Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa idulfitri tidak dapat dipahami semata sebagai tradisi tahunan yang sarat dengan budaya seperti mudik, halal bihalal, atau berbagai perayaan khas Lebaran. Lebih dari itu, idulfitri merupakan bagian integral dari syariat Islam yang memiliki dimensi spiritual, teologis, dan sosial yang mendalam.
“Dalam perspektif Islam, Idulfitri adalah puncak dari rangkaian ibadah Ramadan. Setelah sebulan penuh menjalankan puasa sebagai proses pengendalian diri, umat Islam merayakan hari kemenangan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Swt. Momentum ini menandai kembalinya manusia kepada fitrah, yakni kondisi suci yang terbebas dari dosa,” kata Abdul Mu’ti, Selasa (24/3/2026).
Secara teologis, lanjut Mu’ti, idulfitri tidak berdiri sendiri sebagai perayaan, melainkan merupakan kelanjutan dari ibadah yang telah dijalankan selama Ramadan. Karena itu, esensi Idulfitri tidak terletak pada aspek seremonial, melainkan pada keberhasilan membentuk pribadi yang bertakwa.
“Dalam praktiknya, masyarakat kerap memaknai Idulfitri melalui berbagai ekspresi budaya. Tradisi seperti mudik, saling berkunjung, hingga berbagi hidangan menjadi bagian dari cara manusia menerjemahkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sosial,”jelasnya.
Namun demikian, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI ini juga menegaskan, bahwa penting untuk dipahami bahwa budaya tersebut bukanlah inti dari Idulfitri. Ia hanya menjadi medium untuk mengekspresikan nilai-nilai ajaran Islam, seperti silaturahmi, saling memaafkan, dan mempererat ukhuwah.
“Idulfitri juga mengandung pesan transformasi sosial. Selain sebagai momentum spiritual, hari raya ini menjadi ruang untuk memperbaiki hubungan antarsesama manusia, memperkuat solidaritas, serta membangun kehidupan yang lebih berkeadaban,” jelasnya.
Oleh karena itu, umat Islam diharapkan tidak terjebak pada aspek ritual dan tradisi semata, tetapi mampu menangkap substansi Idulfitri sebagai bagian dari syariat ilahi yang menuntun pada perubahan diri dan perbaikan kehidupan secara menyeluruh.
“Dengan demikian, Idulfitri bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali komitmen keislaman, memperkuat nilai kemanusiaan, dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat,”pungkasnya. (*/tim)
