Ramadan memiliki makna mendalam bagi umat Islam, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Abdul Mu’ti, dalam Tabligh Akbar Hari Bermuhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang, Jawa Tengah, pada Ahad (9/2/2025).
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an dan hadis, Ramadhan dikenal dengan berbagai sebutan yang menggambarkan keutamaannya.
“Salah satunya adalah Syahrur As-shiyam atau bulan puasa. Bahkan, dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan ini lebih sering disebut sebagai “bulan Puasa,” katanya.
Menurut Mu’ti, Ramadan juga disebut sebagai Syahrul Qur’an, karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi umat manusia.
“Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an selama bulan suci ini,” tegas Sekretrais Umum PP Muhammadiyah ini.
Selain itu, Mu’ti menyoroti Ramadan sebagai Syahrus Sadaqah, bulan kepedulian sosial dan berbagi.
Ia menekankan bahwa semangat berbagi meningkat pesat selama Ramadhan, terlihat dari ramainya kotak amal di masjid, pemberian makanan berbuka puasa, hingga berbagai aksi sosial lainnya.
“Di bulan Ramadan, banyak orang yang berlomba-lomba bersedekah, mulai dari menyediakan makanan berbuka hingga sahur,” jelasnya.
Ia juga mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menggambarkan kedermawanan Rasulullah saw, terutama di bulan Ramadan, di mana beliau memberi dengan penuh kelapangan seperti angin yang terus berhembus.
Namun, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa semangat berbagi hendaknya tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan, sebab zakat, infak, dan sedekah bisa ditunaikan kapan saja.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Ramadhan juga dikenal sebagai Syahrut Tarbiyah, bulan pendidikan. Konsep ini dijelaskan dalam Tafsir Al-Amtsal karya Syekh Nasir Makarim Syirazi.
“Puasa adalah sekolah kehidupan yang mendidik manusia agar menjadi pribadi yang bertakwa,” tuturnya.
Menurutnya, manusia terlahir dalam keadaan bersih dan suci. Namun, dalam perjalanannya, banyak yang terjerumus oleh hawa nafsu akibat pengaruh akal dan hati.
“Puasa menjadi sarana latihan spiritual yang membentuk karakter unggul, menumbuhkan empati, serta mengajarkan pengendalian diri menuju pribadi yang lebih baik dan bertakwa,” pungkas dia. (*/tim)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
