Himpunan Mahasiswa Muhammadiyah Pecinta Alam Sidoarjo (HIMMPAS) menggelar kegiatan bertajuk Nafas Gunung sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pegunungan. Kegiatan ini difokuskan pada aksi pembersihan sampah dan pemeliharaan kawasan pendakian Gunung Puthuk Gragal, Mojokerto.
Kegiatan Nafas Gunung dilaksanakan selama tiga hari, pada (26-28/12/2025), dengan melibatkan 35 anggota HIMMPAS. Gunung Puthuk Gragal dipilih sebagai lokasi kegiatan lantaran menjadi salah satu destinasi pendakian yang cukup ramai dikunjungi pendaki, khususnya saat musim liburan.
Gunung ini terletak di Desa Cembor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dengan ketinggian sekitar 1.480 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan memiliki jalur pendakian yang masih alami serta karakter medan yang variatif.
Ketua Umum HIMMPAS, Muhammad Zakiy Prabowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran pendaki agar bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan selama pendakian.
“Saat ini masih banyak pendaki yang belum menerapkan prinsip membawa turun kembali sampah mereka. Oleh karena itu, kami ingin memberikan edukasi kepada pendaki untuk sadar akan sampah,” terangnya.

Aksi pembersihan dimulai dari area puncak Gunung Puthuk Gragal hingga ke basecamp pendaftaran. Selama kegiatan berlangsung, anggota HIMMPAS menemukan berbagai jenis sampah, terutama di kawasan puncak. “Sampah yang dikumpulkan didominasi oleh sampah anorganik, seperti kemasan minuman, tisu bekas, bungkus makanan ringan, bungkus permen, serta puntung rokok,” lanjut Zakiy.
Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran pendaki terhadap etika pendakian dan kepedulian terhadap lingkungan. Setelah membersihkan area puncak, kegiatan dilanjutkan ke sejumlah pos pemberhentian, mulai dari Pos 1 hingga Pos 4.
Di Pos 4 yang sering digunakan sebagai lokasi berkemah, selain sampah anorganik juga ditemukan sampah organik berupa kulit buah dan sisa makanan pendaki. “Meskipun sampah organik dapat terurai secara alami, keberadaannya tetap berdampak negatif,” ungkap mahasiswa Prodi Teknik Mesin itu.
Ia mengatakan bahwa sampah organik dapat menimbulkan bau tidak sedap dan mengganggu kenyamanan pendaki lain yang ingin berkemah.
Ketua Pelaksana Nafas Gunung, Alicya Dwi Rahma Putri, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan kebiasaan sederhana namun berdampak besar, yakni tidak meninggalkan apa pun selain jejak dan tidak mengambil apa pun selain foto.
“Kebiasaan tersebut perlu diterapkan oleh setiap pendaki sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian kawasan pegunungan, agar tetap lestari dan nyaman bagi generasi selanjutnya,” jelas Alicya. (cya)
