Al-Qur’an dan Pembentukan Masyarakat Ulil Albab
Ulil albab dimaknai sebagai manusia yang menggunakan kapasitas akal fikirnya, atau dengan kata lain adalah manusia berilmu-pengetahuan. Konsep ini memadukan dua hal dalam diri manusia: fikir dan zikir (Qs.[3]: 190-191). Hal ini patut terus diupayakan guna membangun kembali sebuah peradaban Muslim yang berpengetahuan tinggi seperti yang telah terjadi pada masa keemasan Islam lalu.
Salah satu penyebab kemunduran peradaban Islam adalah ketidakpedulian umat Islam terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, selain adanya dekadensi moral yang menghinggapi umat Islam. Umat Islam menjauh dari gagasan awalnya yaitu ilmu pengetahuan sesuai dengan apa yang diturunkan oleh al-Qur’an. Umat Islam kini lebih mendudukkan al-Qur’an sebatas pada pemahaman & pelaksanaan hukum-hukum syariat dibandingkan dengan pelaksanaan gagasan epistemologi pengetahuan Islam.
Rendahnya kualitas penguasaan ilmu pengetahuan saat ini harus segera diakhiri melalui penguasaan epistemologi al-Qur’an. Gagasan kembali kepada al-Quran harus dimaknai sebagai kembalinya umat Islam terhadap penguasaan ilmu pengetahuan yang tersebar dalam ratusan ayat di dalam Kitab Suci al-Qur’an. Sejatinya umat Islam perlu tampil kembali untuk membahas ayat-ayat pengetahuan yang terdapat di dalam al-Qur’an yang selama ini lebih fokus pada penguasaan & pemahaman ayat-ayat hukum yang tertera di dalamnya.
Al-Qur’an harus menjadi sarana rekonstruksi sosial umat melalui pemahaman atas ayat-ayat ilmu pengetahuan. Fokus menggali sisi ayat-ayat sains dalam al-Qur’an selain juga tetap mempelajari sisi ayat-ayat hukum yang telah dipelajari selama ini. Negara-negara Islam harus memulai melakukan kerjasama serta kolaborasi dalam peningkatan kualitas ilmu pengetahuan & teknologi berbasis sains al-Qur’an.
Ide dan pengembangan ilmu pengetahuan yang mengintegrasikan ayat-ayat sains dengan ilmu pengetahuan moderen sudah harus dilaksanan dalam proses pendidikan di perguruan tinggi Islam khususnya. Pemikiran para filsuf Islam klasik coba untuk diuraikan serta dianalisis kembali dalam konteks terapan pengetahuan moderen kontemporer saat ini. Gagasan polarisasi antara sains moderen dan Islam harus dijauhkan, karena hal inilah yang menjadikan Umat Islam tertinggal dalam penguasaan pengetahuan dan teknologi selama ini.
Tidak hanya konsep integrasi antara ilmu al-Qur’an dan sains moderen, melainkan juga terdapatnya dana untuk mengembangkan research and development bagi pengembangan inovasi teknologi berbasis ilmu sains al-Qur’an. Hal ini sangat penting karena tanpa pendanaan yang cukup dalam penelitian maka pencapaian ilmu dan teknologi berbasis sains al-Qur’an akan sulit tercapai. Penelitian menjadi dasar dari sebuah pengetahuan moderen, untuk itu invensi dan inovasi pengetahuan sains al-Qur’an melalui beragam penelitian wajib dilakukan.
Membangun manusia Islam berpengetahuan bukanlah hal yang tidak mungkin. Bahwa peradaban Islam yang unggul tidak hanya mengutamakan manusia yang berpengetahuan dan menguasai sains teknologi moderen, melainkan juga manusia yang memiliki hati yang selalu dekat dengan Tuhannya. Membangun peradaban ulil-albab bermakna membangun sebuah kepedulian atas penderitaan umat manusia melalui kedekatan kepada Tuhan dengan menerapkan sains dan teknologi moderen.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.” (Qs. Ali Imran [3]: 190-191).
*) Artikel ini tayang di suaramuhammadiyah.id
