Adu Domba

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Adu domba adalah tindakan menyebarkan berita bohong atau informasi yang tidak benar dengan tujuan memprovokasi permusuhan, kesalahpahaman, atau konflik di antara individu, kelompok, atau bahkan antar-negara. Tindakan ini seringkali untuk keuntungan pribadi atau kekuasaan, yang dikenal juga sebagai namimah atau politik pecah belah (devide et impera).

Perbuatan ini sangat tercela dalam berbagai ajaran dan dapat merusak persaudaraan serta tatanan sosial. Allah Swt berfirman:

وَ لاَ تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَّهِيْنٍ. هَمَّازٍ مَّشَآءٍ بِنَمِيْمٍ. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍ. عُتُلّ بَعْدَ ذلِكَ زَنِيْمٍ. القلم:10-13

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghamcur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya.” [QS. Al-Qalam : 10-13]

Dalam Tafsir Surah Al-Qalam ayat 10-13 ini, Allah mengingatkan dan memerintahkan Nabi Muhammad agar tidak mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah seorang pendusta. Sedangkan dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat.

Karena itu, agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ. (رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي عن أبي هريرة)

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia tidak menepati janjinya, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik. Orang yang tidak baik pikiran dan maksudnya kepada orang lain menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, ia pun bersumpah.

Tidak mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya. Allah berfirman:

وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَاۖ وَلَهٗ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ࣖ  ١٤

“Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. (an-Nisa’(4): 14)

Tidak mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat karena ia adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik.

Perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًاۙ  ١٠٧

Dan janganlah kamu berdebat untuk (membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa. (an-Nisa’[4]: 107)

An-Nisa ayat 107 memerintahkan untuk tidak membela orang yang mengkhianati diri sendiri (berbuat maksiat), karena Allah Swt tidak menyukai orang yang selalu berkhianat dan berdosa, serta mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui segala perbuatan tersembunyi mereka. Ayat ini juga melarang membela pelaku maksiat, terutama orang munafik yang bersembunyi dari manusia namun tidak bisa bersembunyi dari Allah.

عَنْ اَبِى مُوْسَى رض قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ اْلمُسْلِمِيْنَ اَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ اْلمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ. البخارى و مسلم و النسائى

Dari Abu Musa RA, ia berkata : Saya pernah bertanya, “Ya Rasulullah, orang Islam yang bagaimana yang lebih utama?”. Nabi saw menjawab, “Orang yangmana orang-orang Islam yang lain selamat dari perbuatan lisan dan tangannya”. [HR. Bukhari, Muslim dan Nasai]

Seorang Muslim (yang sempurna) adalah letika orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatannya. Kebaikan seorang muslim bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi bagaimana perilakunya memberikan keamanan dan kenyamanan bagi orang lain. Tidak menyakiti dengan kata-kata, tulisan, dan tidak merugikan secara fisik (tidak memukul, tidak merampas, tidak berbuat zalim/ketidakadilan), termasuk dalam konteks medsos  adalah menjaga agar tidak melukai perasaan  orang lain. (*)

Tinggalkan Balasan

Search