Amanah Jujur Ikhlas Sabar itu bukan berarti tidak ada rasa, justru AJIS adalah pilihan untuk menempatkan Allah Wa Ta’ala di atas segala rasa itu. Karena sering kali, apa yang Allah Wa Ta’ala minta untuk kita lepaskan, sebenarnya adalah karena Dia sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak sanggup kita tanggung.
Saat kita benar benar pasrah kepadaNya, tidak ada yang hilang dari hidup, kita hanya sedang dipindahkan dari yang fana menuju yang lebih mulia. Sebab kadang yang kita inginkan bukanlah yang kita butuhkan, maka Allah Wa Ta’ala mengambil agar hati kita kembali pulang kepadaNya.
Dan ingatlah, bahwa hati yang bergantung pada manusia itu akan mudah rapuh, tetapi hati yang bersandar kepada Allah Wa Ta’ala akan kembali utuh, seberapa pun ia pernah retak.
Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Jika kamu berbuat kebaikan, berarti kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra’: 7)
“Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Orang yang menyukaimu akan selalu menilai bahwa kamu orang baik, menyenangkan, dan lain lain.
Sebaliknya orang yang membencimu akan selalu menilai bahwa kamu orang buruk, menyebalkan dan lain sebagainya.
Mereka melihat sesuai apa yang ada pada dirinya.
Satu-satunya hal yang tidak bisa mereka lihat dari dirimu adalah bagaimana hubunganmu dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagaimana amanahmu, jujurmu, ikhlasmu, sabarmu syukurmu, taubatmu
Karenanya…fokuslah dengan itu.
Jangan terbuai dengan pujian orang lain. Dan jangan pula membiarkan dirimu hancur sebab penilaian buruk orang lain. Umumnya orang hanya senang saat melihat orang lain jatuh dalam kesalahan, tapi mereka tak pernah mau tahu saat-saat di mana orang yang bersalah menangis dan bertobat menyesali dosa.
Apapun penilaian orang terhadap dirimu, tidak usah dimasukkan hati, karena mereka hanya penonton. Wasit dari perbuatan baik burukmu adalah malaikat Rokib dan Atid yang pasti jujur.
Karenanya tetaplah jaga ikhlasmu. Yang sudah baik lanjutkan dan istikamah kan. Jika masih banyak dosa, segera bertobat dan perbaiki amal.
Kalau mereka memandangmu diri yang baik, semoga itu karena Allah mengangkat derajatmu di antara makhlukNya. Tetapi jika mereka mamandangmu buruk, semoga menjadi jalan ikhlasmu.
Tak perlu banyak membela diri. Tak perlu banyak menjelaskan apapun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak akan mempercayaimu.
Pada akhirnya, Allahlah juri yang sebenarnya dan setiap orang akan bertanggung jawab sendiri sendiri.
“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri,” (QS. Al-Qiyamah: 14)
Orang bisa salah menilai, tetapi Allah tidak pernah salah menilai, dan saksinya adalah dirimu sendiri.
Ada tulisan di bak Truk “cukup Rokib Atid ae seng mbiji dirimu ORA usah melu melu = “cukup Rokib Atid (malaikat) aja yang menilai, dirimu tidak usah ikut campur”
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad
In syaa Allah bermanfaat silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah. || fimdalimunthe55@gmail.com
ismirzaf@gmail.com
