Abdul Mu’ti: Jangan Memandang Petani Kurang Bergensi!

Abdul Mu'ti (keempat dari kanan) saat panen ubi jalar. (ist)
www.majelistabligh.id -

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap petani dan sektor pertanian. Menurutnya, masih terdapat stigma yang memandang petani identik dengan keterbelakangan pendidikan, kemiskinan, dan profesi yang kurang bergengsi.

“Tantangan besar pertanian kita adalah regenerasi petani. Sebagian besar petani berusia di atas 50 tahun dan banyak yang bukan pemilik lahan. Karena itu, regenerasi petani harus menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang berbasis pendidikan,” kata Abdul Mu’ti, dalam panen ubi jalar sekaligus mengukuhkan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, akhir ahad lalu.

Mu’ti yang mengaku sebagai anak petani, menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara agraris harus mampu memanfaatkan sumber daya alam dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi agar pertanian dapat menjadi jalan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan panen ini, merupakan kerjasama antara Kemendikdasmen dengan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam memperkuat ekonomi umat berbasis pertanian sekaligus mengembangkan dakwah yang membumi di tingkat akar rumput.

Dalam kesempatan tersebut, MPM PP Muhammadiyah juga menyerahkan bantuan pompa air kepada MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kuningan sebagai dukungan sarana produksi pertanian.

Sementara Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, menjelaskan bahwa pengembangan Jama’ah Tani Muhammadiyah dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir. Pada sisi hulu, Muhammadiyah mendorong penguatan teknologi dan praktik budidaya pertanian. Pada sisi tengah, dilakukan penguatan kelembagaan petani melalui Jatam. Adapun pada sisi hilir, MPM berupaya memperluas jejaring pasar dan kemitraan, termasuk rintisan ekspor.

“Ubi jalar yang dipanen hari ini terdiri dari dua varietas, yakni Cilembu dan Naruto yang berasal dari Jepang dan kini dikembangkan di Kuningan. Tantangan ke depan adalah bagaimana memberi nilai tambah yang lebih optimal bagi petani,” jelas Yamin.

Ia menambahkan, Universitas Muhammadiyah Kuningan diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis dalam pendampingan budidaya, penguatan kelembagaan petani, hingga pengembangan jejaring produksi. Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Muhammadiyah memperkuat dakwah di atas rumput, khususnya di kalangan petani.

Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., menyampaikan apresiasi atas peran Muhammadiyah dalam mendorong kemandirian dan kesejahteraan petani di Kabupaten Kuningan. Ia menilai kehadiran Jama’ah Tani Muhammadiyah sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama ekonomi masyarakat.

“Pemerintah Kabupaten Kuningan mendukung penguatan kelembagaan petani seperti Jama’ah Tani Muhammadiyah. Ini sejalan dengan visi kami membangun pertanian yang berkelanjutan, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Dian Rachmat. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search