Adab Bukan Alat untuk Membungkam Kebenaran

*) Oleh : Syahrul Ramadhan SH, M.Kn, CLQ
Sekretaris LBH AP PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

Dalam tradisi Islam, adab dan ilmu adalah dua pilar utama yang harus berjalan seiring. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan.

Namun sebaliknya, adab yang dijadikan tameng untuk membungkam kebenaran, justru mengingkari esensi ilmu itu sendiri.

Ironisnya, di tengah masyarakat kita hari ini, tak sedikit orang yang secara status adalah senior atau lebih paham agama, tetapi ketika berbuat salah, saat dikritik oleh yang lebih muda, mereka membalas dengan kalimat: “Kamu tidak beradab!”

Apakah benar mengkritik itu selalu tidak beradab? Apakah senior dan orang yang belajar agama tidak bisa dikritik? Di sinilah pentingnya memahami karakteristik adab dari ilmu sebagai penunjuk jalan, bukan pembenar kesewenangan.

1. Ilmu yang Benar Melahirkan Kerendahan Hati

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama…” (QS Fāṭir: 28)

Takut kepada Allah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang benar tidak membuat seseorang membentak ketika dikritik, apalagi jika kritik itu disampaikan dengan adab dan niat tulus untuk kebaikan.

Dalam sejarah Islam, banyak kisah ulama besar yang tidak tersinggung ketika dikritik oleh murid-muridnya. Bahkan, Imam Malik pernah ditegur oleh seorang pemuda dalam majelisnya, dan ia menerimanya dengan penuh kerendahan hati. Karena ilmu sejati tidak menutup hati dari kebenaran, siapa pun yang menyampaikannya.

2. Senioritas Bukan Alasan Membenarkan Kesalahan

Islam tidak mengenal “kasta kebenaran”. Jika suatu perbuatan itu salah menurut syariat, maka tetap salah walaupun dilakukan oleh seorang yang lebih tua atau lebih lama belajar agama.

Rasulullah saw bersabda:

“Tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang dizalimi.”

Para sahabat bertanya: “Kami paham menolong yang dizalimi, lalu bagaimana menolong yang menzalim?”
Rasul menjawab: “Dengan mencegahnya dari kezaliman.” (HR. Bukhari)

Artinya, menegur atau mengkritik kesalahan adalah bentuk menolong, bukan menghina. Bahkan kepada pemimpin zalim pun, Nabi menyebut menegurnya sebagai jihad terbaik:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Lalu mengapa jika yang dikritik adalah senior atau guru agama, kita malah dicap tidak punya adab?

3. Adab dalam Menyampaikan, Lapang Dada dalam Menerima

Dalam Islam, yang muda wajib menjaga akhlak dalam menyampaikan. Jangan dengan nada kasar, menghina, atau mempermalukan. Tetapi yang tua juga wajib rendah hati dalam menerima. Firman Allah:

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, tidaklah mereka bersikap tuli dan buta terhadapnya.” (QS Al-Furqān: 73)

Seorang alim atau senior yang mengamalkan ilmunya akan menerima nasihat walau datang dari orang yang jauh lebih muda.

4. Ketika Adab Dijadikan Tameng Kesombongan

Adab bukan alat untuk melindungi kesalahan. Jika adab dipakai untuk membungkam yang benar, maka itu adalah kezaliman spiritual. Ini mirip dengan kaum munafik zaman Nabi saw yang ketika ditegur mereka berkata:

“Dan apabila dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah’, ia merasa bangga dengan dosanya. Maka cukuplah baginya neraka Jahannam…” (QS Al-Baqarah: 206)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa orang yang tidak mau dinasihati, dan malah menyerang balik, adalah orang yang terjebak dalam kesombongan.

5. Belajar dari Para Sahabat dan Ulama

Dalam majelis Khalifah Umar bin Khattab, seorang perempuan menegur keputusan Umar tentang pembatasan mahar. Umar tidak tersinggung, justru ia berkata: “Perempuan itu benar dan Umar salah.”

Padahal beliau adalah Amirul Mukminin. Maka siapa kita yang merasa terlalu tinggi untuk dikritik?

Ilmu sejati membentuk hati yang lembut dan akhlak yang lapang. Adab sejati bukan pembungkam kebenaran, melainkan sarana menyampaikan kebenaran dengan santun.

Mengkritik kemungkaran bukan berarti tidak beradab, apalagi jika dilakukan dengan adab. Maka siapapun yang mengaku berilmu dan beriman, hendaknya merendah saat ditegur, karena bisa jadi nasihat itu adalah jalan keselamatannya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search