Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Fathurrahman Kamal, Lc, MSi, menekankan urgensi membangun sistem kebudayaan yang kuat dalam kehidupan beragama.
Menurutnya, budaya memiliki peran penting dalam menjadikan agama lebih hidup, kontekstual, dan menyatu dengan dinamika sosial masyarakat.
“Tanpa kehadiran budaya yang mendalam, agama berisiko berubah menjadi sesuatu yang kaku dan mekanistik. Hanya berupa ritual tanpa makna mendalam yang terintegrasi dalam kehidupan nyata umat,” katanya dalam acara Silaturahmi PWM Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, pada Sabtu (19/4/2025).
Dia menyampaikan kekhawatirannya terhadap praktik keagamaan yang sekadar formalitas. Jika agama Islam dipraktikkan secara kering dan mekanistik, maka yang muncul hanyalah simbol-simbol keagamaan tanpa ruh spiritual dan sosial yang membumi.
Ajaran-ajaran agama tidak mampu menembus lapisan kehidupan sehari-hari umat, karena hanya berhenti pada level permukaan.
Sebagai seorang alumni pendidikan di Arab Saudi, Fathurrahman memiliki pengalaman langsung dalam mengamati bagaimana agama dijalankan di negara tersebut.
Dia mencatat bahwa di wilayah Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, agama sering kali dijalankan dengan pendekatan yang sangat mekanistik dan formal, bahkan sarat dengan intervensi politik. Dalam pandangannya, kesalehan masyarakat di sana sering kali dibentuk atau direkayasa oleh kekuasaan negara.
“Kesalehan yang tampak di ruang publik adalah hasil rekayasa negara. Artinya, itu bukan kesalehan yang muncul secara alamiah dari hati dan kesadaran umat, melainkan karena dorongan struktur politik. Hal ini kemudian dijadikan branding ke dunia internasional seolah-olah itulah wajah Islam yang ideal,” jelasnya.
Fathurrahman kemudian membandingkan pengalaman religiusnya di Arab dengan di Indonesia. Salah satu contoh yang ia angkat adalah perayaan Idulfitri.
Di Indonesia, momen Idulfitri selalu menjadi peristiwa budaya yang meriah dan penuh makna sosial dengan tradisi halalbihalal, saling memaafkan, mudik, dan berbagai kegiatan kekeluargaan yang mengikat batin umat.
Sementara itu, di Arab Saudi dan beberapa negara lainnya, Idulfitri terasa hambar dan nyaris tidak memiliki makna sosial yang kuat.
“Selama empat tahun saya tinggal di Saudi, saya merasakan betapa Idulfitri di sana itu garing, sepi. Tidak ada kehidupan sosial yang menghidupi perayaan tersebut. Beda dengan Iduladha yang ramai karena terkait dengan ibadah haji. Tapi Idulfitri? Tidak terasa ada peristiwa budaya,” ungkapnya.
Dia menegaskan bahwa narasi keagamaan seperti persaudaraan, perdamaian, dan toleransi tidak akan memiliki daya dorong sosial jika tidak ditopang oleh sistem budaya.
Tanpa budaya, agama menjadi statis, tidak menyentuh aspek-aspek emosional dan sosial yang sebenarnya sangat penting dalam membangun harmoni umat.
Sebaliknya, praktik Islam di Indonesia lebih dinamis. Agama tidak hanya dijalankan secara normatif, tetapi juga terintegrasi dalam tradisi dan budaya masyarakat.
Budaya keagamaan seperti peringatan Nuzulul Qur’an, pengajian rutin, tradisi halal bihalal, dan lain sebagainya menjadi sarana untuk mempererat relasi sosial dan memperkuat spiritualitas umat dalam kehidupan sehari-hari.
Sistem budaya inilah yang mencegah agama menjadi mekanistik dan menjadikan Islam hadir sebagai kekuatan sosial yang hidup.
Fathurrahman juga mengingatkan pentingnya menjaga harmoni dalam keberagaman pandangan di tubuh umat Islam.
Dia berpesan agar umat tidak mudah memperuncing perbedaan-perbedaan kecil yang bukan menyangkut perkara pokok (ushul) agama.
Menurutnya, persatuan dan kerukunan umat jauh lebih penting untuk dijaga daripada memperdebatkan hal-hal cabang yang bisa memicu perpecahan.
“Perbedaan itu wajar, bahkan indah. Tapi jika tidak dikelola dengan bijak, justru bisa menjadi bumerang bagi umat sendiri,” pungkasnya.
Dengan demikian, membangun sistem kebudayaan dalam praktik keagamaan bukan hanya soal menjaga tradisi, tapi juga menjadi strategi penting dalam menjaga keutuhan, kedalaman makna, dan kekuatan sosial Islam dalam kehidupan masyarakat modern. (*/wh)
