Bermuhammadiyah bukan sekadar berorganisasi, melainkan proses panjang pembentukan karakter pejuang dakwah: tangguh dalam prinsip, militan dalam nilai, dan kreatif dalam menghadapi medan dakwah yang majemuk dan terus berubah.
Muhammadiyah sejak awal tidak dilahirkan untuk memukul, melainkan merangkul. Dakwahnya tidak bertumpu pada kekerasan simbolik maupun fisik, tetapi pada keteladanan, kecerdasan, dan kesabaran historis. Karena itu, sikap egaliter dan membumi bukan sekadar etika sosial, melainkan watak ideologis gerakan.
Dalam Muhammadiyah, tidak ada taqlid. Yang ada adalah ikhtiar intelektual yang terus diperbarui melalui semangat tajdid. Pemikiran boleh diperdebatkan, dalil boleh diuji, bahkan guru boleh dikritik—selama adab tetap dijaga. Perbedaan pendapat bukan ancaman, tetapi energi pembaruan. Yang ditolak adalah taqlid buta, bukan otoritas keilmuan.
Kritik merupakan bagian inheren dari akhlak bermuhammadiyah. Namun kritik harus diletakkan secara proporsional. Jika menyangkut urusan pribadi, maka adabnya adalah disampaikan secara tertutup. Tetapi jika menyangkut kebijakan publik, apalagi kebijakan organisasi, maka koreksi harus disampaikan secara terbuka. Pemimpin bukan sosok suci yang kebal kritik. Justru pemimpin sejati adalah mereka yang siap dikoreksi dan berlapang dada.
Kritik sekeras apa pun tidak boleh kehilangan bingkai moral:
bil ḥikmah, wal mau‘idhatil ḥasanah, wa jādilhum billatī hiya aḥsan .
Keras dalam substansi, santun dalam cara.
Sering dikutip nasihat Imam Syafi‘i bahwa menasihati di muka umum sama dengan mempermalukan. Nasihat ini lebih tepat ditujukan untuk masyarakat awam, tetapi tidak sepenuhnya berlaku bagi pemimpin publik. Pemimpin adalah teladan. Ketika ia keliru, koreksi terbuka justru diperlukan agar umat tidak mencontoh kesalahan, apalagi membenarkannya secara membabi buta. Menutup kesalahan pemimpin sama dengan membuka jalan bagi kerusakan yang lebih besar.
Jika seseorang tidak siap dikritik di ruang publik, jangan coba-coba menjadi pemimpin. Kepemimpinan adalah amanah berat, bukan panggung kehormatan. Seorang pemimpin seharusnya bersyukur ketika dikritik, sebab kritik adalah bentuk cinta dan perhatian umat, yang justru meringankan hisabnya di yaumul qiyamah.
Kerelaan menerima kritik—bahkan hujatan—dengan sabar dan lapang dada adalah ladang pahala. Kesabaran melayani keluhan umat dapat menggugurkan dosa-dosa kepemimpinan. Dalam perspektif akhlak Islam, kritik bukan ancaman, melainkan anugerah yang menyelamatkan.
Islam juga mengajarkan etika memberi pujian. Pujian dianjurkan, tetapi harus proporsional. Pujian berlebihan justru berbahaya: melahirkan kesombongan, membunuh kejujuran, dan membuka ruang penjilatan yang sarat kepentingan. Nabi mengingatkan, “taburkan pasir kepada orang yang memujimu”, sebagai peringatan agar kita waspada terhadap pujian yang tidak tulus.
Akhlak Muhammadiyah menempatkan pujian secara cukup dan jujur, sebagaimana sunnah Nabi: menguatkan tanpa memabukkan.
Kisah Thaif adalah teladan agung. Nabi Muhammad SAW tidak membalas kekerasan dengan kehancuran, meski Jibril menawarkan. Beliau justru berdoa:
“Allāhummahdī qaumī fa innahum lā ya‘lamūn .”
Hari ini mereka mungkin durhaka, tetapi dari anak keturunannya kelak semoga menjadi para pembela agama ini. Inilah puncak akhlak profetik: kesabaran yang visioner.
Ahmad Dahlan meneladankan akhlak ini dengan nyata. Ancaman, caci maki, bahkan teror pembunuhan tidak menghentikan dakwahnya. Ia melayani umat dengan sabar, bukan karena lemah, tetapi karena yakin pada kebenaran jalan yang ditempuh.
Demikian pula KH. Ahmad Badawi, Kasman Singodimedjo, dan Buya Hamka—mereka memberi teladan bagaimana bersikap kritis terhadap kekuasaan yang mulai menyimpang, tanpa kehilangan martabat dan kehalusan budi.
Ironisnya dalil umat harus sami’na wa atha’na kepada ulil amri/pemimpin sering kali dijadikan dalih untuk membungkan daya kritis umat. Jelas itu adalah sebuah pembodohan terstruktur.
Inilah akhlak ber-Muhammadiyah:
berani tanpa kasar,
kritis tanpa kehilangan adab,
teguh tanpa menjadi beku,
dan setia pada kebenaran, meski harus berjalan sendirian.
Saya jadi ingat pesan Pak Djazman, menghadapi kelompok yang suka main kayu di persyarikatan, kita harus tegas, jangan abu-abu. Kelemahan mendasar kader-kader otentik adalah seringkali terbuai dengan seruan untuk sami’na wa atha’na terhadap pimpinan, sekaligus selalu memilih jalan diam demi menjaga harmoni organisasi. Padahal bisunya sikap kritis itu adalah tanda awal adh’aful iman…
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb .
Ciputat, 3 Sya’ban 1447
Hujan deras penuh berkah
