMA dan klinik Aisyiyah dapat semakin tumbuh dan berkembang, baik dari sisi layanan maupun manajemen pengadaan obat dan alat kesehatan.

“Acara ini juga memperkuat semangat bahwa kekuatan Muhammadiyah dalam bidang kesehatan tidak hanya terletak pada jumlah amal usaha, tetapi juga pada sistem jejaring yang kuat, sinergis, dan saling menopang untuk mencapai keberlanjutan,” pungkas dia. (rudi utomo)

Tinggalkan Balasan

Search