Jika seseorang dipilih untuk memikul sebuah amanah, itu berarti Allah menilai ia mampu menjalankannya. Jangan pernah meremehkan kekuatan yang sudah dititipkan dalam dirimu.
Allah telah menitipkan dalam diri setiap manusia kekuatan. Karena itu, tidak patut seseorang meremehkan potensi yang dimilikinya. Setiap ujian yang datang selalu sejalan dengan kemampuan hamba untuk melewatinya.
Ingatlah, ujian hidup terkadang terasa berat dan menggoyahkan. Namun, justru pada titik itulah kekuatan manusia ditempa. Proses ini bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menumbuhkan keteguhan dan kebijaksanaan.
Manusia tidak sedang diuji untuk kalah, melainkan untuk tumbuh lebih kuat. Rasa lelah, luka, dan air mata pada akhirnya akan terbayar, ketika seseorang menyadari betapa jauh langkah yang telah ditempuhnya dalam perjalanan iman dan kehidupan.
Karena itu, jangan berhenti di tengah jalan hanya karena rasa takut. Teruslah percaya, bukan hanya kepada Allah, tetapi juga kepada diri sendiri. Kekuatan terbesar sering kali lahir dari keyakinan yang kokoh kepada-Nya.
Setiap amanah, ujian, atau peran yang Allah titipkan kepada manusia selalu sesuai dengan kapasitas fitrah dan potensi yang dimilikinya. Tidak ada beban yang keliru, tidak ada tanggung jawab yang salah alamat.
Beberapa refleksi yang bisa kita tarik:
* Amanah itu tepat sasaran: Allah menaruh tanggung jawab pada orang yang memang mampu mengembannya, meski kadang kita merasa berat.
* Ujian sebagai penguat: Tanggung jawab seringkali hadir sebagai jalan untuk menumbuhkan kesabaran, keteguhan, dan kedewasaan.
* Fitrah sebagai kompas: Setiap manusia punya bekal unik yaitu: akal, hati, dan potensi, yang membuatnya mampu menjalankan amanah sesuai jalannya.
* Janji Allah itu pasti: Seperti dalam QS. Al-Baqarah 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Makna reflektif
* Tanggung jawab selalu tepat sasaran: Allah menaruh amanah sesuai kapasitas hamba-Nya, tidak pernah salah alamat.
* Kesanggupan sebagai ukuran: Beban hidup, perintah agama, maupun ujian selalu dalam batas kemampuan manusia.
* Doa perlindungan: Ayat ini sekaligus mengajarkan doa agar kita tidak diberi beban yang melampaui kekuatan.
* Kasih sayang Allah: Menunjukkan bahwa tanggung jawab bukan sekadar beban, melainkan jalan menuju rahmat dan pertolongan-Nya.
Ayat lain yang senada
1. QS. Al-Mu’minun (23): 62
وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۖ وَلَدَيْنَا كِتٰبٌ يَّنْطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
“Kami tidak membebani seorang pun, kecuali menurut kesanggupannya. Pada Kami ada suatu catatan yang menuturkan dengan sebenarnya dan mereka tidak dizalimi.”
2. QS. At-Talaq (65): 7
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا ࣖ
“Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan.”
Jadi, pesan utamanya adalah Allah tidak pernah menaruh tanggung jawab di bahu yang salah. Amanah selalu sesuai dengan fitrah dan kapasitas hamba-Nya. (*)
