Abdul Mu’ti Resmikan SMK Muhammadiyah Belawan dan Tegaskan Tiga Prinsip Penting

Abdul Mu’ti Resmikan SMK Muhammadiyah Belawan dan Tegaskan Tiga Prinsip Penting
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu sejak awal berdirinya telah menjadi pelopor pendidikan modern di Indonesia. Komitmennya terhadap pengembangan sumber daya manusia dan pembentukan karakter bangsa terus diwujudkan melalui lembaga-lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai pelosok negeri.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. dalam sambutannya saat meresmikan sarana pendidikan SMKS Muhammadiyah Belawan dan peletakan batu pertama pembangunan fasilitas pendidikan lainnya di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Cabang Belawan, Medan Sumatera Utara,  Selasa (8/7/2025).

Abdul Mu’ti, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menekankan pentingnya pembaruan dan transformasi pendidikan agar sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak tertinggal di tengah arus perubahan zaman.

Ia mengingatkan kepada seluruh pengelola sekolah Muhammadiyah agar menjauhi tiga hal utama yang menjadi penghambat kemajuan pendidikan, yaitu:

Menghindari konflik internal, yang dapat melemahkan solidaritas dan fokus terhadap pengembangan pendidikan.

Menghindari praktik korupsi, baik dalam pengelolaan dana operasional maupun dalam proses perekrutan tenaga pendidik.

Menghindari sikap kolot atau jumud dalam berpikir, yang menolak inovasi dan pembaruan.

“Sekolah Muhammadiyah ada yang sangat maju hingga menolak pendaftar karena penuh, tapi ada pula yang justru ditolak oleh masyarakat karena tidak relevan lagi. Ini menjadi evaluasi penting. Kita harus giat melakukan pembaruan,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia menjelaskan bahwa pembaruan harus dilakukan secara menyeluruh, meliputi:

  • Pembaruan pemahaman keagamaan, agar ajaran Islam yang diajarkan tetap relevan dan kontekstual dengan kebutuhan zaman.
  • Pembaruan pemikiran (Tajdid al-Fikr), yang membuka ruang berpikir kritis, kreatif, dan progresif bagi peserta didik.
  • Pembaruan gerakan (Tajdid fi al-Harakah), yakni transformasi institusi pendidikan Muhammadiyah menjadi lembaga yang aktif, adaptif, dan ramah terhadap siswa.

Menurutnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah harus mengedepankan budaya penghargaan terhadap siswa. “Sekolah yang menghargai siswa akan mampu melahirkan anak-anak didik yang bermutu dan berkarakter kuat,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menegaskan pentingnya pembangunan karakter sejak dini. Ia mengajak seluruh komponen pendidikan untuk menanamkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai pondasi pembentukan karakter bangsa. Ketujuh kebiasaan itu meliputi:

  • Bangun pagi
  • Beribadah secara rutin
  • Berolahraga
  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi
  • Gemar belajar
  • Aktif bermasyarakat
  • Tidur lebih awal

Ia meyakini bahwa penerapan kebiasaan positif tersebut secara konsisten akan menghasilkan generasi unggul yang siap membangun masa depan bangsa. Hal ini juga sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam Astacita, yang menekankan pentingnya penguatan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dalam konteks peningkatan mutu SDM, terutama bagi para tenaga pendidik, Abdul Mu’ti mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah mendorong pelaksanaan program peningkatan kualitas guru melalui Sistem Recognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini menyasar guru-guru Muhammadiyah yang belum memiliki gelar Diploma 4 (D4) atau Sarjana (S1).

“Tercatat ada sekitar 12.400 guru Muhammadiyah yang belum menyelesaikan pendidikan D4 atau S1. Mereka kini kami fasilitasi untuk menempuh pendidikan lanjutan melalui pendekatan deep learning yang mengintegrasikan pengalaman kerja dan pembelajaran masa lalu,” jelasnya.

Ia berharap melalui program ini, kualitas pengajaran di sekolah-sekolah Muhammadiyah akan semakin meningkat, sekaligus memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai pionir pendidikan yang berkualitas, berkemajuan, dan berkarakter.

“Pendidikan Muhammadiyah tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia, berjiwa sosial, dan siap menghadapi tantangan global,” pungkas Abdul Mu’ti. (amirsyah tambunan)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search