Nama Megawati Hangestri Pertiwi, atlet bola voli profesional putri Indonesia, moncer di Negeri Ginseng Korea Selatan dalam V-League tahun 2023-2025. Ia bermain untuk klub Daejeon CheongKwanJang Red Sparks dan menjadi ikon atlet top dengan penampilan islami, berhijab.
Secara konstitusional, Korea Selatan tidak memiliki agama resmi negara. Negara menjamin pemisahan antara agama dan negara (Jeonggyo bunri). Budaya Korea kental dengan nilai-nilai Konfusianisme (seperti hormat kepada orang tua dan etika kerja) serta tradisi Shamanisme atau percaya pada dukun dan ramalan. Jadi, Megawati sama sekali tidak mengalami tekanan di Korea Selatan dengan jilbab dan jersey olahraganya.
Tetapi dunia olahraga tidak sepenuhnya ramah terhadap penampilan wanita muslimah. Seperti yang dialami Miftahul Jannah, atlet blind judo Indonesia. Dalam gelaran Asian Para Games 2018 di Jakarta, Miftahul memilih mempertahankan jilbabnya, meski dirinya harus didiskualifikasi. Ia dinyatakan kalah setelah menolak melepas hijabnya saat akan bertanding melawan wakil Mongolia, Oyun Gantulga.
Otoritas Judo Internasional tidak memperkenankan atlet yang bertanding memakai jilbab. Statuta untuk tidak memakai penutup kepala pada cabang olahraga judo memang sudah tertera pada peraturan Federasi Internasional Judo (IJF).

Larangan berjilbab juga dialami Sprinter Prancis Sounkamba Sylla pada gelaran Olimpiade Paris 2024. Sylla tidak diizinkan berpartisipasi dalam opening ceremony hanya karena jilbabnya. Tetapi setelah berargumen, akhirnya tercapai sebuah kompromi, Sylla boleh menghadiri opening ceremony dan mengikuti pertandingan dengan syarat ia harus menutupi rambutnya dengan cara yang tidak terlalu terlihat religius.
Atlet lain, Diaba Konate, pemain basket Prancis, juga mengkritik larangan tersebut. Konate mengatakan bahwa ia tidak dapat memperkuat timnas Basket Putri Prancis di ajang Olimpiade Paris 2024, karena ia berjilbab.
“Saya mencintai basket, keluarga, dan agama saya. Akan sangat menyakitkan jika saya harus melepaskan salah satunya. Namun itulah yang dipaksakan oleh Federasi Basket Prancis saat ini kepada saya,” kata Konate dalam pernyataannya.

Pemerintah Prancis memang memberlakukan sejumlah larangan terkait simbol-simbol keagamaan di ruang publik, termasuk larangan penggunaan hijab bagi atlet di ajang olahraga. Tapi anehnya, pada pesta olahraga Olimpiade Paris 2024, larangan penggunaan hijab hanya berlaku bagi atlet Prancis, dan tidak berlaku bagi atlet tamu.
Kesetaraan pada Atlet Muslim
Berbeda dengan Prancis, banyak negara yang melakukan penghormatan dan kesetaraan pada atlet Muslim, khususya cara berpakaian. Penghormatan terhadap atlet Muslim di negara sekuler umumnya didasari oleh prinsip kesetaraan di bawah hukum dan kebebasan beragama, meskipun penerapannya dapat bervariasi. Bentuk-bentuk penghormatan dan pengakuan yang umum meliputi:
Pengakuan Prestasi Olahraga: Atlet Muslim dihormati dan diberi penghargaan atas prestasi dan kontribusi mereka di bidang olahraga, tanpa memandang agama mereka. Contoh ikonik termasuk petinju legendaris Muhammad Ali di Amerika Serikat, atau pemain sepak bola Mohamed Salah di Inggris.
Akomodasi Kebutuhan Agama: Banyak negara sekuler dan badan olahraga internasional (seperti FIFA) telah menyesuaikan aturan untuk mengakomodasi kebutuhan atlet Muslim, seperti mengizinkan penggunaan hijab olahraga yang disetujui atau memberikan fleksibilitas jadwal latihan dan pertandingan selama bulan suci Ramadan.
Kebebasan Berekspresi Identitas Agama: Atlet Muslim diizinkan secara terbuka mempraktikkan keyakinan mereka, seperti berdoa di lapangan atau mengenakan pakaian yang sesuai dengan keyakinan mereka (dalam batasan peraturan olahraga), yang merupakan bagian dari kebebasan sipil.
Perlindungan dari Diskriminasi: Prinsipnya bertujuan untuk mencegah diskriminasi berbasis agama.
Penghormatan tersebut mencerminkan komitmen terhadap hak asasi manusia universal, di mana latar belakang agama tidak menjadi penghalang untuk berpartisipasi penuh dan pengakuan di kancah olahraga. (*)
