Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa keragaman mazhab dan pandangan agama adalah suatu ketetapan Allah yang tak dapat terelakkan. Karena itu, suatu perbedaan justru harus dikelola dengan Semangat Berlomba dalam Kebaikan
Hal ini diungkapkan Abdul Mu’ti dalam agenda silaturahim Syawalan 1447 H Keluarga Besar Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Sabtu (28/3/2026)
Abdul Mu’ti menambahkan, Iktilaf merupakan perbedaan pendapat antara para ulama mengenai masalah hukum fikih yang bersifat cabang (furu’iyah), bukan prinsip pokok agama (ushuliyah). Dalam hal ini ia memecah ke dalam tiga kategori, yakni alamiah yang bersifat bawaan, ilmiah yang lahir dari pemikiran atau metode, dan alamiah yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan.
“Tidak perlu berdebat kusir mengenai siapa yang paling benar. Yang terpenting dan perlu ditekankan adalah semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap ijtihad memiliki nilai pahala, dan biarlah Allah yang menjadi penentu kebenaran yang hakiki di akhirat kelak,” kata Mu’ti.
Dalam menjaga keutuhan umat yang diibaratkannya sebagai satu tubuh, Mu’ti turut membagikan tiga kunci kedamaian. Pertama, mengindari sikap elitis yang merasa superior dengan meneladani Nabi Muhammad saw, kedua membersihkan pikiran dan prasangka buruk dan tidak menyibukkan diri mencari kesalahan orang lain, kemudian terakhir, menghidupkan silaturahim yang substantif.
Menurut Mu’ti, silaturahim merupakan satu hal penting yang harus terus dijaga. Bukan sekadar pertemuan fisik, ia berpesan bahwa silaturahim harus menghasilkan upaya tulus untuk mengurai kekusutan dan menyambung kembali tali yang mungkin sempat terputus.
“Kehadiran fisik dalam silaturahim itu membawa energi positif yang membuat umat lebih sehat dan cerdas melalui perbincangan langsung yang lebih hangat,” pungkasnya. (*/tim)
