Menjelang puncak ibadah haji 1446 H di Padang Arafah, Kamis (5/6/2025), Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh jemaah, termasuk yang lansia, disabilitas, dan berisiko tinggi (risti), tetap mendapatkan hak spiritualnya, wukuf di Arafah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan, pemerintah telah menyiapkan dua skema istimewa: safari wukuf dan badal/taukil wukuf. Keduanya disusun dengan sistematis agar tidak satu pun jemaah terlewat dari puncak rukun Islam kelima, meskipun dalam kondisi kesehatan terbatas.
“Kami laporkan ke Kementerian Kesehatan Saudi bahwa ada sekitar 3.500 jemaah sangat rentan, baik karena usia, komorbid, atau kondisi fisik yang melemah. Setelah evaluasi bersama tim medis, Saudi memberikan izin terbatas untuk safari wukuf,” ujar Menag dalam konferensi pers di Makkah, Rabu (4/6).
Dari jumlah tersebut, sekitar 500 jemaah diprioritaskan mengikuti safari wukuf. Mereka akan dibawa menggunakan bus khusus, tidak turun dari kendaraan, dan langsung menuju tenda Mina usai wukuf.
Sedangkan sekitar 250 jemaah yang tengah dirawat di rumah sakit dan tidak memungkinkan mengikuti wukuf secara fisik, akan menjalani skema badal haji. Dalam hal ini, ibadah haji dilaksanakan oleh orang lain atas nama jemaah bersangkutan.
“Badal ini bahkan dibiayai langsung oleh Pemerintah Arab Saudi. Satu orang dibadalkan setara dengan biaya sekitar Rp20 juta. Jika seribu orang, berarti Saudi menyediakan sekitar Rp20 miliar untuk mendukung jemaah kita,” ujar Nasaruddin.
“Ini bentuk penghormatan luar biasa kepada Indonesia,” imbuhnya.
Untuk menjaga kesakralan dan keabsahan ibadah, semua pelaksana badal dan taukil adalah Musytasyar Dini, ulama muda pilihan yang memahami fikih haji secara mendalam. Pemerintah tidak melibatkan pihak luar untuk menghindari penyimpangan dan potensi penipuan.
Usai safari wukuf, para jemaah akan dibawa ke hotel transit untuk istirahat dan pemulihan, dengan dukungan dokter, nutrisi, serta pelayanan menyeluruh. Mereka akan kembali bergabung dengan kloter asal setelah penyelesaian mabit di Mina.
Menteri Agama juga menegaskan bahwa dispensasi ini tidak diberikan kepada negara lain, menunjukkan tingkat kepercayaan dan penghormatan tinggi Arab Saudi terhadap jemaah Indonesia.
“Hampir semua permintaan kita disetujui. Ini bukti eratnya hubungan kedua negara dan kesungguhan kita dalam melayani jemaah sebagai amanah umat,” tutup Nasaruddin. (afifun nidlom)
