Anak-anak mungkin akan lupa apa yang ibunya masak saat sahur atau berbuka. Lupa lauk apa yang tersaji di meja setiap hari. Tapi ada satu hal yang biasanya tidak pernah mereka lupa. Wajah ibunya saat Ramadan datang. Apakah ibunya sering marah atau lelah, atau justru menjadi sosok yang lebih tenang dan banyak senyum.
Sejak menjadi ibu, ibadah terbaik kita mungkin bukan hanya tentang rajinnya salat atau banyaknya ayat yang kita baca. Tapi juga tentang sabar yang kita tunjukkan kepada anak-anak setiap hari.
Karena sebagai seorang ibu, dakwah paling nyata bukan hanya lewat kata-kata. Melainkan lewat akhlak yang mereka lihat langsung. Ketika ibu belajar lebih lembut, lebih sabar, dan lebih dekat dengan Allah, di situlah anak-anak perlahan belajar mengenal Tuhannya.
Karena itu jadilah “mushaf yang berjalan” bagi anak-anak kita, agar mereka mengenal Allah. Bukan hanya dari nasihat yang mereka dengar, tetapi dari indahnya akhlak yang mereka lihat setiap hari dari ibunya.
Semoga bermanfaat.
