Redaktur Pelaksana Majelistabligh.id, Afifun Nidlom, MP,d, MH, mendapat kesempatan menjadi petugas sekaligus jurnalis yang meliput langsung pelaksanaan ibadah haji 2025 di Tanah Suci.
Dalam sebuah video call bersama tim redaksi Majelistabligh.id pada Jumat malam (2/5/2025) pukul 21.00 WIB, Nidlom membagikan berbagai kisah menarik dari balik layar peliputan ibadah rukun Islam kelima itu.
Sebagai jurnalis, Nidlom menjalankan tugas-tugas jurnalistik seperti wawancara, menentukan sudut pandang (angle) pemberitaan, hingga menyusun laporan secara harian.
“Setiap hari kami melakukan rapat koordinasi liputan di pagi hari, dan laporan harus sudah clear pada pukul 23.59 waktu setempat,” ujarnya.
Salah satu titik vital dalam menjalankan tugasnya adalah keberadaan Media Center Haji (MCH) yang menjadi pusat kegiatan kerja seluruh wartawan dan petugas haji. Dari sinilah koordinasi dilakukan, informasi dikumpulkan, dan laporan dikirimkan ke Tanah Air.
“Media center ini sangat membantu. Selain fasilitas lengkap, kami juga disediakan mobil dan sopir untuk mendukung kelancaran liputan ke berbagai lokasi,” kata Nidlom.
Akses terhadap narasumber juga tidak sulit. Doorstop kepada pejabat, termasuk Menteri Agama (Menag) Prof. KH. Nasaruddin Umar, dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Abdul Aziz Ahmad bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.
Sebagai jurnalis yang berada di lapangan, Nidlom juga harus beradaptasi dengan kondisi cuaca ekstrem. Suhu yang tinggi memaksanya untuk menggunakan sun cream secara rutin agar kulit tidak terbakar.
Salah satu pengalaman menarik yang dia bagikan adalah ketika mengunjungi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), sebuah fasilitas khusus untuk jamaah haji Indonesia.

Di sana, ia diperkenalkan dengan berbagai alat bantu kesehatan termasuk lip balm atau pelembap bibir yang disebut-sebut sangat penting untuk menghindari pecah-pecah akibat udara kering.
“Dokternya sampai mendemonstrasikan pemakaian lip balm itu di sekitar mulut. Teman saya, seorang wartawan perempuan, bahkan mempraktikkannya langsung hingga bibirnya tampak merah menyala. Niatnya mau difoto, tapi batal karena malu sendiri,” ujarnya, lalu tertawa.
Soal makanan, Nidlom menyebutkan bahwa menu yang disediakan untuk petugas dan jamaah sangat layak.
“Kami punya tanggung jawab untuk meluruskan informasi. Apalagi jika menyangkut keresahan publik,” tambahnya.
Di era digital ini, kinerja para petugas haji, termasuk wartawan, dievaluasi menggunakan aplikasi khusus yang dikembangkan oleh Kementerian Agama. Melalui aplikasi itu, layanan dapat dinilai secara langsung oleh jamaah maupun pengawas.
“Ini sangat transparan. Setiap petugas bisa melihat bagaimana performanya selama bertugas,” ungkap Nidlom.
Selain menyampaikan informasi faktual, tim peliput juga memiliki tugas untuk menulis berita edukatif. Misalnya, tips berhaji dengan aman dan nyaman, tata cara memakai APD ringan, hingga pentingnya menjaga hidrasi tubuh.
“Kami ingin jamaah tidak hanya menjalankan ibadah dengan khusyuk, tapi juga aman dan teredukasi,” jelas Nidlom.
Dengan semua dinamika itu, hari-hari di Tanah Suci pun ditutup dengan laporan yang harus rampung menjelang tengah malam.
“Pukul 23.59, semua laporan harus sudah masuk ke sistem. Tidak ada toleransi,” katanya tegas.
Dari balik kerja keras dan cerita-cerita lucu itu, Afifun Nidlom dan timnya menunjukkan bahwa peliputan ibadah haji bukan hanya soal menyampaikan berita, tetapi juga tentang dedikasi, ketahanan fisik, dan empati kepada para tamu Allah SWT. (wh)
