Abdul Mu’ti: Isra Mikraj Menguatkan Kesalehan Spiritual

Abdul Mu’ti: Isra Mikraj Menguatkan Kesalehan Spiritual
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan bahwa  peristiwa Isra Mikraj merupakan momentum penting dalam sejarah perjuangan Rasulullah saw.

“Isra Mikraj dilaksanakan Rasulullah dalam situasi yang sangat gundah gulana,” kata Mu’ti, dalam peringatan Isra Mikraj di Masjid Baitut Tholibin, Kantor Kemendikdasmen RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).

Mu’ti menjelaskan, Isra Mikraj diperkirakan terjadi pada tahun ke-11 setelah kenabian. “Pada tahun ke-10 kenabian, Rasulullah mengalami musibah yang sangat berat karena wafatnya dua orang yang sangat berperan mendukung dakwah beliau,” tambahnya.

Abdul Mu’ti: Isra Mikraj Menguatkan Kesalehan Spiritual
Didampingi Wamendikdasmen Atip Latipulhayat dan Fajar Riza Ul Haq dalam peringatan Isra Mikraj ini, Abdul Mu’ti menyerahkan beasiswa semester genap tahun pelajaran 2025-2026 kepada 30 siswa putra-putri karyawan Kemendikdasmen. (dok Kemendikdasmen)

Ia menyebut sosok pertama adalah Abu Thalib, paman Rasulullah yang berjasa besar dalam melindungi dan membela Nabi Muhammad saw. Banyak riwayat menyebutkan Abu Thalib memiliki jasa yang sangat besar dalam membela dan melindungi Rasulullah.

“(Selain Abu Thalib, yang meninggal) Khadijah adalah istri yang mendampingi Rasulullah dalam situasi suka dan duka, serta mendukung dakwah beliau dengan segenap harta yang dimilikinya,” jelasnya.

Dua peristiwa tersebut, lanjut Mu’ti, menjadikan tahun ke-10 kenabian dikenal sebagai ‘Amul Huzn atau tahun kesedihan. Dalam konteks sejarah itulah kita memahami makna Isra Mikraj sebagai penguat spiritual bagi Rasulullah.

Ia menambahkan bahwa satu tahun setelah Isra Mikraj, Rasulullah diperintahkan untuk berhijrah dari Makkah ke Yatsrib. “Hijrah bukan peristiwa yang mudah, karena Rasulullah menghadapi ancaman, tetapi tetap dilakukan demi melanjutkan perjuangan,” ujarnya.

Menurut Mu’ti, dari rangkaian sejarah tersebut tampak jelas bahwa Rasulullah memperoleh kekuatan spiritual setelah Isra Mikraj. Di dalam peristiwa Isra Mikraj itulah Rasulullah menerima perintah salat.

Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an banyak mengaitkan salat dengan kesabaran dan pertolongan Allah. “Allah berfirman, mintalah pertolongan dengan sabar dan salat, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar,” tutur Abdul Mu’ti.

Selain itu, salat juga erat kaitannya dengan zakat dan infak sebagai bentuk kedermawanan sosial. “Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ciri orang bertakwa adalah mereka yang menunaikan salat dan menafkahkan rezekinya,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai bahwa kesalehan spiritual harus melahirkan kesalehan sosial. “Orang yang rajin salat biasanya terdorong untuk banyak berderma,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mu’ti menekankan bahwa salat juga dikaitkan dengan kemenangan orang-orang beriman. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang yang khusyuk dalam salatnya itulah yang akan memperoleh kemenangan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search