Jumlah pasien yang mengalami gangguan mental akibat kecanduan judi online di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Menur Surabaya terus meningkat, dan kini telah mencapai 85 orang. Ironisnya, di antara pasien tersebut terdapat seorang remaja berusia 17 tahun yang sempat bertindak agresif dan mengamuk di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Fenomena tersebut menjadi peringatan serius akan dampak destruktif judi online terhadap kesehatan jiwa masyarakat, terutama generasi muda.
Dr. Mundakir, Rektor sekaligus Pakar Kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), menanggapi kasus tersebut dengan keprihatinan mendalam.
Dia menilai bahwa perilaku ekstrem dari remaja yang mengamuk merupakan cerminan nyata bagaimana judi online bisa mengganggu kestabilan emosi dan psikis seseorang secara drastis, terlebih pada anak-anak dan remaja yang masih berada dalam fase pertumbuhan mental dan emosional.
“Pasien dengan kecanduan judi online biasanya menunjukkan gejala yang serius seperti mudah tersinggung, perilaku agresif, gangguan tidur, kecemasan berlebihan, perasaan depresi mendalam, bahkan hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup,” ungkap Mundakir pada Kamis (19/6/2025).
Dia menuturkan bahwa insiden kekerasan atau kemarahan di IGD merupakan indikator bahwa pasien telah mengalami kerusakan pengendalian diri (impuls kontrol) yang signifikan.
Biasanya hal ini dipicu oleh tekanan emosional seperti frustrasi, isolasi sosial, hingga kerugian finansial besar yang tidak mampu ditanggung.
Mundakir juga menjelaskan bahwa karakteristik dari judi online menjadikannya sangat adiktif. Akses yang sangat mudah melalui gadget, godaan keuntungan instan, dan jaminan anonimitas dari platform digital membuat para pengguna merasa aman dan bebas untuk berjudi.
Faktor-faktor eksternal seperti tekanan ekonomi, stres pekerjaan, hingga kebosanan bisa menjadi pintu masuk seseorang ke dalam dunia judi online.
“Begitu seseorang terjerumus, mereka akan sulit mengendalikan dorongan berjudi. Mereka mulai percaya bahwa keberuntungan akan datang kapan saja, dan akan terus mengejar kerugian yang mereka alami, bahkan dengan cara yang ekstrem seperti menggunakan uang cicilan rumah, tagihan listrik, atau bahkan berutang,” tambahnya.
Dalam kondisi ini, kemampuan berpikir logis dan rasional mulai terganggu. Pecandu judi akan terdorong oleh sensasi yang ditimbulkan oleh lonjakan dopamin dalam otak mereka saat bermain, yang menciptakan ilusi kebahagiaan sesaat, padahal sebenarnya mereka terus-menerus mengalami kerugian emosional dan material.
Melihat kondisi yang mengkhawatirkan tersebut, Mundakir menekankan pentingnya pendekatan komprehensif untuk menangani dan mencegah kecanduan judi online.
Salah satu kunci utamanya adalah deteksi dini oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Tanda-tanda seperti seringnya anak meminjam uang, menghindari interaksi dengan keluarga, hingga marah ketika ditegur saat bermain ponsel harus menjadi alarm bagi orang tua dan pengasuh.
“Perubahan perilaku yang drastis perlu diamati secara cermat. Semakin dini gangguan ini dikenali, semakin besar peluang untuk dilakukan intervensi yang berhasil,” terang Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jatim ini.
Mundakir menambahkan, keluarga memiliki peran vital dalam memberikan dukungan emosional, mendampingi proses pemulihan, serta menetapkan batasan yang jelas mengenai aktivitas daring anak. Selain itu, kesadaran kolektif masyarakat untuk saling mengawasi dan menjaga juga penting dibangun.
Tak hanya itu, Mundakir juga mendorong pemerintah untuk meningkatkan upaya pemberantasan judi online ilegal melalui regulasi yang lebih kuat dan penegakan hukum yang tegas.
Pemblokiran situs judi online dan penindakan terhadap operator maupun penyedia layanan perlu digalakkan secara konsisten untuk memutus mata rantai kecanduan yang terus meluas.
Edukasi kepada masyarakat, khususnya kalangan muda, juga tak kalah penting. Menurutnya, literasi digital harus ditingkatkan agar generasi muda memiliki bekal pengetahuan dan kesadaran untuk menggunakan teknologi secara bijak, serta tidak mudah terbujuk oleh iming-iming keuntungan cepat dari perjudian online.
“Kampanye edukatif mengenai bahaya judi online harus diperluas ke lingkungan sekolah, keluarga, dan komunitas. Media massa dan media sosial dapat menjadi sarana efektif untuk menyebarkan informasi dan membentuk kesadaran kolektif,” tutupnya.
Mundakir menegaskan, tanpa adanya penanganan yang serius dan kolaboratif dari semua pihak. Mulai dari keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, hingga pemerintah—maka masyarakat akan menghadapi risiko krisis kesehatan mental yang lebih besar sebagai dampak dari meluasnya kecanduan judi online. (*/wh)
