Afiliasi Penerbit Muhammadiyah Hadapi Tantangan Global Literasi Budaya

Pembukaan Munas APPTIMA di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara. (ist)
www.majelistabligh.id -

Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APPTIMA) selenggarakan Musyawarah Nasional III di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), 15-17 Januari 2026. Munas dengan tema “Melejitkan Gerakan Literasi untuk Peradaban Utama” itu sekaligus untuk mendorong dan menumbuhkan tradisi literasi dan penerbitan buku.

Munas APPTIMA yang diadakan di dua kota ini, Medan dan Parapat tersebut menyoroti tantangan global literasi budaya. Agar bisa bersaing dalam tantangan global ini, kuncinya adalah membangun sumber daya manusia yang unggul, beretika, dan berdaya saing.

Ketua APPTIMA, Budi Nugroho, mengatakan bahwa Munas APPTIMA kali ini sebagai pemanasan menuju Muktamar Muhammadiyah tahun 2027 yang yang akan datang. Ia berharap APPTIMA ke depan lebih maju dan optimal lagi.

Wakil Rektor I UMSU, Muhammad Arifin, mengajak para penerbit yang tergabung dalam APPTIMA untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersama-sama dalam memajukan PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah) dan persyarikatan Muhammadiyah.

Ia juga menceritakan kancah UMSU dan komitmennya dalam memajukan pendidikan, bangsa dan berperan serius di tingkat internasional. Ia mengingatkan, bahwa sudah saatnya para penerbit memiliki “digital mindset”, di mana ada tren peralihan buku fisik ke bentuk digital, termasuk publikasi-publikasi lainnya, seperti jurnal. Penerbit harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi tantangan ini.

Sementara itu, Wakil Sekretaris I Diktilitbang PP Muhammadiyah, Moh. Mudzakkir menuturkan, tradisi penerbitan menjadi bagian tidak terlepaskan dari perjalanan Muhammadiyah sejak awal lahirnya. Hal ini tercermin dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

“Ada 4 bidang kerja persyarikatan Muhammadiyah di awal berdirinya, salah satunya adalah Majelis Pustaka, yang dahulu namanya Bahagian Pustaka. Wujudnya, dengan berdirinya tabloid Suara Muhammadiyah di tahun 1915 dan bertahan hingga saat ini,” katanya.

Sedangkan alasan Medan dipilih tuan karena memiliki rekam jejak dalam tradisi penerbitan, sejak tahun 1920-an yang saat itu dijuluki Paris van Sumatra. Medan menjadi tempat tujuan industrialisasi, sehingga berkembang pula industri penerbitan.

Dalam rekam jejak Muhammadiyah, Buya HAMKA juga pernah menerbitkan “Pedoman Masyarakat” di kota ini. Ia menekankan bahwa APPTIMA adalah media untuk belajar, sharing knowledge, “ta’awun” (saling menolong). Ia berharap APPTIMA dapat berperan strategis dalam pengembangan keilmuan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search