Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, plastik seakan menjadi bagian tak terpisahkan. Dari kemasan makanan, botol minuman, hingga kantong belanja, semuanya praktis—namun meninggalkan jejak tak kasat mata yang membahayakan: mikroplastik.
Pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr. Syahrorini Syamsudduha, MT, mengungkapkan bahwa mikroplastik dapat dengan mudah masuk ke tubuh manusia.
Salah satu penyebab utamanya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah plastik.
“Mereka kurang kesadaran dalam membuang sampah tanpa melalui 3R, yakni Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (daur ulang),” jelasnya seperti dilansir di laman resmi Umsida, pada Jumat (1/8/2025).
Fenomena ini semakin parah karena masih banyak warga yang membuang sampah di bantaran sungai.
“Sampah plastik sangat mudah terbawa arus dan angin sehingga partikelnya bisa menjangkau daerah terpencil,” lanjut Dr. Rini. Tak heran jika lautan luas seperti Samudra Pasifik dan Atlantik kini memiliki konsentrasi plastik yang besar dan mengancam ekosistem laut.
Edukasi Sejak Dini
Menurut Dr. Rini, kunci mengurangi paparan mikroplastik adalah mengubah perilaku dari hulu, dimulai dari rumah tangga dan pendidikan anak. Ia mendorong penerapan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah untuk mengenalkan pengolahan sampah sejak dini.
Dalam program pengabdian masyarakatnya, ia telah bekerja sama dengan sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup dan Lembaga Lingkungan Hidup & Penanggulangan Bencana PDA Sidoarjo.
Tahun ini, pihaknya juga menggandeng DLHK, Muslimat, Fatayat, dan Kecamatan Wonoayu untuk mengajarkan pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum dibuang ke TPS.
“Pemilahan sampah seharusnya dilakukan dari rumah tangga masing-masing. Prinsip 3R ini juga diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012,” tambahnya.
Tak hanya sampah padat, limbah cair juga memerlukan perhatian khusus. Dr. Rini menegaskan, pembuangan limbah cair harus melalui proses netralisasi dan izin resmi.
“Perizinan ini penting untuk memastikan limbah yang dibuang sudah sesuai standar lingkungan dan aman,” terangnya.
Dampak yang Tak Terlihat
Mikroplastik bukan sekadar ancaman di laut. Ikan dan plankton yang memakannya bisa mengalami gangguan reproduksi, malnutrisi, hingga kematian.
Partikel plastik juga dapat mengendap di tanah melalui pupuk organik yang tercemar, limbah padat, bahkan serat mikro dari tekstil.
“Selain itu, hujan bisa membawa partikel mikroplastik dari udara ke tanah, sehingga kontaminasinya meluas,” ungkap Dr. Rini.
Mengatasi masalah ini membutuhkan kerja sama multipihak: pemerintah membuat regulasi, organisasi masyarakat menggelar sosialisasi, dan PKK desa memberikan pelatihan pengolahan sampah.
7 Kebiasaan Sederhana
Sebagai langkah nyata, Dr. Rini membagikan tujuh kebiasaan sederhana untuk mengurangi paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari:
- Mengurangi sampah plastik dengan prinsip 3R.
- Mendaur ulang plastik menjadi bahan baku baru.
- Menghindari plastik sekali pakai seperti kantong, sedotan, dan alat makan plastik.
- Tidak memanaskan makanan dalam wadah plastik.
- Menggunakan wadah non-plastik untuk menyimpan makanan dan minuman.
- Membatasi konsumsi makanan/minuman yang dikemas dalam plastik.
- Memilah sampah plastik karena banyak yang masih memiliki nilai ekonomi.
“Jika kita konsisten melakukan langkah-langkah sederhana ini, dampak mikroplastik pada tubuh manusia dan lingkungan bisa kita tekan bersama,” pungkasnya. (romadhona s)
