Berawal dari hobi membuat kerajinan tangan sejak SMA, Titin Ferdiyanti, S.P., alumni Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2017, berhasil mengembangkan bisnis florist yang kini kian dikenal dengan nama Lupy Florist.
Lewat usaha ini, Titin tak hanya menyalurkan kreativitas, tetapi juga membuka lapangan kerja dan terus menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan muda.
Sejak duduk di bangku SMA, Titin sudah gemar membuat kerajinan tangan (crafting). Ketika memasuki masa-masa sibuk kuliah, terutama saat teman-temannya mulai menjalani seminar proposal skripsi, Titin melihat peluang untuk menyalurkan hobi sekaligus memberikan dukungan moril. Ia pun mulai merangkai buket bunga sebagai hadiah untuk teman-temannya.
“Ternyata respons mereka sangat positif. Teman-teman bilang hasil buket saya bagus dan mereka sangat senang menerimanya,” ujar Titin seperti dilansir di laman resmi UMY, pada Jumat (11/7/2025).
Dari sinilah semangat berbisnis Titin kembali tumbuh. Ia kemudian menekuni dunia florist secara lebih serius. Lahir dari momen iseng dan keakraban masa SMA, nama “Lupy” diambil dari sapaan “Selamat pagi, Lup” yang kerap ia dan teman-temannya gunakan di Twitter.
“Lupy jadi simbol cinta dan kenangan yang menyenangkan bagi kami,” tambahnya.
Meski terlihat indah, perjalanan bisnis Lupy Florist tidak selalu berjalan mulus. Tantangan besar sempat dihadapi tak lama setelah pembukaan toko fisik. Ia pernah mengalami kerugian hingga Rp10 juta.
“Baru satu bulan grand opening, saldo tinggal lima juta, lalu malah kena tipu. Rasanya waktu itu ingin menyerah,” kenangnya.
Namun, berkat ketekunan, manajemen yang lebih baik, Lupy Florist berhasil bangkit dan terus berkembang hingga kini.
Titin juga aktif mengembangkan keterampilan florist-nya dengan belajar langsung dari para ahli, termasuk florist senior yang pernah menempuh pelatihan di Korea dan Jepang.
Pengetahuan yang ia peroleh kemudian diturunkan ke tim internal, memastikan standar kualitas terus terjaga.
Titin mengenang masa kuliahnya di Agribisnis UMY dengan penuh kesan. Meski awalnya tidak berencana memilih jurusan tersebut, ia bersyukur karena prodi Agribisnis UMY memberikan banyak fasilitas dan pengalaman praktis.
“Yang paling saya sukai adalah praktikum. Tapi saya menyesal karena tidak ikut lebih banyak kegiatan. Padahal banyak peluang untuk mengasah soft skill di sana,” ungkapnya.
Kepada mahasiswa dan calon alumni, Titin menyampaikan pesan penting agar tidak menunda jika sudah memiliki ketertarikan dalam suatu bidang, terutama dunia bisnis.
“Kalau memang sudah punya minat di dunia bisnis, jangan ditunda. Temukan peluang yang sesuai dengan potensi diri. Jangan sekadar ikut tren, tapi pilih yang benar-benar cocok dengan kita,” pesannya.
Titin juga menekankan pentingnya membangun jejaring, termasuk dengan para alumni.
“Dulu saya kurang banyak bertanya pada alumni. Padahal, banyak dari mereka yang bisa bantu dan berbagi pengalaman. Dunia bisnis terus berubah, jadi kita juga harus terus belajar dan upgrade diri,” tutupnya. (*/tim)
