Aksi Damai Palestina: Seruan Kemanusiaan Melawan Genosida

*) Oleh : Andi Hariyadi
Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi PDM Surabaya
www.majelistabligh.id -

Merebaknya aksi damai kemanusiaan peduli Palestina di berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara, bukanlah sekadar ajang berkumpul dan berorasi. Lebih dari itu, aksi-aksi ini menyentuh akar terdalam dari nilai-nilai kemanusiaan.

Tangis pun tak tertahankan saat menyaksikan kekejaman yang dilakukan tentara Zionis Israel terhadap warga sipil di Gaza, Palestina.

Genosida yang terus berlangsung, menghantam anak-anak, perempuan, hingga lansia tanpa ampun, menjadi cambuk nurani bagi siapa saja yang memiliki rasa kemanusiaan.

Gelombang aksi damai terus bergerak tanpa mengenal lelah. Bagaimana mungkin kita bisa bersantai, tertawa, dan berleha-leha, sementara penderitaan luar biasa dirasakan oleh jutaan warga Palestina setiap detiknya?

Bagaimana bisa kita memalingkan wajah, ketika video-video kekejaman Israel beredar luas, menunjukkan betapa brutalnya agresi militer terhadap rakyat sipil yang tak bersenjata?

Air mata yang tumpah dalam aksi-aksi damai ini bukanlah lambang kelemahan atau keputusasaan. Sebaliknya, itu adalah air mata kemanusiaan yang tulus.

Tetesan air mata itu lahir dari rasa empati yang mendalam ketika nilai-nilai luhur kemanusiaan diinjak-injak oleh kebrutalan tentara Zionis.

Air mata peserta aksi adalah cermin dari duka anak-anak Palestina yang kehilangan orang tua, rumah, dan harapan akan masa depan.

Sebagian dari mereka hidup dengan luka di tubuh dan jiwa, di tengah keterbatasan makanan, obat-obatan, pakaian, dan akses terhadap layanan dasar.

Pada Sabtu (19/4/2025), di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, berlangsung sebuah aksi damai yang menggugah kesadaran.

Aksi ini diinisiasi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya dan melibatkan berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap Palestina.

Ribuan peserta hadir, mengibarkan bendera Palestina dan menggelorakan pekikan “Free Palestine” yang bergema di sepanjang jalan.

Sorak-sorai mereka bukan sekadar suara, melainkan seruan hati yang mengguncang nurani—menuntut keadilan bagi rakyat Palestina dan mengutuk keras segala bentuk kejahatan perang yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, bersama sekutu utamanya, Amerika Serikat.

Kebijakan-kebijakan brutal Israel, termasuk upaya pengusiran paksa warga Gaza dari tanah kelahirannya, adalah bentuk kejahatan kemanusiaan paling keji.

Mereka mengklaim Gaza sebagai wilayah kekuasaan secara sepihak, lalu mendudukinya dengan berbagai cara kejam. Seolah-olah tidak ada ruang bagi warga Palestina untuk hidup, apalagi bermimpi tentang kemerdekaan.

Dalam suasana yang penuh semangat dan haru, doa-doa menggema, orasi-orasi membakar semangat perjuangan. Peserta aksi tidak bergeming, meskipun terik matahari kian menyengat.

Dari Surabaya hingga Blitar, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya, masyarakat datang berbondong-bondong bersama keluarga, meneguhkan solidaritas.

Kehadiran anak-anak dalam aksi ini, dengan hiasan bendera dan stiker Palestina, menjadi pemandangan yang menggetarkan.

Mereka bermain di Taman Apsari, tertawa riang, bermain layang-layang, menikmati makanan ringan—namun di balik itu semua, mereka sedang memberi pesan: “Kami ingin teman-teman kami di Gaza juga bisa merasakan kebahagiaan seperti ini.”

Anak-anak Palestina sangat merindukan keamanan dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka pantas hidup tanpa bayang-bayang drone, ledakan, dan pembantaian.

Tangisan anak-anak Gaza mengajarkan kita bahwa penderitaan mereka bukan sekadar berita atau angka statistik, melainkan tragedi nyata yang harus direspons dengan kepedulian nyata pula.

Kita tidak boleh diam. Diam berarti membiarkan pembantaian berlanjut. Diam berarti membiarkan nilai-nilai kemanusiaan luluh lantak di bawah kebrutalan militer Zionis.

Israel hari ini bukan lagi sebuah entitas politik biasa; mereka berubah menjadi simbol monster haus darah yang menghalalkan segala cara untuk memperluas dominasi atas tanah yang bukan miliknya.

Sejak deklarasi berdirinya pada 1948, sejarah mencatat serangkaian pelanggaran hak asasi manusia, pembantaian massal, penghancuran infrastruktur, serta penyebaran fitnah dan adu domba demi kelanggengan kekuasaan.

Zionis Israel dan sekutunya telah mempertontonkan kepada dunia bentuk paling buruk dari penjajahan modern. Mereka menindas, membunuh, dan mengintimidasi demi memuaskan nafsu serakah.

Mereka menjadikan intoleransi sebagai alat politik, dan kekejaman sebagai jalan mempertahankan klaim. Nilai-nilai kemanusiaan universal yang seharusnya dijunjung tinggi kini hancur lebur karena ambisi kekuasaan yang tak mengenal batas moral.

Tangisan anak-anak yang kelaparan, kedinginan, dan ketakutan di Gaza terus menggema. Suara lirih mereka, meski nyaris tak terdengar karena lemah dan kurang gizi, sesungguhnya membelah langit nurani kita.

Kita yang hidup dalam kenyamanan dan kedamaian, semestinya tidak tinggal diam. Kita wajib peduli, berempati, dan bertindak.

Kesadaran dan kebijaksanaan harus menggerakkan kita untuk mengambil bagian dalam jihad kemanusiaan. Jihad untuk keadilan, perdamaian, dan hak hidup yang setara bagi setiap manusia.

Jangan hanya sibuk dengan kekhusyukan ibadah ritual semata. Kita dituntut untuk menunjukkan kepedulian nyata. Doa harus disertai aksi. Solidaritas harus mewujud dalam dukungan konkret: melalui donasi kemanusiaan, penyebaran informasi yang benar, advokasi diplomatik, hingga tekanan terhadap pemerintah untuk bersikap tegas dalam forum internasional.

Aksi damai ini bukan akhir, melainkan awal dari gerakan kesadaran kolektif yang lebih luas. Tugas kita belum selesai sampai Palestina merdeka, sampai anak-anak Gaza dapat bermain dengan bebas, sampai keadilan ditegakkan, dan penjajahan berakhir.

Hanya dengan semangat kemanusiaan yang tak padam, dunia bisa menjadi tempat yang lebih adil dan layak untuk semua. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search